Monday, January 6, 2014

Cinta oh Cinta






Oleh: Ryo Potter

Beberapa hari yang lalu aku tergelak membaca buku kumpulan cerpen pinjaman dari stafku di TPA. Judul dari buku itu adalah “Berjuta Rasanya” karya penulis best seller, Tere Liye. Dari judulnya saja sudah bisa ditebak pasti buku galau nih. Buku galau untuk yang lagi galau, hehe. Tanpa pikir panjang langsung kulahap buku itu.
Sebagian besar cerpennya menceritakan kisah-kisah melo tentang cinta, pacaran, ditolak, patah hati, dan varian-variannya. Namun ada satu kisah yang menurutku unik. Kisahnya juga konyol dan terkesan mengada-ada. Kisah itu berjudul “Cintanometer”. Semacam alat ukur lah. Nah, ceritanya, ada sebuah kota yang tak disebutkan namanya. Kota terebut amat maju. Masyarakatnya pandai-padai. Banyak terrlahir penemu-penemu yang berhasil menciptakan alat-alat untuk memajukan kota tersebut.
Intinya, kota tersebut adalah kota dengan teknologi tinggi. Namun ternyata ada satu permasalahan yang membingungkan para pemimpin kota tersebut. Permasalahannya adalah angka kelahiran yang menurun disebabkan karena kurangnya angka pernikahan. Minimmnya anak-anak muda menikah dikarenakan banyak dari mereka yang tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada pujaan hatinya.
Singkat cerita, pemimpin kota tersebut mengumpulkan para ilmuwan untuk meciptakan sebuah alat yang dapat mengatasi masalah tersebut. Lalu ditemukanlah alat yang bernama “Cintanometer”. Alat tersebut berbentuk seperti alat bantu pendengaran yang dipasang di dekat telinga. Cintanometer akan mendeteksi gelombang elektromagnetik yang terpancar dari seseorang. Gelombang tersebut dihasilkan dari gerak, detak jantung, serta berbagai gesture yang mengindikasikan perasaan seseorang. Dengan begitu seseorang tak perlu menyatakan cinta kepada orang yang ditaksir. Cintanometer akan memberikan sinyal tersebut berupa kedipan pada LED indikatornya atau melalui fasilitas suara berupa bisikan. Konyol kan? Mana mingkin zaman kaya gini ada alat seperti itu?
Lalu kubayangkan jika memang benar ada alat tersebut di sekitar kita. Bayangkan saja, ketika kita sedang asyik berjalan, dengan Cintanometer terpasang di telinga kita, lalu kita berpapasan dengan lawan jenis. Lalu alat tersebut membisikan, “Dia naksir kamu”. Kamu mau apa coba? Langsung tembak di tempat? Haha..benar-benar konyol.
However, terlepas dari kekonyolan cerita tersebut, ada yang bisa dipetik di sini. Bahwa cinta itu urusan langit. Tidak kasat mata. Cinta diturunkan oleh Sang Pemilik Cinta Sejati. Jika manusia, yang paling jenius pun, berusaha untuk menemukannya dengan cara “ilmiah” tersebut, tentu manusia akan kehilangan akan makna atau fitrah dari cinta tersebut. Si penulis juga menambahkan dalam cerita tersebut, bahwa cinta beserta hal-hal yang berhubungan dengannya (jatuh cinta, patah hati, ditolak, dll) memiliki makna tersendiri bagi siapa saja yang merasakannya.
Pernah jatuh cinta? (bohong kalo ngaku blm pernah). “Jatuh cinta berjuta rasanya,” kata Vina Panduwinata dalam lagunya. Patah hati? Lebih baik mati daripada harus merasakannya. O ya?? Kalau kita sudah kehilangan makna cinta, kita tak akan bisa merasakan indahnya jatuh cinta. Kita tidak akan merasakan sakitnya patah hati, dan sebagainya. Cinta lah yang membuat kita hidup. Cinta lah yang seharusnya membuat kita bersyukur dengan anugerah ini. Oleh karena itu, berbahagialah bagi kita yang masih bisa merasakan indahnya jatuh cinta. Bersyukurlah kalian jika masih bisa merasakan sakitnya patah hati. Itu artinya kalian masih hidup. Benar-benar hidup. Well, selamat jatuh cinta dan bersiaplah untuk patah hati. ^_^
Sumber gambar: http://www.ummuhusna99.blogspot.com

