Sunday, December 22, 2013

Terimakasih Guru



 
By: Ryo Potter

Usai sudah tugasku di SD Muhammadiyah Kadisoka tahun ini. Usai pula bertemu dengan anak-anak yang imut-mut. Wajah mereka lah yang selama ini membuatku rajin ke sekolah ini. Ingin rasanya terus mengajar mereka. Melihat mereka tumbuh. Sungguh pengalaman yang tiada duanya.
Akan tetapi, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Ya, kemarin adalah hari perpisahan kami. Ditandai dengan acara Wisuda Iqro Kelas 1. Rangkaian acaranya pun sangat meriah. Mulai dari pembacaan tilawah oleh 2 siswa-siswi terbaik, yang dilanjutkan dengan pembacaan terjemahannya ke dalam tiga bahasa, Indonesia, Inggris, dan Jawa. Akulah penanggung jawab dari kelima anak ini. Jika dipikir-pikir, aku sendiri kagum dengan mereka. Di usia yang masih belia, mereka telah mampu membaca Al Qur'an. Bahkan, salah satu orang tua mereka berkata bahwa anaknya telah khatam tiga kali, Subhanalloh. Maka, bocah ini pun layak mendapat hadiah sebagai siswa terbaik untuk angkatan 2013.

Selain itu, masih ada beberapa unjuk kebolehan siswa dalam mengaji. Antara lain, hafalan surat-surat pendek, hafalan doa sehari-hari, hafalan hadits, pembacaan ikrar santri, serta tari-tari. Sedangkan acara yang paling ditunggu adalah menyanyi. Mereka pun membawakan tiga buah lagu yang dipersembahkan untuk guru-guru mereka, termasuk aku. Ketiga lagu tersebut diiringi dengan baik oleh Pak Imam, sang guru musik.
Salah satu syair lagu tersebut lah yang membuatku teringat terus akan mereka. Teringat betapa besar jasa seorang guru. Berikut syairnya:
Kita jadi bisa menulis dan membaca, karena siapa?
Kita jadi tahu beraneka ragam ilmu, karena siapa?
Kita jadi bisa, dibimbing Pak Guru.
Kita jadi tahu, dibimbing Bu Guru.
Guru bak pelita penerang dalam gulita.
Jasamu tiada tara.
Jasa guru memang tiada tara. Patutlah mereka mendapat gelar "Pahlawan tanpa tanda jasa". Ya, mereka adalah pahlawan. Mereka lah yang telah menjadikan kita seperti sekarang ini. Kini aku juga merasakan menjadi seperti mereka. Hanya ucapan terimakasih yang bisa aku sampaikan. Terimaksaih Guru.

Monday, December 16, 2013

Biasa itu Luar Biasa (Refleksi Euforia Kelulusan)




Meski sudah berlalu, tentu sebagian orang masih larut dalam pesta kelulusan. Bagi yang sudah melewati masa-masa itu, tentu masih ingat euforia itu. Diantaranya foto bersama, saling berjabat tangan dan berpelukan, serta ucapan selamat yang datang silih berganti dari sahabat, keluarga dan orang-orang yang ikut berbahagia dengan kelulusan. Beberapa di antara mereka ada pula yang mendapat bunga. Semua itu merupakan pertanda bahwa momen ini adalah momen spesial dalam hidup. Meskipun sebenarnya masih banyak momen selain itu yang jauh lebih berkesan.
Persiapan sebelum pesta kelulusan ini juga menjadi bagian tak terpisahkan. Mulai dari kostum apa yang akan dipakai saat acara berlangsung, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bagi laki-laki mungkin tak terlalu repot memikirkan persiapannya. Cukup dengan kemeja putih, celana hitam, dasi dan jas (jika perlu). Serta sedikit memoles wajah dan rambut. Lelaki memang simpel, begitu kata orang-orang.
Sebaliknya, bagi perempuan, persiapan tersebut amat begitu penting. Mulai dari tipe kerudung yang akan dipakai, baju, sepatu, dan yang pasti make up. Untuk yang terakhir ini adalah yang paling memakan banyak waktu. Bahkan menurut pengakuan bebarapa wisudawati, mereka harus mengantri dari subuh untuk sesuatu yang dalam agama pun tidak dianjurkan sama sekali. Wanita cenderung ribet. Itulah sebagian besar pendapat mengenai makhluk yang bernama wanita.
Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk suatu momen yang luar biasa, harus disiapkan sesempurna mungkin. Apakah memang harus demikian? Apakah memang harus keluarga besar ikut serta?apakah memang harus foto-foto dengan latar belakang setumpuk buku? Apakah harus berdandan sedemikian lengkap? Apakah memang harus bersolek?
Mengambil ibroh atau pelajaran dari setiap peristiwa yang dialami adalah jauh lebih penting dari semua hal di atas. Mungkin salah satunya adalah kesederhanaan. Ya, bagi intelektual muslim tentu telah belajar banyak dari nash-nash mengenai pentingnya kesederhanaan, menghindari sifat berlebihan, serta mengambil pelajaran dari setiap drama dalam kehidupan. Kesederhanaan tentunya juga akan membuat seseorang tak harus repot-repot mengantri dari subuh. Yang terpenting adalah akan jadi apa setelah kelulusan itu berlalu, apa yang bisa diberikan dengan gelar kesarjanaan itu, dan kontribusi apa yang telah diberikan selama menempuh titel tersebut. Maka, jika dapat mengorientasikan hal-hal di atas, euforia kelulusan tak harus berlebihan. Menjadikan momen tersebut biasa saja, itu yang justru luar biasa. Jadi benarlah kata orang bijak, bahwa ‘biasa itu luar biasa’.
Terlepas dari itu semua, ucapan selamat tetap harus diberikan kepada mereka. Bagaimanapun juga, proses menuju kelulusan sangatlah tidak mudah. Harus melalui jalan yang berlika-liku. Ucapan selamat, jabat tangan erat, pelukan hangat, dan sekuntum bunga menjadi sesuatu yang luar biasa dalam momen yang luar biasa tersebut. Selamat bagi teman-teman yang telah berhasil menyelesaikan studinya. Semoga ilmunya bermanfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Semoga dengan ini semua, masa depan yang lebih cerah kan tergapai. Amin.

