Wednesday, January 1, 2014

Bahagia di atas Kebahagiaan



                                                                      By: Ryo Potter


Semalam, TPA Nurul Adhen kembali mengadakan acara MABIT untuk yang kedua kali semenjak aku menjabat direktur. Acaranya sederhana namun cukup seru. Acara ini bertepatan dengan malam pergantian tahun Masehi. Memang acara ini sengaja dibuat untuk mengalihkan perhatian anak-anak agar tidak ikut larut dalam pesta perayaan tahun baru orang Masehi tersebut.
Pesertanya hanya sembilan anak, dimana sembilan di antaranya adalah perempuan. Rama adalah satu-satunya santri putra yang ikut. Sedangkan yang putri berasal dari kelas TPA 1 dan RTQA, yaitu Nanda, Nasywa, Fira, Amel, Yusna, Dinda, Ayung, dan Riski. Anak-anak yang lain lebih memilih menghabiskan waktu bersama keluarga, teman-teman, atau hanya sekedar meononton pesta kembang api. Sedangkan dari ustadznya hanya aku, Ustad Ibnu dan istrinya, ditambah satu ustad baru yang bergabung beberapa hari yang lalu, yaitu Ustad Ipul. Sehingga jumlah peserta menjadi 13 orang. Anak-anak sempat kecewa karena Mbak Yuni dan Mbak Astrid tidak ikut.
Rangkaian acara MABIT kali ini disesuaikan dengan tema perayaan tahun baru Masehi. Diawali dengan nonton bareng yang menampilkan film dokumenter tentang perayaan tahun bari Masehi. Dari film tersebut, anak-anak menjadi tahu sejarah perayaan Tahun Baru Masehi. Perayaan tersebut diawali oleh orang-orang Romawi untuk menghormati Dewa Janus (dewa pembuka). Dari nama dewa tersebut, maka Tahun Masehi dimulai dari bulan Januari. Sehingga, perayaan ini merupakan ritual orang-orang Nasrani Romawi. Dengan demikian, jika kita merayakan tahun baru Masehi, artinya kita ikut merayakan rituan orang-orang kafir tersebut.
Acara berikutnya adalah kado silang. Sebelumnya, anak-anak diminta untuk membuat kado yang berupa makanan atau barang lalu dibungkus koran. Harga dari kado tersebut tidak boleh lebih dari Rp 5.000,-. Lucunya, anak-anak mengira bahwa harga kadonya harus lima ribu. Hanya Amel, Dinda, dan Ayung yang bisa memahami dengan baik maksud perintah itu. Mereka pun mengumpulkan kado yang harganya berfariasi namun tak lebih dari lima ribu rupiah. Sedangkan yang lain pada ngomel-ngomel karena merasa tidak adil. Bahkan Nanda dan Nasywa menuntut untuk tidak menukar kadonya. Namun sia-sia, acara kado silang tetap dilaksanakan. Meski hanya sembilan anak, namun karena mereka membentuk lingkaran, suasana kado silang pun menjadi cukup meriah. Setelah diputar tiga kali, masing-masing anak pun memegang kado dari yang lain.
Hal lucu saat acara ini adalah ketika Rama membuka kado yang ia dapatkan ternyata berisi makanan yang harganya sama namun jumlahnya lebih banyak dari kado yang ia buat.
“Wah, gak rugi nih,” kata Rama.
Lain halnya dengan Nanda. Dia mendapat kado dari Ayung. Dan dari sekian banyak kado, milik Ayung lah yang paling unik. Dia membungkusnya dengan koran yang amat tebal. Dibuka sekali, belum muncul. Lapisan kedua pun dibuka, namun masih ada lapisan ketiga. Nanda pun jengkel, akhirnya dia sobek pembungkusnya. Yang lain pun tertawa melihat tingkah Nanda. Ternyata bungkus terakhirnya adalah plastik hitam. Sial betul Nanda karena isinya hanya beberapa makanan kecil dan sebotol teh.
