Wednesday, April 3, 2013

Mahasiswa dan Pengabdian



By: Ryo Potter

Ada beberapa hal menarik dari mahasiswa di Jogja. Kebanyakan orang mengkategorikan mahasiswa menjadi tiga tipe, akademis, aktivis, dan akademis-aktivis. Mahasiswa akademis adalah mereka yang menfokuskan diri pada aktifitas akademisnya. Aktifitas utamanya adalah kuliah. Lalu pulang ke kos dan kuliah lagi. Sehingga orang biasa menyebut mereka mahasiswa “kupu-kupu” yaitu “kuliah pulang-kuliah pulang”. Mahasiswa seperti ini kebanyakan memiliki Indeks Prestasi (IP) yang relative tinggi. Meskipun demikian tak menutup kemungkinan banyak juga memiliki IP yang biasa-biasa saja.
Berbeda dengan mahasiswa akademis, mahasiswa aktivis lebih menyibukkan dirinya pada kegiatan luar kampus. Kegiatan mereka bisa berupa organisasi kampus, UKM, lembaga sosial, dan aktifitas lainnya. Mahasiswa tipe seperti ini umumnya memiliki kecakapan yang tinggi, relasi yang banyak, jaringan yang luas, dan memiliki leadership yang mumpuni. Mereka jarang di kos. Bahkan mereka jarang kuliah. Mereka lebih sering menghabiskan waktunya untuk berkumpul bersama teman-teman organisasinya. Sehingga studi mereka menjadi terbengkalai.
Nah, tipe yang ketiga ini merupakan gabungan dari keduanya; akademis dan aktivis. Mahasiswa tipe ini dianggap mahasiswa ideal dan cenderung memiliki kemampuan akademis yang cukup tinggi sehingga sangat memperhatikan IP. Mereka juga aktif di kegiatan luar kampus. Mereka mampu menyeimbangkan aktifitas mereka untuk keduanya.  Mereka juga memiliki skala prioritas untuk setiap aktivitasnya. Mana yang harus mereka utamakan untuk dilakukan. Mereka berambisi mendapat IP yang tinngi dengan bekal organisasi yang cukup.
Tapi ada satu lagi tipe yang menarik dari mahasiswa di Jogja, yaitu mahasiswa aktivis masjid. Tak bisa disangkal lagi bahwa banyak mahasiswa Jogja yang tinggal di masjid. Namun siapakah sebenarnya mereka? Mereka tinggal di masjid. Mereka menjaga masjid. Mereka mengurusi masjid. Mereka menjaga kebersihan masjid. Mereka memakmurkan masjid. Mereka mengadakan majelis-majelis pengajian untuk mesyarakat di sekitar masjid. Dan yang paling penting, mereka mencetak generasi-generasi Qurani calon penerus perjuangan Nabi Muhammad SAW. Ya,mereka mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak. Mereka mendirikan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA).
Lalu apa yang istimewa dari mereka? Mungkin dibandingkan dengan dua tipe pertama, mereka masih kalah populer. Mereka juga tidak se”perfect” mahsiswa akademis-aktivis. Ingat, salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah “Pengabdian”. Salah satu realisasinya adalah pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tapi aktivis masjid tak perlu menunggu masa KKN tiba. Mereka telah mengabdikan diri kepada masyarakat bahkan jauh sebelum KKN dilaksanakan. Mereka telah berbaur dengan masyarakat ketika tinggal di masjid. Mereka membuat program kegiatan masjid, pengajian ibu-ibu, dan kajian keislaman. Mereka mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak. Secara informal mereka telah melakukan KKN.
Namun demikian, berapa dari mahasiswa di Jogja ini yang telah menyadari akan hal ini? Berapa banyak mahasiswa yang mau tinggal di masjid? Berapa mahasiswa yang peduli dengan masyarakat di mana mereka belajar? Berapa mahasiswa yang peduli dengan anak-anak yang saat ini telah tejebak dalam pergaulan bebas? Anak-anak yang telah terjauhkan dari kitab mereka sendiri, Al Qur’an. Lalu apa gunanya mereka belajar, mendapat IP tinggi dan memiliki pengalaman organisasi yang bagus? Bahkan banyak mahasiswa di Jogja ini yang belajar agama, di universitas Islam yang ternama. Namun di samping kos-kosan mereka banyak terdapat anak-anak yang memilih mendengarkan musik ketimbang membaca Al Qur’an. Apakah ini yang dinamakan “pengabdian”?
Jogja, 3 April 2013

No comments:

Post a Comment