Monday, December 9, 2013

Dipaksa atau Terpaksa



Pernahkah ka kehilangan barang-barang berharga? Atau dompetmu kecolongan? Apa yang kamu rasakan saat itu? Marah? Jengkel? Menyesal? Yah kira-kira seperti itu yang dirasakan ketika kita kehilangan sesuatu yang menurut kita sangat berharga.
Hal itulah yang aku rasakan beberapa hari ini. Pertama, aku mendapat amanah berupa amplop berisi uang Rp 50.000 dari salah satu wali santri di TPA untuk membayar SPP. Rencananya uang tersebut akan aku berikan kepada bendaharaku lusa. Akan tetapi, belum sempat aku berikan, uang tersebut raib. Aku pun harus menggantinya dengan uangku sendiri. Untung saat itu Alloh memberiku rizki-Nya melalui salah satu santriku. Sehingga bisa aku pakai untuk mengganti kehilangan tersebut.
Empat hari kemudian, aku teringat bahwa aku diberi amanah oleh Pak Kepala Takmir masjid tempat aku tinggal. Beliau meitipkan uang sebesar RP 150.000 untuk diberikan kepada dua santri yag berhak menerimanya. Uang itu pun aku bagi dua, yang Rp 75.000 aku berikan ke Mbak Yuni, sebagai bendaharaku agar diberikan kepada satri putri. Sedangkan yang Rp 75.000 aku simpan untuk kemudian akan aku berikan kepada salah satu santri putra. Namun, siapa sangka, uang itu pun juga hilang di tempat yang sama, yaitu di dalam almariku. Sejenak aku berfikir, jangan-jangan uang tersebut sebenarnya hilang bersama dengan uang yang kemarin? Aku belum yakin, namun yang pasti, lagi-lagi aku harus menggantinya dengan uangku sendiri. Untungnya, beberapa hari yang lalu aku dapat rizki dari Alloh yang dititipkan melalui tetanggaku sebagai imbalan karena aku telah mencarikan laptop untuk anaknya.
Saat pertama aku mengetahui bahwa uang tersebut hilang, tentu aku marah. Kurang ajar sekali malingnya mencuri uang yang sedianya untuk dakwah. Dan yang lebih kurang ajar ia juga mencuri uang untuk anak yatim. Aku juga menyesali mengapa harus hilang, sehingga mau tak mau aku yang harus menggantinya?
Itu dulu. Sekarang, ketika telah menyadari bahwa tiada satu pun yang terjadi di dunia ini tanpa kehendak-Nya. Lalu aku flashback. Selama ini aku jarang sekali bershodaqoh. Bahkan untuk sekali dalam semminggu pun, ketika sholat Jum’at, aku jarang infak. Apakah ini teguran dari Alloh? Apapun itu, aku yakin ini semua telah diatur oleh-Nya. Ini bisa dibilang “dipaksa” bershodaqoh. Ya. Dia telah menganugrahkan rizkinya namun aku lalai untuk menginfakkan sebagiannya. Untuk itulah melalui kejadian ini Dia berusaha “memaksa”ku untuk bershodaqoh.
Hal ini tentu berbeda dengan perasaanku saat pertama kali mengetahui uang tersebut hilang. Seakan aku ‘terpaksa’ mengganti uang tersebut sebagai bentuk tanggung jawab karena telah menghilangkannya. Namun berbeda kondisinya ketika aku menyadari bahwa ini adalah teguran dari Alloh. Dan, begitulah, aku menganggap kejadian ini sebagai tanda bahwa aku telah ‘dipaksa’ untuk bershodaqoh.
Semoga ini menjadi pelajaran buatku dan buat siapa saja yang merasa telah ‘dipaksa’ oleh Alloh untuk bershodaqoh. Semoga kita tak lagi menganggapnya sebagaimpaksaan, hingga kita ‘terpaksa’ bershodaqoh. Semoga kita dijauhkan dari sifat itu. Amin.
Jogja, 9 Desember 2013