Syukur
Aku Bukan Teddy
By: Ryo Potter
Di pagi hari yang cerah, di kala matahari mulai
menampakkan sinarnya, seperti biasa aku berlari-lari dari gerbang kampusku
menuju ruang tempat aku akan kuliah hari ini.
Suasana kampusku masih begitu sepi, sepertinya aku berangkat terlalu
pagi. Kuliahku hari ini ada di lantai empat, tepatnya di ruang 409. Namun
sebenarnya aku tidak perlu terburu-buru karena kuliah dimulai pukul 7.15 teng,
sedangkan sekarang baru pukul 6.30.
Serasa menaiki puncak Gunung Merapi, akhirnya aku
berhasil sampai di lantai teratas gedung fakultasku. Setelah mencari ruang 409,
aku berpikir pasti aku yang berangkat paling pagi hari ini. Sesampainya di kelas,
seperti biasa, dia sudah duduk di kursi paling depan, tepat di depan meja
dosen. Ditemani setumpuk buku di depannya, dia sedang serius membaca buku yang
lumayan tebal dengan kacamatanya yang juga lumayan tebal. Ketika aku masuk, dia
tetap membaca tanpa menghiraukanku. Setelah aku menjatuhkan tas di kursi di
dekatnya, dia baru menyadari kalau ada makhluk lain di kelas selain dia. Sambil
mendongak, dia menggeser kacamatanya yang berat sambil nyengir.
“Hehehe...”
Apa?? Hanya itu itu yang dia katakan? Benar-benar
orang aneh. “Kamu bangun jam berapa sih?” tanyaku ketika sudah duduk di
sampingnya. “Perasaan aku sudah bangun paling pagi deh.”
“Aku belum selesai membaca buku ini. Padahal hari
ini kan ada kuis untuk mata kuliah ini.” katanya sambil masih terus membaca.
“Santai saja kawan, aku juga belum selesai,”
kataku enteng. “Memangnya kuliah hanya untuk mengerjakan tugas, baca buku dan
mendapat nilai bagus? Bukan hanya itu kawan, kita juga dituntut agar bisa
menjadi agen perubahan, seperti yang dikatakan teman-teman yang sedang demo
itu.” kataku sok tahu. Namun dia tidak ada ekspresi apa-apa. Dia tetap membaca.
Namanya Teddy. Hampir seperti itulah kulihat
aktifitasnya setiap hari. Buku adalah makananya sehari-hari, tidak hanya sehari
tiga kali, namun setiap saat buku adalah yang dibawanya, kecuali makan dan
mandi tentunya. Dia memang menjadi bintang di kelas, bahkan selama tiga
semester ini dia menjadi mahasiswa dengan IPK tertinggi di jurusan dan menjadi
salah satu dari sepuluh mahasiswa terbaik di fakultas. Hampir semua dosen
mengenalnya dan hampir setiap mahasiswa di fakultas tahu ketika ditanya tentang
Teddy.
Aku terkadang berpikir tentang apa yang dimakan
anak itu sehingga otaknya begitu encer. Aku juga sering membayangkan ketika aku
menjadi seperti dia. Menjadi orang top, dikenal banyak orang dan menjadi idola
mahasiswa yang lain. Banyak mahasiswa yang berebut untuk satu kelompok
dengannya ketika ada tugas kelompok. Tetapi mereka terkadang berlebihan
sehingga membuat Teddy stres.
Suatu hari, Ibu Labibah, dosen mata kuliah TI,
memberi tugas kelompok yang beranggotakan maksimal lima orang. Dia membagi
kelompok dengan cara berhitung. Dia meminta untuk berhitung hingga enam karena
jumlah mahasiswanya ada 30. Mulai dari mahasiswa pojok depan.
“Satu,” teriaknya dengan
lantang.
“Dua,” teriak mahasiswa di sampinganya.
“Emm...uhuk...uhuk...paa...huk...uhuk...pat,”
kata seorang lagi yang ternyata sedang mengidap penyakit TBC (tampak begitu
cuek). Dengan susah payah dia berhasil mengucapkan kata empat.