Sunday, January 5, 2014

Resensi Novel



Negeri Para Bedebah


Judul  : Negeri Para Bedebah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 440 halaman
Sumber gambar: http://www.gramedia.tumblr.com

Pernahkan anda menonton film James Bond? Agen rahasia Inggris ini, dalam film-filmya, memiliki peran untuk menjalankan misi-misi berbahaya dengan taruhan nyawa seperti kejar-kejaran dengan penjahat, lompat dari gedung atau bahkan pesawat, berkelahi dengan lawan-lawannya, berhadapan dengan kelompok bersenjata dan masih banyak adegan berbahaya lainnya. Namun, sebagai tokoh utama, James Bond selalu bisa melaksanakan misinya dengan sukses.
Seperti James Bond, Thomas, sang tokoh utama dalam novel Negeri Para Bedebah ini juga melakukan misi-misi serupa. Dilatarbelakangi oleh kasus Bank Semesta yang akan ditutup oleh pemerintah, Thomas berusaha mati-matian untuk menyelamatkan bank tersebut. Diantara yang ia lakukan adalah dia melarikan pimpinan Bank Semesta yang telah ditetapkan sebagai tersangka, dia kemudian harus kongkalikong dengan petugas bandara, kepolisian, pengusaha, media, partai politik dan orang-orang berpengaruh di negeri yang ia tinggali, Negeri Para Bedebah.
Di dalam negeri ini, uang dan kekuasaan adalah segalanya. Asalkan seseorang memiliki salah satu atau keduanya, maka dia akan melakukan apapun yang ia mau. Tak peduli apakah merugikan orang lain ataukah tidak. Bagi orang kaya, mereka tak peduli dengan orang miskin. Bagi penguasa, mereka tak peduli dengan kepentingan rakyat, yang ada hanyalah kepentingan pribadi dan golongan. Tapi satu hal yang menarik di dalam negeri para bedebah ini, bahwa petarung sejati tak kan pernah berkhianat.
Seperti novel-novel lainnya, Tere Liye kembali menghadirkan novel fiktif tentang kehidupan. Melalui novel ini, sang penulis menyampaikan bahwa masa lalu tak kan menjamin kesuksesan hidup seseorang di masa depan. Hanya dengan menjadi petarung sejati, dia akan mampu melewati setiap tahap kehidupan yang dilalui. Dengan menjadi petarung sejati, seseorang akan menjadi pribadi yang tangguh, melakukan perbuatan berdasarkan benar dan salah, menganggap lawan-lawannya sebagai kawan, dan petarung sejati akan selalu menepati janji.
Membaca novel ini mengingatkan kita akan kasus Bank Century. Di dunia nyata, Bank Century adalah bank yang hampir pailit dan akan segera ditutup oleh pemerintah karena dikhawatirkan akan berdampak sistemik pada perekonomian nasional. Pemerintah kemudian memberikan dana talangan atau Bailout kepada bank tersebut agar bisa mengembalikan uang nasabah. Namun kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik kasus Bank Century, yaitu sebuah skandal para bedebah negeri ini. Penulis dengan lihai mampu menghubungkan kasus tersebut dengan tokoh utama. Bank Semesta yang menjadi representasi Bank Century, harus diselamatkan. Melalui Thomas, penulis mengungkap rentetan skandal yang terjadi dalam kasus Bank Semesta.
Uniknya, penulis tidak menyebutkan secara jelas identitas setiap tokoh kunci dalam penyelamatan Bank Semesta. Namun dengan sendirinya, pembaca bisa menebak siapa tokoh tersebut, diantaranya Menteri Keuangan, Gubernur Bank Sentral, Sang “Putra Mahkota” penguasa negeri tersebut, partai berkuasa, serta masih banyak tokoh yang dilibatkan dalam cerita ini. Ironisnya, pembaca sendiri sulit menebak siapakan sebenarnya Thomas. Siapakah dia dalam dunia nyata.
Novel ini menyajikan kisah fiktif dengan latar belakang kisah nyata. Meski begitu, kisah tersebut menjadi lebih hidup dan lebih seru dibanding di dunia nyata. Novel ini memberi banyak nasehat serta pengetahuan kepada pembaca. Diantaranya pengetahuan tentang ilmu ekonomi dan politik. Bagaimana kedua bidang tersebut sangat berhubungan erat dengan uang dan kekuasaan.
Sayangnya, alur cerita dalam novel ini begitu cepat dengan konflik yang sederhana, serta ending yang menggantung. Meskipun begitu, pembaca tetap dibuat berdebar-debar dengan aksi tokoh utama. Pembaca dibuat seakan ikut berlari bersama tokoh utama dan ingin secepatnya menyeleseaikan cerita untuk mengetahui siapakan actor kunci dalam kasus tersebut.

