Prolog
By: Ryo Potter
Aku melihat dia melambai-lambai di kejauhan. Jauh
di atas bukit yang menjulang. Di atas sebuah batu gunung yang besar. Di
sekelilingnya pohon-pohon rimbun nan menghijau. Dari depan mataku, pohon-pohon
tersebut terhampar hingga ke puncak bukit, semakin jauh semakin mengecil.
Terhampar jalan setapak membelah pepohonan menuju puncak bukit. Warna langit
merah saga di atasnya menambah suasana semakin suram. Matahari mulai kehilangan
sinarnya perlahan-lahan. Namun, betapa pun cahayanya lenyap, lambaian tangannya
tak pernah berhenti hingga membuatku melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak
yang berujung di bukit tersebut.
Selangkah, dua langkah, tiga langkah, semakin
cepat hingga aku serasa berlari. Semakin mendekat semakin hilang sinar matahari
di puncak bukit. Dia tampak semakin jelas dan masih melambai. Semakin dekat aku merasa semakin yakin
dia adalah orang yang aku kenal. Orang yang sudah bertahun-tahun meninggalkanku
tanpa ada kabar dimana dia berada. Dan saat ini dia melambaikan tangannya
seakan memanggilku untuk segera menemuinya.
Sepuluh menit telah berlalu. Sedikit lagi aku
sampai. “Tunggu aku di sana, kawan,” kataku dalam hati. Cahaya tinggal secercah
lagi sebelum malam menelannya. Aku harus segera sampai di atas. Kulihat
wajahnya semakin jelas. Senyumnya membuatku mempercepat langkahku.
“Sepuluh meter lagi,” batinku. Dan benar saja.
Akhirnya aku sampai pada sebuah batu besar. Di atas batu tersebut dia masih
tersenyum. Namun kemudian dia berbalik. Aku pun bergegas menaiki batu besar
tersebut. Dia sudah tidak di sana lagi. Yang mengherankan, kini aku dihadapkan
pada sebuah hamparan kuburan tua yang sudah tak terawat lagi. Keringat dingin
pun mengucur deras dari dalam tubuhku. Bulu kudukku meremang hebat. Lalu
terdengar suara-suara yang menyeramkan. Suara-suara itu semakin lama semakin
banyak. Aku sadar bahwa malam telah datang, menelan semua cahaya di puncak
bukit tersebut. Di tengah-tengah kekalutanku karena suara-suara tersebut kucoba
melangkahkan kaki namun seberapa kuat aku mencoba kaki ini tetap tak mau bergerak.
Kakiku terkunci. Aku tak bisa kemana-mana. Suara-suara itu semakin lama semakin
keras dan semakin keras hingga memekakkan telinga. Dan yang terjadi berikutnya
adalah aku sudah berada di tengah-tengah mereka. Tangan-tangan putih pucat
terjulur dari dalam jubah rombeng mereka. Dan kemudian …
No comments:
Post a Comment