Monday, December 9, 2013

Dipaksa atau Terpaksa



Pernahkah ka kehilangan barang-barang berharga? Atau dompetmu kecolongan? Apa yang kamu rasakan saat itu? Marah? Jengkel? Menyesal? Yah kira-kira seperti itu yang dirasakan ketika kita kehilangan sesuatu yang menurut kita sangat berharga.
Hal itulah yang aku rasakan beberapa hari ini. Pertama, aku mendapat amanah berupa amplop berisi uang Rp 50.000 dari salah satu wali santri di TPA untuk membayar SPP. Rencananya uang tersebut akan aku berikan kepada bendaharaku lusa. Akan tetapi, belum sempat aku berikan, uang tersebut raib. Aku pun harus menggantinya dengan uangku sendiri. Untung saat itu Alloh memberiku rizki-Nya melalui salah satu santriku. Sehingga bisa aku pakai untuk mengganti kehilangan tersebut.
Empat hari kemudian, aku teringat bahwa aku diberi amanah oleh Pak Kepala Takmir masjid tempat aku tinggal. Beliau meitipkan uang sebesar RP 150.000 untuk diberikan kepada dua santri yag berhak menerimanya. Uang itu pun aku bagi dua, yang Rp 75.000 aku berikan ke Mbak Yuni, sebagai bendaharaku agar diberikan kepada satri putri. Sedangkan yang Rp 75.000 aku simpan untuk kemudian akan aku berikan kepada salah satu santri putra. Namun, siapa sangka, uang itu pun juga hilang di tempat yang sama, yaitu di dalam almariku. Sejenak aku berfikir, jangan-jangan uang tersebut sebenarnya hilang bersama dengan uang yang kemarin? Aku belum yakin, namun yang pasti, lagi-lagi aku harus menggantinya dengan uangku sendiri. Untungnya, beberapa hari yang lalu aku dapat rizki dari Alloh yang dititipkan melalui tetanggaku sebagai imbalan karena aku telah mencarikan laptop untuk anaknya.
Saat pertama aku mengetahui bahwa uang tersebut hilang, tentu aku marah. Kurang ajar sekali malingnya mencuri uang yang sedianya untuk dakwah. Dan yang lebih kurang ajar ia juga mencuri uang untuk anak yatim. Aku juga menyesali mengapa harus hilang, sehingga mau tak mau aku yang harus menggantinya?
Itu dulu. Sekarang, ketika telah menyadari bahwa tiada satu pun yang terjadi di dunia ini tanpa kehendak-Nya. Lalu aku flashback. Selama ini aku jarang sekali bershodaqoh. Bahkan untuk sekali dalam semminggu pun, ketika sholat Jum’at, aku jarang infak. Apakah ini teguran dari Alloh? Apapun itu, aku yakin ini semua telah diatur oleh-Nya. Ini bisa dibilang “dipaksa” bershodaqoh. Ya. Dia telah menganugrahkan rizkinya namun aku lalai untuk menginfakkan sebagiannya. Untuk itulah melalui kejadian ini Dia berusaha “memaksa”ku untuk bershodaqoh.
Hal ini tentu berbeda dengan perasaanku saat pertama kali mengetahui uang tersebut hilang. Seakan aku ‘terpaksa’ mengganti uang tersebut sebagai bentuk tanggung jawab karena telah menghilangkannya. Namun berbeda kondisinya ketika aku menyadari bahwa ini adalah teguran dari Alloh. Dan, begitulah, aku menganggap kejadian ini sebagai tanda bahwa aku telah ‘dipaksa’ untuk bershodaqoh.
Semoga ini menjadi pelajaran buatku dan buat siapa saja yang merasa telah ‘dipaksa’ oleh Alloh untuk bershodaqoh. Semoga kita tak lagi menganggapnya sebagaimpaksaan, hingga kita ‘terpaksa’ bershodaqoh. Semoga kita dijauhkan dari sifat itu. Amin.
Jogja, 9 Desember 2013

No comments:

Post a Comment