Pernahkah ka kehilangan barang-barang berharga? Atau dompetmu kecolongan? Apa
yang kamu rasakan saat itu? Marah? Jengkel? Menyesal? Yah kira-kira seperti itu
yang dirasakan ketika kita kehilangan sesuatu yang menurut kita sangat berharga.
Hal itulah yang aku rasakan beberapa hari ini. Pertama, aku mendapat amanah
berupa amplop berisi uang Rp 50.000 dari salah satu wali santri di TPA untuk membayar
SPP. Rencananya uang tersebut akan aku berikan kepada bendaharaku lusa. Akan tetapi,
belum sempat aku berikan, uang tersebut raib. Aku pun harus menggantinya dengan
uangku sendiri. Untung saat itu Alloh memberiku rizki-Nya melalui salah satu
santriku. Sehingga bisa aku pakai untuk mengganti kehilangan tersebut.
Empat hari kemudian, aku teringat bahwa aku diberi amanah oleh Pak Kepala
Takmir masjid tempat aku tinggal. Beliau meitipkan uang sebesar RP 150.000
untuk diberikan kepada dua santri yag berhak menerimanya. Uang itu pun aku bagi
dua, yang Rp 75.000 aku berikan ke Mbak Yuni, sebagai bendaharaku agar
diberikan kepada satri putri. Sedangkan yang Rp 75.000 aku simpan untuk
kemudian akan aku berikan kepada salah satu santri putra. Namun, siapa sangka,
uang itu pun juga hilang di tempat yang sama, yaitu di dalam almariku. Sejenak aku
berfikir, jangan-jangan uang tersebut sebenarnya hilang bersama dengan uang
yang kemarin? Aku belum yakin, namun yang pasti, lagi-lagi aku harus
menggantinya dengan uangku sendiri. Untungnya, beberapa hari yang lalu aku
dapat rizki dari Alloh yang dititipkan melalui tetanggaku sebagai imbalan
karena aku telah mencarikan laptop untuk anaknya.
Saat pertama aku mengetahui bahwa uang tersebut hilang, tentu aku marah. Kurang
ajar sekali malingnya mencuri uang yang sedianya untuk dakwah. Dan yang lebih kurang
ajar ia juga mencuri uang untuk anak yatim. Aku juga menyesali mengapa harus
hilang, sehingga mau tak mau aku yang harus menggantinya?
Itu dulu. Sekarang, ketika telah menyadari bahwa tiada satu pun yang
terjadi di dunia ini tanpa kehendak-Nya. Lalu aku flashback. Selama ini aku
jarang sekali bershodaqoh. Bahkan untuk sekali dalam semminggu pun, ketika
sholat Jum’at, aku jarang infak. Apakah ini teguran dari Alloh? Apapun itu, aku
yakin ini semua telah diatur oleh-Nya. Ini bisa dibilang “dipaksa” bershodaqoh.
Ya. Dia telah menganugrahkan rizkinya namun aku lalai untuk menginfakkan
sebagiannya. Untuk itulah melalui kejadian ini Dia berusaha “memaksa”ku untuk
bershodaqoh.
Hal ini tentu berbeda dengan perasaanku saat pertama kali mengetahui uang
tersebut hilang. Seakan aku ‘terpaksa’ mengganti uang tersebut sebagai bentuk
tanggung jawab karena telah menghilangkannya. Namun berbeda kondisinya ketika
aku menyadari bahwa ini adalah teguran dari Alloh. Dan, begitulah, aku
menganggap kejadian ini sebagai tanda bahwa aku telah ‘dipaksa’ untuk
bershodaqoh.
Semoga ini menjadi pelajaran buatku dan buat siapa saja yang merasa telah ‘dipaksa’
oleh Alloh untuk bershodaqoh. Semoga kita tak lagi menganggapnya
sebagaimpaksaan, hingga kita ‘terpaksa’ bershodaqoh. Semoga kita dijauhkan dari
sifat itu. Amin.
Jogja, 9 Desember 2013
No comments:
Post a Comment