Ada beberapa hal menarik dari mahasiswa di Jogja.
Kebanyakan orang mengkategorikan mahasiswa menjadi tiga tipe, akademis,
aktivis, dan akademis-aktivis. Mahasiswa akademis adalah mereka yang
menfokuskan diri pada aktifitas akademisnya. Aktifitas utamanya adalah kuliah.
Lalu pulang ke kos dan kuliah lagi. Sehingga orang biasa menyebut mereka
mahasiswa “kupu-kupu” yaitu “kuliah pulang-kuliah pulang”. Mahasiswa seperti
ini kebanyakan memiliki Indeks Prestasi (IP) yang relative tinggi. Meskipun
demikian tak menutup kemungkinan banyak juga memiliki IP yang biasa-biasa saja.
Berbeda dengan mahasiswa akademis, mahasiswa aktivis lebih
menyibukkan dirinya pada kegiatan luar kampus. Kegiatan mereka bisa berupa
organisasi kampus, UKM, lembaga sosial, dan aktifitas lainnya. Mahasiswa tipe
seperti ini umumnya memiliki kecakapan yang tinggi, relasi yang banyak,
jaringan yang luas, dan memiliki leadership yang mumpuni. Mereka jarang di kos.
Bahkan mereka jarang kuliah. Mereka lebih sering menghabiskan waktunya untuk
berkumpul bersama teman-teman organisasinya. Sehingga studi mereka menjadi
terbengkalai.
Nah, tipe yang ketiga ini merupakan gabungan dari keduanya;
akademis dan aktivis. Mahasiswa tipe ini dianggap mahasiswa ideal dan cenderung
memiliki kemampuan akademis yang cukup tinggi sehingga sangat memperhatikan IP.
Mereka juga aktif di kegiatan luar kampus. Mereka mampu menyeimbangkan
aktifitas mereka untuk keduanya. Mereka
juga memiliki skala prioritas untuk setiap aktivitasnya. Mana yang harus mereka
utamakan untuk dilakukan. Mereka berambisi mendapat IP yang tinngi dengan bekal
organisasi yang cukup.
Tapi ada satu lagi tipe yang menarik dari mahasiswa di
Jogja, yaitu mahasiswa aktivis masjid. Tak bisa disangkal lagi bahwa banyak
mahasiswa Jogja yang tinggal di masjid. Namun siapakah sebenarnya mereka?
Mereka tinggal di masjid. Mereka menjaga masjid. Mereka mengurusi masjid.
Mereka menjaga kebersihan masjid. Mereka memakmurkan masjid. Mereka mengadakan
majelis-majelis pengajian untuk mesyarakat di sekitar masjid. Dan yang paling
penting, mereka mencetak generasi-generasi Qurani calon penerus perjuangan Nabi
Muhammad SAW. Ya,mereka mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak. Mereka
mendirikan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA).
Lalu apa yang istimewa dari mereka? Mungkin dibandingkan
dengan dua tipe pertama, mereka masih kalah populer. Mereka juga tidak
se”perfect” mahsiswa akademis-aktivis. Ingat, salah satu dari Tri Dharma
Perguruan Tinggi adalah “Pengabdian”. Salah satu realisasinya adalah
pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tapi aktivis masjid tak perlu menunggu
masa KKN tiba. Mereka telah mengabdikan diri kepada masyarakat bahkan jauh
sebelum KKN dilaksanakan. Mereka telah berbaur dengan masyarakat ketika tinggal
di masjid. Mereka membuat program kegiatan masjid, pengajian ibu-ibu, dan
kajian keislaman. Mereka mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak. Secara
informal mereka telah melakukan KKN.
Namun demikian, berapa dari mahasiswa di Jogja ini yang
telah menyadari akan hal ini? Berapa banyak mahasiswa yang mau tinggal di
masjid? Berapa mahasiswa yang peduli dengan masyarakat di mana mereka belajar?
Berapa mahasiswa yang peduli dengan anak-anak yang saat ini telah tejebak dalam
pergaulan bebas? Anak-anak yang telah terjauhkan dari kitab mereka sendiri, Al
Qur’an. Lalu apa gunanya mereka belajar, mendapat IP tinggi dan memiliki
pengalaman organisasi yang bagus? Bahkan banyak mahasiswa di Jogja ini yang
belajar agama, di universitas Islam yang ternama. Namun di samping kos-kosan
mereka banyak terdapat anak-anak yang memilih mendengarkan musik ketimbang
membaca Al Qur’an. Apakah ini yang dinamakan “pengabdian”?
Jogja, 3 April 2013

No comments:
Post a Comment