By: Ryo Potter
Semalam,
TPA Nurul Adhen kembali
mengadakan acara MABIT untuk yang kedua kali semenjak aku
menjabat direktur. Acaranya sederhana namun cukup seru. Acara ini bertepatan
dengan malam pergantian tahun Masehi. Memang acara ini sengaja dibuat untuk
mengalihkan perhatian anak-anak agar tidak ikut larut dalam pesta perayaan
tahun baru orang Masehi tersebut.
Pesertanya
hanya sembilan anak, dimana sembilan di antaranya adalah perempuan. Rama adalah
satu-satunya santri putra yang ikut. Sedangkan yang putri berasal dari kelas
TPA 1 dan RTQA, yaitu Nanda, Nasywa, Fira, Amel, Yusna, Dinda, Ayung, dan
Riski. Anak-anak yang lain lebih memilih menghabiskan waktu bersama keluarga,
teman-teman, atau hanya sekedar meononton pesta kembang api. Sedangkan dari
ustadznya hanya aku, Ustad Ibnu dan istrinya, ditambah satu ustad baru yang
bergabung beberapa hari yang lalu, yaitu Ustad Ipul. Sehingga jumlah peserta menjadi 13
orang. Anak-anak sempat kecewa
karena Mbak Yuni dan Mbak Astrid tidak ikut.
Rangkaian
acara MABIT kali ini disesuaikan dengan tema perayaan tahun baru Masehi.
Diawali dengan nonton bareng yang menampilkan film dokumenter tentang perayaan
tahun bari Masehi. Dari film tersebut, anak-anak menjadi tahu sejarah perayaan Tahun
Baru Masehi. Perayaan tersebut diawali oleh orang-orang Romawi untuk
menghormati Dewa Janus (dewa pembuka). Dari nama dewa tersebut, maka Tahun
Masehi dimulai dari bulan Januari. Sehingga, perayaan ini merupakan ritual
orang-orang Nasrani Romawi. Dengan demikian, jika kita merayakan tahun baru
Masehi, artinya kita ikut merayakan rituan orang-orang kafir tersebut.
Acara berikutnya adalah kado silang. Sebelumnya,
anak-anak diminta untuk membuat kado yang berupa makanan atau barang lalu
dibungkus koran. Harga dari kado tersebut tidak boleh lebih dari Rp 5.000,-.
Lucunya, anak-anak mengira bahwa harga kadonya harus lima ribu. Hanya Amel,
Dinda, dan Ayung yang bisa memahami dengan baik maksud perintah itu. Mereka pun
mengumpulkan kado yang harganya berfariasi namun tak lebih dari lima ribu
rupiah. Sedangkan yang lain pada ngomel-ngomel karena merasa tidak adil. Bahkan
Nanda dan Nasywa menuntut untuk tidak menukar kadonya. Namun sia-sia, acara
kado silang tetap dilaksanakan. Meski hanya sembilan anak, namun karena mereka
membentuk lingkaran, suasana kado silang pun menjadi cukup meriah. Setelah
diputar tiga kali, masing-masing anak pun memegang kado dari yang lain.
Hal lucu saat acara ini adalah ketika Rama membuka kado
yang ia dapatkan ternyata berisi makanan yang harganya sama namun jumlahnya
lebih banyak dari kado yang ia buat.
“Wah, gak rugi nih,” kata Rama.
Lain halnya dengan Nanda. Dia mendapat kado dari Ayung.
Dan dari sekian banyak kado, milik Ayung lah yang paling unik. Dia membungkusnya dengan
koran yang amat tebal. Dibuka sekali, belum muncul. Lapisan kedua pun dibuka,
namun masih ada lapisan ketiga. Nanda pun jengkel, akhirnya dia sobek
pembungkusnya. Yang lain pun tertawa melihat tingkah Nanda. Ternyata bungkus
terakhirnya adalah plastik hitam. Sial betul Nanda karena isinya hanya beberapa makanan kecil dan sebotol teh.
