Kegelapan Menyelimuti
Asaku
By: Ryo Potter
Suasana gelap gulita tanpa ada penerangan sedikit pun. Nining berusaha membuka mata
selebar-lebarnya namun tetap saja tak ada satu pun benda yang bisa dilihatnya.
Dia lalu mencoba meraba-raba sekitarnya dan menyentuh sesuatu yang ternyata tubuh manusia tergolek lemah
disampingnya. Ini
mungkin Ajeng, pikir Nining dalam
hati.
“Mbak? Mbak Ning?” Nining begitu
mengenali suara merdu itu. Ya, suara adiknya. Adik satu-satunya yang sangat ia
sayangi.
“Ajeng, ini mbak. Kamu ndak apa-apa, tho?” kata
Nining dengan logat Jawa-nya yang kental.
“Kepalaku sakit sekali, Mbak.” jawab Ajeng sambil meringis kesakitan.
Dia meraba kepalanya dan mendapatinya berdarah. “Kita dimana, Mbak? Kenapa
gelap sekali? Aku takut sekali, Mbak,” kata Ajeng yang kemudian memegang erat tangan Nining.
“Jangan takut, Dik. Mbak di sini,” kata Nining yang sebenarnya juga sangat ketakutan. “Mbak Jum mana?”
“Aku ndak tahu, Mbak,” kata Ajeng sambil merapatkan pelukannya
kepada Nining.
“Semua ini salahku karena telah mengajak kamu dan Mbak Jum kesini. Aku telah membuat kalian ikut menerima akibat perbuatanku,” kata Nining sembari mengelus-elus kepala
Ajeng.
“Mbak, aku mau pulang. Aku ingin ketemu bapak dan ibu. Aku takut
sekali, Mbak,” rengek Ajeng sambil menyeka air matanya.
Nining terdiam. Ingatan akan masa lalunya terlintas dalam benak.
*********
“Ning, bangun nduk.” Suara itu
membangunkan Nining dari tidur nyenyaknya. Ia
pun melirik jam waker di atas meja. Pukul 05.00 pagi.
“Inggih, Bu. Ning sudah bangun.” jawab Nining kemudian melangkahkan
kakinya ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah selesai sholat subuh, dia
bertilawah sejenak dengan membaca dua lembar dari Juz 2.
“Sarapan sudah siap, Nduk,
langsung ke meja makan ya.”
Begitu selesai berdandan,
Nining langsung ke meja makan. Dia kaget ketika melihat sepeda berwarna merah jambu diletakkan di depan TV dan bertanya-tanya sepeda siapakah ini.
“Kamu suka sepedanya, Nduk?”
kedatangan ibu membuat Nining tersentak.
“Maksud ibu?” tanya Nining keheranan. Ibu hanya tersenyum dan kebahagiaan pun
langsung membuncahi bunga jiwanya.
“Ibu pasti
bercanda! Sepeda ini bukan untuk Ning kan?” ibunya hanya menjawab dengan senyuman. Nining kemudian teringat orang tuanya pernah
berjanji akan membelikan sepeda jika mampu mempertahankan prestasinya di kelas. Dia menerima hadiah sepeda dari
kedua orang tuanya karena empat semester telah menjadi juara kelas secara berturut-turut.
Ya, Nining memang adalah
gadis desa yang baik, lugu dan cakap. Selain berprestasi di sekolah, ia juga aktif dalam berbagai macam kegiatan desa bahkan di sela-sela persiapan ujian akhir, ia malah terplih menjadi ketua karang taruna. Namun hal
tersebut tidak menganggu belajarnya dan dia tetaplah Nining, anak desa yang rendah hati dan brilian. Semua orang tentu mengharapkan
hal-hal yang besar terjadi padanya
suatu saat nanti. Termasuk kedua orangtuanya.
Dengan mendapat nilai yang nyaris sempurna, akhirnya Nining menjadi
lulusan terbaik di SMA dan oleh guru-gurunya, ia disarankan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bahkan
kepala sekolahnya menawarkan beasiswa untuk melanjutkan ke salah satu perguruan
tinggi terkenal di Yogyakarta. Namun seperti kebanyakan teman-temanya, dia
tidak ingin melanjutkan kuliah. Memang sudah menjadi tradisi orang-orang di kampungnya bahwa setelah lulus SMA harus bekerja, membantu orang
tua yang selama ini telah membiayai sekolahnya dan sebagai tabungan masa depan jika sudah berpisah dari
orangtua.
“Kenapa ndak diambil saja, Nduk? Kan nanti bapak sama ibu tinggal
membiayai biaya hidupmu di Jogja.” kata ibunya ketika makan malam bersama.
“Ndak, Bu. Biaya hidup di
Jogja itu mahal. Lagian, Nining bercita-cita pengen bekerja setelah lulus SMA. Nining ingin mencari duit yang
banyak, membelikan motor untuk bapak, dan memperbaiki rumah kita. Nining juga kepingin menikmati
masa muda sebelum bapak mencarikan jodoh untuk Ning.”
“Tapi kan...”
