Wednesday, March 20, 2013

My Novel


Prolog

By: Ryo Potter 


Aku melihat dia melambai-lambai di kejauhan. Jauh di atas bukit yang menjulang. Di atas sebuah batu gunung yang besar. Di sekelilingnya pohon-pohon rimbun nan menghijau. Dari depan mataku, pohon-pohon tersebut terhampar hingga ke puncak bukit, semakin jauh semakin mengecil. Terhampar jalan setapak membelah pepohonan menuju puncak bukit. Warna langit merah saga di atasnya menambah suasana semakin suram. Matahari mulai kehilangan sinarnya perlahan-lahan. Namun, betapa pun cahayanya lenyap, lambaian tangannya tak pernah berhenti hingga membuatku melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang berujung di bukit tersebut.
Selangkah, dua langkah, tiga langkah, semakin cepat hingga aku serasa berlari. Semakin mendekat semakin hilang sinar matahari di puncak bukit. Dia tampak semakin jelas dan masih melambai. Semakin dekat aku merasa semakin yakin dia adalah orang yang aku kenal. Orang yang sudah bertahun-tahun meninggalkanku tanpa ada kabar dimana dia berada. Dan saat ini dia melambaikan tangannya seakan memanggilku untuk segera menemuinya.
Sepuluh menit telah berlalu. Sedikit lagi aku sampai. “Tunggu aku di sana, kawan,” kataku dalam hati. Cahaya tinggal secercah lagi sebelum malam menelannya. Aku harus segera sampai di atas. Kulihat wajahnya semakin jelas. Senyumnya membuatku mempercepat langkahku.
“Sepuluh meter lagi,” batinku. Dan benar saja. Akhirnya aku sampai pada sebuah batu besar. Di atas batu tersebut dia masih tersenyum. Namun kemudian dia berbalik. Aku pun bergegas menaiki batu besar tersebut. Dia sudah tidak di sana lagi. Yang mengherankan, kini aku dihadapkan pada sebuah hamparan kuburan tua yang sudah tak terawat lagi. Keringat dingin pun mengucur deras dari dalam tubuhku. Bulu kudukku meremang hebat. Lalu terdengar suara-suara yang menyeramkan. Suara-suara itu semakin lama semakin banyak. Aku sadar bahwa malam telah datang, menelan semua cahaya di puncak bukit tersebut. Di tengah-tengah kekalutanku karena suara-suara tersebut kucoba melangkahkan kaki namun seberapa kuat aku mencoba kaki ini tetap tak mau bergerak. Kakiku terkunci. Aku tak bisa kemana-mana. Suara-suara itu semakin lama semakin keras dan semakin keras hingga memekakkan telinga. Dan yang terjadi berikutnya adalah aku sudah berada di tengah-tengah mereka. Tangan-tangan putih pucat terjulur dari dalam jubah rombeng mereka. Dan kemudian …