Setelah acara kado silang, acara terakhir yaitu acara
bakar-bakar. Sebelumnya, aku dan Ipul telah menyiapkan 20 ekor ikan gembung
yang telah kami kukus untuk acara bakar-bakar ini. Tak lupa kami siapkan bumbu-bumbu dan nasi
untuk makan bersama sebagai acara penutup sebelum tidur. Dalam acara ini kami
berbagi tugas. Anak-anak perempuan yang dipandu Mbak Adis membuat bumbu untuk
ikan bakar. Sedangkan yang laki-laki menyiapkan api untuk bakaran. Setelah
siap, keduapuluh ikan gembung pun dibakar. Sekitar jam 11.30, semua makanan
sudah siap. Kami pun mulai makan bersama.
Di luar, pesta kembang api telah dimulai. Letusan kembang
api bersahut-sahutan memekakakkan telinga. Beberapa dari anak-anak ada yang
keluar melihatnya di teras lantai atas. Dari sepuluh menit sebelum pukul 00.00
hingga beberapa menit setelahnya, rentetan letusan kembang api semakin riuh.
Langit tahun baru 2014 pun dipenuhi cahaya berwarna-warni akibat letusan
kembang api. Sekitar pukul 00.30, acara makan-makan selesai. Pesta kembang api
juga mulai reda. Satu persatu dari kami mulai mengantuk. Anak-anak putri tidur
di lantai dua, sedangkan yang putra tidur di masjid.
Kami mulai terlelap dalam keriuhan pesta kembang api.
Perlahan mata kami tertutup digantikan alam baru yang tak kalah meriah, yaitu
alam mimpi. Kami larut dalam mimpi masing-masing. Selama hampir empat jam, kami
mengarunginya. Empat jam adalah waktu yang begitu cepat dalam dunia mimpi.
Adzan subuh pun membangunkan kami dari alam mimpi. Yang mimpi indah,
malas-malasan bangun tapi yang mimpinya biasa-biasa saja buru-buru ambil air
wudhu. Kami pun menunaikan sholat subuh berjamaah.
Selepas subuh, secara tak terduga, kami ketiduran. Tidak
tanggung-tanggung, kami tertidur selama hampir dua jam. Cukup setimpal dengan
malam yang kami habiskan untuk acara bakar-bakar. Setengah tujuh, kami
dibangunkan anak-anak putri yang ternyata justru tidak tidur sehabis subuh.
Sebagai acara penutup, kami jalan-jalan ke Kragilan
menggunakan sepeda motor. Namun kami kecewa karena Kragilan tak seindah dulu
wakti kami masih suka bermain di sana. Dulu tempat tersebut adalah hamparan
petak-petak sawah yang luas dengan rerumputan nan hijau di sela-selanya. Kami biasa bermain atau lari bersama di tempat
tersebut sambil menghirup udara segar pagi hari. Namun, kini tempat tersebut telah berubah menjadi kawasan proyek
perumahan. Tanah-tanah dikeruk, gundukan pasir di mana-mana, serta beberapa
alat berat ada di sana. Kami pun memutuskan berpindah tempat.
Dengan sepeda motor, kami berjalan-jalan menyusuri
pedesaan hingga Ring Road Utara. Melewati tempat-tempat baru tanpa berhenti.
Bahkan kami sempat tersesat. Setelah merasa puas, kami pun kembali ke masjid.
Kami juga membeli lima bungkus soto ayam. Sesampainya di masjid, kami langsung
menyantap soto tersebut bersama. Anak-anak senang sekali dengan kegiatan ini.
Mereka tidak menyesal karena melewatkan malam tahun baru tidak seperti
tahun-tahun sebelumnya. Mereka justru berharap tahun depan mengadakan acara ini
kembali.
Sekali lagi aku bisa bersama anak-anak. Menemani mereka
melewati masa-masa yang riskan dengan perkembangan zaman yang kian tidak peduli
dengan masa depan anak. Setidaknya, acara yang sederhana ini membuat mereka
bahagia tanpa harus ikut dalam euforia perayaan Tahun Baru Masehi, tahun
barunya umat Nasrani. Dan yang terpentingbagi kita, para pengajar dan pendidik,
membersamai dan memberikan teladan kepada mereka sudahlah cukup untuk membuat
kita bahagia. Bahagia di atas kebahagiaan mereka.

No comments:
Post a Comment