Oleh: Ryo Potter
Beberapa hari yang lalu aku tergelak membaca buku
kumpulan cerpen pinjaman dari stafku di TPA. Judul dari buku itu adalah
“Berjuta Rasanya” karya penulis best seller, Tere Liye. Dari judulnya
saja sudah bisa ditebak pasti buku galau nih. Buku galau untuk yang lagi
galau, hehe. Tanpa pikir panjang langsung kulahap buku itu.
Sebagian besar cerpennya menceritakan kisah-kisah
melo tentang cinta, pacaran, ditolak, patah hati, dan varian-variannya. Namun
ada satu kisah yang menurutku unik. Kisahnya juga konyol dan terkesan
mengada-ada. Kisah itu berjudul “Cintanometer”. Semacam alat ukur lah. Nah,
ceritanya, ada sebuah kota yang tak disebutkan namanya. Kota terebut amat maju.
Masyarakatnya pandai-padai. Banyak terrlahir penemu-penemu yang berhasil
menciptakan alat-alat untuk memajukan kota tersebut.
Intinya, kota tersebut adalah kota dengan
teknologi tinggi. Namun ternyata ada satu permasalahan yang membingungkan para
pemimpin kota tersebut. Permasalahannya adalah angka kelahiran yang menurun
disebabkan karena kurangnya angka pernikahan. Minimmnya anak-anak muda menikah dikarenakan banyak dari mereka yang
tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada pujaan hatinya.
Singkat cerita, pemimpin kota tersebut
mengumpulkan para ilmuwan untuk meciptakan sebuah alat yang dapat mengatasi
masalah tersebut. Lalu ditemukanlah alat yang bernama “Cintanometer”. Alat tersebut
berbentuk seperti alat bantu pendengaran yang dipasang di dekat telinga. Cintanometer akan mendeteksi gelombang
elektromagnetik yang terpancar dari seseorang. Gelombang tersebut dihasilkan
dari gerak, detak jantung, serta berbagai gesture yang mengindikasikan perasaan
seseorang. Dengan begitu seseorang tak perlu menyatakan cinta kepada
orang yang ditaksir. Cintanometer akan
memberikan sinyal tersebut berupa kedipan pada LED indikatornya atau melalui
fasilitas suara berupa bisikan. Konyol kan? Mana mingkin zaman kaya gini ada
alat seperti itu?
Lalu kubayangkan jika memang benar ada alat
tersebut di sekitar kita. Bayangkan saja, ketika kita sedang asyik berjalan,
dengan Cintanometer terpasang di telinga kita, lalu kita berpapasan dengan
lawan jenis. Lalu alat tersebut membisikan, “Dia naksir kamu”. Kamu mau apa
coba? Langsung tembak di tempat? Haha..benar-benar konyol.
However, terlepas dari kekonyolan cerita tersebut, ada
yang bisa dipetik di sini. Bahwa cinta itu urusan langit. Tidak kasat mata. Cinta
diturunkan oleh Sang Pemilik Cinta Sejati. Jika manusia, yang paling jenius pun,
berusaha untuk menemukannya dengan cara “ilmiah” tersebut, tentu manusia akan
kehilangan akan makna atau fitrah dari cinta tersebut. Si penulis juga
menambahkan dalam cerita tersebut, bahwa cinta beserta hal-hal yang berhubungan
dengannya (jatuh cinta, patah hati, ditolak, dll) memiliki makna tersendiri
bagi siapa saja yang merasakannya.
Pernah jatuh cinta? (bohong kalo ngaku blm pernah).
“Jatuh cinta berjuta rasanya,” kata Vina Panduwinata dalam lagunya. Patah hati?
Lebih baik mati daripada harus merasakannya. O ya?? Kalau kita sudah kehilangan
makna cinta, kita tak akan bisa merasakan indahnya jatuh cinta. Kita tidak akan
merasakan sakitnya patah hati, dan sebagainya. Cinta lah yang membuat kita
hidup. Cinta lah yang seharusnya membuat kita bersyukur dengan anugerah ini. Oleh
karena itu, berbahagialah bagi kita yang masih bisa merasakan indahnya jatuh
cinta. Bersyukurlah kalian jika masih bisa merasakan sakitnya patah hati. Itu artinya
kalian masih hidup. Benar-benar hidup. Well, selamat jatuh cinta dan
bersiaplah untuk patah hati. ^_^
Sumber gambar: http://www.ummuhusna99.blogspot.com