“I’m fine, guys,”
katanya kemudian dengan gaya bahasa Inggris. “Just go on,” mengakhiri
kata-katanya sambil bertingkah seperti hendak batuk, namun gagal. Cari
perhatian dan berhasil. Semua mahasiswa menoleh kepadanya.
“Dasar konyol,” celetuk
seorang mahasiswa yang duduk di pojok belakang.
“Lima.”
“Enam.”
“Satu”
Begitu seterusnya hingga tiba pada mahasiswa yang
terakhir yang ternyata sedang tidur. Ketika teman yang duduk di sampingnya
hendak membangunkannya, Bu Labibah memberi isyarat diam. Dia kemudian
mendekatinya.
“Muchlish!!!” teriak Bu Labibah ketika sudah
berada di depannya. Muchlish tersentak dan linglung. Dia menengok ke kanan dan
ke kiri. Seluruh isi kelas menatapnya.
“Enam,” satu kata yang muncul dari mulutnya
dengan polos. Ledakan tawa menggema dan meluluhlantakkan seluruh isi kelas.
Semua orang tertawa kecuali satu orang, Teddy. Dia justru melihat kejadian itu
dengan ekspresi penuh tanda tanya. Tanda tanya itu tersebar di seluruh raut
mukanya.
“Keluar!!!” bentak Bu Labibah. “Cuci muka,
naik turun tangga ke lantai 1, dua kali dan kembali kesini. Cepat!” lanjutnya
sembari melihat Muchlish meluncur keluar tanpa komplain sedangkan yang lain
masih terkikik.
Keributan belum selesai sampai di situ. Ketika semua anak sudah
mengantongi nomor masing-masing, kemudian Bu Labibah meminta para mahasiswa
untuk berkumpul dengan mahasiswa lain yang nomornya sama. Ketika semua
mahasiswa mencari kelompoknya masing-masing, tiba-tiba Teddy dikeroyok oleh
beberapa mahasiswa. Aku yang kebetulan satu kelompok dengan Teddy ikut menjadi
korban pengeroyokan. Mereka berebut satu kelompok dengan Teddy.
“Aku nomor dua,” kata seorang cewek yang sedang
memegang tangan Teddy melewati depan mukaku.
“Aku juga nomor dua,” kata
seorang lagi sembari mencengkeram kerah baju Teddy.
“Aku juga,”
“Aku
juga,”
“Bukan, kau bukan nomor dua. Aku yang nomor dua,”
kata seorang cewek yang sudah berhasil menyambar tas Teddy. Semakin banyak yang
mengaku nomor dua dan keadaan Teddy juga semakin kritis, dimana semua anggota
tubuhnya dicengkeram oleh banyak mahasiswa.
Melihat kekacauan itu, aku mulai berpikir lima kali untuk menjadi seperti
Teddy. Kulihat dari raut mukanya, Teddy mulai stres. Dia tak berdaya, lemas dan
akhirnya...
“Diaaaaaammm!!!” suara Bu Labibah menggelegar,
membuat semua mahasiswa diam, sedangkan mereka yang berhasil menyentuh Teddy
masih dalam keadaan memegangnya dan diam sementara Teddy sudah tidak mampu
menahan lagi sesaknya cengkeraman mereka. Dia akhirnya jatuh pingsan.
“Apa yang kalian lakukan terhadap Teddy?”
otot-otot di leher Bu Labibah tiba-tiba seperti kawat yang sangat besar
tertanam di lehernya. “Kalian sudah keterlaluan. Cepat bawa Teddy ke
poloklinik!” semua terlihat ketakutan sehingga hanya diam meskipun sudah
berteriak.
“Cepat!!!” bentak Bu
Labibah lagi. Semua mahasiswa berlari keluar. Mereka justru panik seperti
sedang terjadi gempa. Bukannya membawa Teddy ke poliklinik, mereka malah
berlarian keluar.
Aku menjadi kasihan
melihat keadaan Teddy. Ternyata tidak selamanya menjadi orang top itu akan
hidup enak. Pasti akan ada kekurangannya pula. Akan ada keadaan dimana kita
akan mensyukuri dengan apa adanya kita saat ini. Buktinya adalah yang telah aku
alami.
No comments:
Post a Comment