Wednesday, January 1, 2014

Bahagia di atas Kebahagiaan



                                                                      By: Ryo Potter


Semalam, TPA Nurul Adhen kembali mengadakan acara MABIT untuk yang kedua kali semenjak aku menjabat direktur. Acaranya sederhana namun cukup seru. Acara ini bertepatan dengan malam pergantian tahun Masehi. Memang acara ini sengaja dibuat untuk mengalihkan perhatian anak-anak agar tidak ikut larut dalam pesta perayaan tahun baru orang Masehi tersebut.
Pesertanya hanya sembilan anak, dimana sembilan di antaranya adalah perempuan. Rama adalah satu-satunya santri putra yang ikut. Sedangkan yang putri berasal dari kelas TPA 1 dan RTQA, yaitu Nanda, Nasywa, Fira, Amel, Yusna, Dinda, Ayung, dan Riski. Anak-anak yang lain lebih memilih menghabiskan waktu bersama keluarga, teman-teman, atau hanya sekedar meononton pesta kembang api. Sedangkan dari ustadznya hanya aku, Ustad Ibnu dan istrinya, ditambah satu ustad baru yang bergabung beberapa hari yang lalu, yaitu Ustad Ipul. Sehingga jumlah peserta menjadi 13 orang. Anak-anak sempat kecewa karena Mbak Yuni dan Mbak Astrid tidak ikut.
Rangkaian acara MABIT kali ini disesuaikan dengan tema perayaan tahun baru Masehi. Diawali dengan nonton bareng yang menampilkan film dokumenter tentang perayaan tahun bari Masehi. Dari film tersebut, anak-anak menjadi tahu sejarah perayaan Tahun Baru Masehi. Perayaan tersebut diawali oleh orang-orang Romawi untuk menghormati Dewa Janus (dewa pembuka). Dari nama dewa tersebut, maka Tahun Masehi dimulai dari bulan Januari. Sehingga, perayaan ini merupakan ritual orang-orang Nasrani Romawi. Dengan demikian, jika kita merayakan tahun baru Masehi, artinya kita ikut merayakan rituan orang-orang kafir tersebut.
Acara berikutnya adalah kado silang. Sebelumnya, anak-anak diminta untuk membuat kado yang berupa makanan atau barang lalu dibungkus koran. Harga dari kado tersebut tidak boleh lebih dari Rp 5.000,-. Lucunya, anak-anak mengira bahwa harga kadonya harus lima ribu. Hanya Amel, Dinda, dan Ayung yang bisa memahami dengan baik maksud perintah itu. Mereka pun mengumpulkan kado yang harganya berfariasi namun tak lebih dari lima ribu rupiah. Sedangkan yang lain pada ngomel-ngomel karena merasa tidak adil. Bahkan Nanda dan Nasywa menuntut untuk tidak menukar kadonya. Namun sia-sia, acara kado silang tetap dilaksanakan. Meski hanya sembilan anak, namun karena mereka membentuk lingkaran, suasana kado silang pun menjadi cukup meriah. Setelah diputar tiga kali, masing-masing anak pun memegang kado dari yang lain.
Hal lucu saat acara ini adalah ketika Rama membuka kado yang ia dapatkan ternyata berisi makanan yang harganya sama namun jumlahnya lebih banyak dari kado yang ia buat.
“Wah, gak rugi nih,” kata Rama.
Lain halnya dengan Nanda. Dia mendapat kado dari Ayung. Dan dari sekian banyak kado, milik Ayung lah yang paling unik. Dia membungkusnya dengan koran yang amat tebal. Dibuka sekali, belum muncul. Lapisan kedua pun dibuka, namun masih ada lapisan ketiga. Nanda pun jengkel, akhirnya dia sobek pembungkusnya. Yang lain pun tertawa melihat tingkah Nanda. Ternyata bungkus terakhirnya adalah plastik hitam. Sial betul Nanda karena isinya hanya beberapa makanan kecil dan sebotol teh.
