Meski
sudah berlalu, tentu sebagian orang
masih larut
dalam pesta
kelulusan. Bagi yang sudah melewati masa-masa itu, tentu masih ingat euforia itu. Diantaranya foto bersama, saling berjabat tangan dan berpelukan,
serta ucapan selamat yang datang silih berganti dari sahabat, keluarga dan
orang-orang yang ikut berbahagia dengan kelulusan. Beberapa di antara mereka
ada pula yang mendapat bunga. Semua itu merupakan pertanda bahwa momen ini
adalah momen spesial dalam hidup. Meskipun sebenarnya masih banyak momen selain
itu yang jauh lebih berkesan.
Persiapan sebelum pesta kelulusan ini juga menjadi bagian
tak terpisahkan. Mulai dari kostum apa yang akan dipakai saat acara berlangsung,
dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bagi laki-laki mungkin tak terlalu repot
memikirkan persiapannya. Cukup dengan kemeja putih, celana hitam, dasi dan jas (jika
perlu). Serta sedikit memoles wajah dan rambut. Lelaki memang simpel, begitu
kata orang-orang.
Sebaliknya, bagi perempuan, persiapan tersebut amat
begitu penting. Mulai dari tipe kerudung yang akan dipakai, baju, sepatu, dan
yang pasti make up. Untuk yang terakhir ini adalah yang paling memakan
banyak waktu. Bahkan menurut pengakuan bebarapa wisudawati, mereka harus mengantri dari subuh untuk sesuatu yang
dalam agama pun tidak dianjurkan sama sekali. Wanita cenderung ribet. Itulah
sebagian besar pendapat mengenai makhluk yang bernama wanita.
Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk suatu
momen yang luar biasa, harus disiapkan sesempurna mungkin. Apakah memang harus
demikian? Apakah memang harus keluarga besar ikut serta?apakah memang harus
foto-foto dengan latar belakang setumpuk buku? Apakah harus berdandan
sedemikian lengkap? Apakah memang harus bersolek?
Mengambil ibroh atau pelajaran dari setiap peristiwa yang
dialami adalah jauh lebih penting dari semua hal di atas. Mungkin salah satunya
adalah kesederhanaan. Ya, bagi intelektual muslim tentu telah belajar banyak
dari nash-nash mengenai pentingnya kesederhanaan, menghindari sifat berlebihan,
serta mengambil pelajaran dari setiap drama dalam kehidupan. Kesederhanaan
tentunya juga akan membuat seseorang tak harus repot-repot mengantri dari
subuh. Yang terpenting adalah akan jadi apa setelah kelulusan itu berlalu, apa
yang bisa diberikan dengan gelar kesarjanaan itu, dan kontribusi apa yang telah
diberikan selama menempuh titel tersebut. Maka, jika dapat mengorientasikan
hal-hal di atas, euforia kelulusan tak harus berlebihan. Menjadikan momen
tersebut biasa saja, itu yang justru luar biasa. Jadi benarlah kata orang
bijak, bahwa ‘biasa itu luar biasa’.
Terlepas dari itu semua, ucapan selamat tetap
harus diberikan kepada mereka. Bagaimanapun juga, proses menuju kelulusan sangatlah
tidak mudah. Harus melalui jalan yang berlika-liku. Ucapan selamat, jabat tangan erat, pelukan
hangat, dan sekuntum bunga menjadi sesuatu yang luar biasa dalam momen yang
luar biasa tersebut. Selamat bagi teman-teman yang telah berhasil
menyelesaikan studinya. Semoga ilmunya bermanfaat bagi agama, keluarga,
masyarakat, bangsa dan negara. Semoga dengan ini semua, masa depan yang lebih
cerah kan tergapai. Amin.

No comments:
Post a Comment