Setelah acara kado silang, acara terakhir yaitu acara bakar-bakar. Sebelumnya, aku dan Ipul telah menyiapkan 20 ekor ikan gembung yang telah kami kukus untuk acara bakar-bakar ini. Tak lupa kami siapkan bumbu-bumbu dan nasi untuk makan bersama sebagai acara penutup sebelum tidur. Dalam acara ini kami berbagi tugas. Anak-anak perempuan yang dipandu Mbak Adis membuat bumbu untuk ikan bakar. Sedangkan yang laki-laki menyiapkan api untuk bakaran. Setelah siap, keduapuluh ikan gembung pun dibakar. Sekitar jam 11.30, semua makanan sudah siap. Kami pun mulai makan bersama.
Di luar, pesta kembang api telah dimulai. Letusan kembang api bersahut-sahutan memekakakkan telinga. Beberapa dari anak-anak ada yang keluar melihatnya di teras lantai atas. Dari sepuluh menit sebelum pukul 00.00 hingga beberapa menit setelahnya, rentetan letusan kembang api semakin riuh. Langit tahun baru 2014 pun dipenuhi cahaya berwarna-warni akibat letusan kembang api. Sekitar pukul 00.30, acara makan-makan selesai. Pesta kembang api juga mulai reda. Satu persatu dari kami mulai mengantuk. Anak-anak putri tidur di lantai dua, sedangkan yang putra tidur di masjid.
Kami mulai terlelap dalam keriuhan pesta kembang api. Perlahan mata kami tertutup digantikan alam baru yang tak kalah meriah, yaitu alam mimpi. Kami larut dalam mimpi masing-masing. Selama hampir empat jam, kami mengarunginya. Empat jam adalah waktu yang begitu cepat dalam dunia mimpi. Adzan subuh pun membangunkan kami dari alam mimpi. Yang mimpi indah, malas-malasan bangun tapi yang mimpinya biasa-biasa saja buru-buru ambil air wudhu. Kami pun menunaikan sholat subuh berjamaah.
Selepas subuh, secara tak terduga, kami ketiduran. Tidak tanggung-tanggung, kami tertidur selama hampir dua jam. Cukup setimpal dengan malam yang kami habiskan untuk acara bakar-bakar. Setengah tujuh, kami dibangunkan anak-anak putri yang ternyata justru tidak tidur sehabis subuh.
Sebagai acara penutup, kami jalan-jalan ke Kragilan menggunakan sepeda motor. Namun kami kecewa karena Kragilan tak seindah dulu wakti kami masih suka bermain di sana. Dulu tempat tersebut adalah hamparan petak-petak sawah yang luas dengan rerumputan nan hijau di sela-selanya. Kami biasa bermain atau lari bersama di tempat tersebut sambil menghirup udara segar pagi hari. Namun, kini tempat tersebut telah berubah menjadi kawasan proyek perumahan. Tanah-tanah dikeruk, gundukan pasir di mana-mana, serta beberapa alat berat ada di sana. Kami pun memutuskan berpindah tempat.
Dengan sepeda motor, kami berjalan-jalan menyusuri pedesaan hingga Ring Road Utara. Melewati tempat-tempat baru tanpa berhenti. Bahkan kami sempat tersesat. Setelah merasa puas, kami pun kembali ke masjid. Kami juga membeli lima bungkus soto ayam. Sesampainya di masjid, kami langsung menyantap soto tersebut bersama. Anak-anak senang sekali dengan kegiatan ini. Mereka tidak menyesal karena melewatkan malam tahun baru tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka justru berharap tahun depan mengadakan acara ini kembali.
Sekali lagi aku bisa bersama anak-anak. Menemani mereka melewati masa-masa yang riskan dengan perkembangan zaman yang kian tidak peduli dengan masa depan anak. Setidaknya, acara yang sederhana ini membuat mereka bahagia tanpa harus ikut dalam euforia perayaan Tahun Baru Masehi, tahun barunya umat Nasrani. Dan yang terpentingbagi kita, para pengajar dan pendidik, membersamai dan memberikan teladan kepada mereka sudahlah cukup untuk membuat kita bahagia. Bahagia di atas kebahagiaan mereka.



No comments:

Post a Comment