Setelah acara kado silang, acara terakhir yaitu acara bakar-bakar. Sebelumnya, aku dan Ipul telah menyiapkan 20 ekor ikan gembung yang telah kami kukus untuk acara bakar-bakar ini. Tak lupa kami siapkan bumbu-bumbu dan nasi untuk makan bersama sebagai acara penutup sebelum tidur. Dalam acara ini kami berbagi tugas. Anak-anak perempuan yang dipandu Mbak Adis membuat bumbu untuk ikan bakar. Sedangkan yang laki-laki menyiapkan api untuk bakaran. Setelah siap, keduapuluh ikan gembung pun dibakar. Sekitar jam 11.30, semua makanan sudah siap. Kami pun mulai makan bersama.
Di luar, pesta kembang api telah dimulai. Letusan kembang api bersahut-sahutan memekakakkan telinga. Beberapa dari anak-anak ada yang keluar melihatnya di teras lantai atas. Dari sepuluh menit sebelum pukul 00.00 hingga beberapa menit setelahnya, rentetan letusan kembang api semakin riuh. Langit tahun baru 2014 pun dipenuhi cahaya berwarna-warni akibat letusan kembang api. Sekitar pukul 00.30, acara makan-makan selesai. Pesta kembang api juga mulai reda. Satu persatu dari kami mulai mengantuk. Anak-anak putri tidur di lantai dua, sedangkan yang putra tidur di masjid.
Kami mulai terlelap dalam keriuhan pesta kembang api. Perlahan mata kami tertutup digantikan alam baru yang tak kalah meriah, yaitu alam mimpi. Kami larut dalam mimpi masing-masing. Selama hampir empat jam, kami mengarunginya. Empat jam adalah waktu yang begitu cepat dalam dunia mimpi. Adzan subuh pun membangunkan kami dari alam mimpi. Yang mimpi indah, malas-malasan bangun tapi yang mimpinya biasa-biasa saja buru-buru ambil air wudhu. Kami pun menunaikan sholat subuh berjamaah.
Selepas subuh, secara tak terduga, kami ketiduran. Tidak tanggung-tanggung, kami tertidur selama hampir dua jam. Cukup setimpal dengan malam yang kami habiskan untuk acara bakar-bakar. Setengah tujuh, kami dibangunkan anak-anak putri yang ternyata justru tidak tidur sehabis subuh.
Sebagai acara penutup, kami jalan-jalan ke Kragilan menggunakan sepeda motor. Namun kami kecewa karena Kragilan tak seindah dulu wakti kami masih suka bermain di sana. Dulu tempat tersebut adalah hamparan petak-petak sawah yang luas dengan rerumputan nan hijau di sela-selanya. Kami biasa bermain atau lari bersama di tempat tersebut sambil menghirup udara segar pagi hari. Namun, kini tempat tersebut telah berubah menjadi kawasan proyek perumahan. Tanah-tanah dikeruk, gundukan pasir di mana-mana, serta beberapa alat berat ada di sana. Kami pun memutuskan berpindah tempat.
Dengan sepeda motor, kami berjalan-jalan menyusuri pedesaan hingga Ring Road Utara. Melewati tempat-tempat baru tanpa berhenti. Bahkan kami sempat tersesat. Setelah merasa puas, kami pun kembali ke masjid. Kami juga membeli lima bungkus soto ayam. Sesampainya di masjid, kami langsung menyantap soto tersebut bersama. Anak-anak senang sekali dengan kegiatan ini. Mereka tidak menyesal karena melewatkan malam tahun baru tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka justru berharap tahun depan mengadakan acara ini kembali.
Sekali lagi aku bisa bersama anak-anak. Menemani mereka melewati masa-masa yang riskan dengan perkembangan zaman yang kian tidak peduli dengan masa depan anak. Setidaknya, acara yang sederhana ini membuat mereka bahagia tanpa harus ikut dalam euforia perayaan Tahun Baru Masehi, tahun barunya umat Nasrani. Dan yang terpentingbagi kita, para pengajar dan pendidik, membersamai dan memberikan teladan kepada mereka sudahlah cukup untuk membuat kita bahagia. Bahagia di atas kebahagiaan mereka.