By: Ryo Potter
Suatu pagi, aku
melintas di sebuah masjid. Kala itu matahari telah setinggi hasta. Aku menghentikan
motorku di depan masjid tersebut. Lalu aku melepas sepatu dan bergegas menuju
tempat wudhu. Kutunaikan sholat empat rokaat sebagai bagian dari ikhtiarku
mencari karunia-Nya. Empat roka’at berlalu dan aku teruskan dengan berdzikir
memohon kemudahan rezeki kepada Alloh SWT.
Sementara aku berdoa,
kudengar sayup-sayup seseorang
meneriakkan sesuatu. “Sol Spaaat….” Begitu bunyi teriakan orang tersebut.
“Soel Spaaaaat….” Kira-kira begitu yang aku dengar. Kemudian aku selesaikan
doaku lalu kuusapkan kedua tanganku ke muka.
Setelah selesai
sholat Dhuha, aku penasaran dengan suara tadi. Orang tersebut masih terus
meneriakkan kata-kata tadi. Apa maksudnya?
Setelah aku cari-cari
tenyata suara itu berasal dari tukang sol sepatu yang biasa berkeliling kampung
untuk menawarkan jasanya. Ketika melintas di depan masjid, orang tersebut
memandangiku sejenak. Lalu dia melangkah menuju ke arahku.
“Permisi, Mas. Numpang
sholat,” kata orang tersebut sambil meletakkan peralatan sol sepatu di
sampingnya.
“Oh, monggo, Pak. Silakan,” jawabku.
Orang tersebut
kemudian pergi mengambil air wudhu dan melaksanakan dua roka’at sholat Dhuha. Diam-diam
aku kagum dengan orang tersebut. Disela-sela pekerjaannya yang menurutku sangat
berat, orang tersebut masih bisa menyempatkan diri untuk mengingat Alloh. Aku pun
tak beranjak dari dudukku di serambi masjid.
“Lho, kok belum pergi,
Mas?” tanya orang tersebut.
“Emm, belum, Pak. Masih
ingin duduk-duduk dulu,” jawabku. “O ya, kalau boleh tahu Bapak tinggal di
mana?” tanyaku sebelum bapak tersebut sempat bicara.
“Dekat sini , Mas. Cuma
di ujung jalan ini ada kompleks kos-kosan. Nah, di situlah saya tinggal,” kata
Bapak tersebut sambil menunjuk kearah ujung jalan.
Dilihat dari
wajahnya, Bapak tersebut kira-kira usia 50an. Kalau dia hanya tinggal di kos,
lantas di mana istri dan anak-anaknya? “Bapak tinggal dengan siapa?” tanyaku
kemudian.
“Saya tinggal bersama
istri dan seorang anak saya, Mas. Kalau siang begini kos-kosan saya tidak ada
orang karena istri saya juga bekerja di Loundry seberang jalan, sedangkan anak
saya pergi ke sekolah,” papar Bapak tersebut.
“Bapak sudah berapa
lama bekerja? Kenapa Bapak memilih kerja di sini?” tanyaku kembali.
Bapak tersebut tidak
langsung menjawab. Dia menerawang jauh ke depan. “Saya sudah hampir sepuluh
tahun di sini, Mas. Semenjak menikah saya dan istri saya langsung merantau ke
sini,” jawab bapak tersebut masih terus menerawang, seakan dia membayangkan
masa lalunya. “Kami tidak punya pilihan lain, Mas. Ketrampilan seperti ini
tidak laris kalau hanya di kampung,” lanjutnya.
“Kalau di sini
mendingan, Mas. Sehari saya bisa ngesol
dua atau tiga pasang sepatu. Di kampung, paling cuma empat pasang. Itu saja
dalam seminggu,” kata bapak tersebut meneruskan.
“Biaya sol berapa
untuk sepasang, Pak?” tanyaku kemudian.
“Ya tergantung, Mas. Kalau
biasa Rp 5.000, kalau sulit ya paling Rp 10.000.” jawabnya.
Berarti jika
rata-rata bapak tersebut dapat dua sampai tiga pasang, maka penghasilannya antara
Rp 10.000-Rp 20.000. Kecil sekali ukuran penghasilan orang yang tinggal di
kota. Masih harus membiayai kos-kosan dan biaya hidup keluarga serta biaya
sekolah anaknya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bapak tersebut bisa
bertahan di tengah keadaan ekonomi bangsa ini yang kian sulit.
“Memang hasilnya tak
seberapa, tapi saya harus tetap bekerja, Mas. Karena memang hidup ini harus
terus dijalani dan harus di perjuangkan,” kata bapak tersebut. Aku termenung
dengan kata-kata bapak itu.
“Sudah dulu ya, Mas. Saya
mau melanjutkan pekerjaan saya. Mumpung masih pagi,” kata bapak itu
mengagetkanku. “Monggo,” lanjutnya.
Aku masih termenung
memikirkan kata-kata orang tersebut. Hidup ini harus dijalani dan
diperjuangkan. Kata-kata it terus terngiang di benakku.
“Soel spaaaat…..”
bapak tersebut mulai meneriakkan kata itu lagi. “Soel spaaat…” terus begitu
hingga akhirnya lenyap di sela-sela perumahan kota yang sesak.
Ya. Hidup ini harus
terus dijalani karena memang hidup ini adalah perjuangan.
Kata-kata bapak
tersebut telah memberikan suntikan semangat ke dalam jiwaku. Lalu kulangkahkan
kakiku menuju motorku dan kunyalakan. Lalu aku bertekad akan terus memperjuankan
hidup ini. Kujalankan motorku dan siap untuk bekerja menjemput karunua-Nya.
Jogja, 4 April 2013

Siip2...LANJUTKAN!!!
ReplyDeleteemang SBY??
Delete