“Sudah, Bu…” kata ayah Nining menyela. “…biarkan Nining mencari apa yang diingikannya.
Toh dia sudah besar dan bisa
berpikir dewasa. Apalagi sampai memikirkan jodoh. Itu artinya dia sudah gede, Bu. Iya kan, Ning?” Sambil melirik Nining yang tersipu.
“Tapi Nining kan baru lulus SMA, Pak. Masih terlalu muda untuk bekerja.
Apalagi jika bekerja jauh dari kita atau mungkin kerja di negeri orang. Ibu
belum tega, Pak.”
“Anak muda memang harus begitu, Bu. Harus berani.” Kata ayahnya sambil
melahap ikan asin dan sambal tomatnya. Diam-diam Nining kagum dengan pemikiran
ayahnya yang kritis. Kata-kata ayahnya membuat ia semakin yakin untuk bekerja.
“Aku mau kerja di luar negeri, Bu. Aku mau menjadi TKI seperti Lek
Marni yang ke Arab Saudi. Ibu lihat kan, sekarang rumahnya bagus, motornya dua
dan sapinya tiga. Jika aku jadi TKI, aku akan belikan motor buat bapak dan juga
buat Ajeng biar dia tidak perlu jalan kaki ke sekolah. Bapak juga tidak perlu
capek-capek jalan kaki ke sawah. Ya kan, Pak?” kata Nining yang sudah
menghabiskan makanan dalam piringnya.
“Nanti belikan HP juga ya, Mbak. Teman-temanku sudah banyak yang punya
HP,” kata Ajeng yang sedari tadi hanya
mendengarkan pembicaraan mereka.
“Ya, Bapak sih tidak mengharapkan itu semua. Bapak hanya berharap kamu bisa hidup mandiri. Bisa memenuhi
kebutuhanmu sendiri. Kalau pun nanti mau beli motor, memperbaiki rumah dan yang
lainnya, itu terserah kamu. Bapak tidak terlalu berharap akan hal itu.”
“Berarti bapak mendukungku jika aku menjadi TKI? Benar Pak?” tanya
Nining bersemangat. Ayahnya hanya tersenyum. Namun ibunya masih diam.
Sepertinya banyak kekhawatiran dalam benaknya jika Nining menjadi TKI.
“Tapi Nduk, memangnya kamu tidak lihat di televisi akhir-akhir ini? Banyak TKI yang nasibnya tidak seberuntung Lek Marni. Ada yang pulang
karena tidak betah. Ada yang disiksa majikannya. Ada yang pulang dalam keadaan
berbadan dua. Bahkan ada yang pulang tinggal jasadnya. Ibu ngeri sekali melihat itu semua. Ibu tidak mau kamu jadi
seperti itu,” kata ibunya sambil meletakkan sendok karena mendadak tidak nafsu makan.
“Itu kan mereka yang bekerja menjadi pembantu, Bu, bahkan ada juga yang menjadi TKI ilegal. Aku hendak kerja di PT dan aku juga akan mendaftar melalui
PJTKI resmi. Aku akan menjaga diriku baik-baik. Ibu tidak usah khawatir.”
Mendengar penjelasan Nining, ibu tetap terdiam. Ia merasa firasatnya sungguh tak enak.
Sebaliknya, ayahnya tanpa pikir
panjang langsung mengiyakan keinginan Nining untuk bekerja di luar negeri.
Apalagi melihat kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Jika Nining kuliah, pasti menambah pengeluaran setiap bulannya,
sedangkan ayahnya hanya bekerja sebagai petani dengan penghasilan yang
pas-pasan pula. Ajeng, yang saat ini sudah kelas tiga SMP, sebentar lagi akan
memasuki SMA yang pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Pada bulan Agustus, ketika semua berkas-berkas kelulusan Nining telah
selesai, dia berusaha mencari info lowongan kerja ke luar negeri melalui radio. Banyak sekali info yang ia dapatkan
terutama info kerja ke Negeri Jiran, Malaysia. Puluhan PJTKI bahkan menawarkan
penyaluran TKI kesana dengan berbagai fasilitas serta penawaran gaji yang
sangat menggiurkan. Gaji di Malaysia jauh melebihi gaji bekerja di dalam negeri. Tentu hal tersebut membuat
Nining semakin yakin untuk bekerja di sana. Dengan gaji sebesar itu, ia akan membuktikan kepada keluarganya
bahwa dia mampu mewujudkan impiannya untuk membelikan motor
dan memperbaiki rumahnya.
Nining memutuskan berangkat ke Malaysia setelah beberapa hari mengikuti karantina sebagai persiapan keberangkatannya. Tetesan air mata ibu pun mengiringi keberangkatan Nining ke bandara. Dengan modal hasil sawah ayahnya yang dijual,
serta kemantapan hati untuk mengadu nasib ke negeri orang, Nining akhirnya
berangkat meninggalkan tanah kelahiran serta keluarga besarnya.
“Jaga dirimu baik-baik, Nduk.
Carilah tempat dan teman yang baik. Jangan mengikuti teman yang tidak baik dan
jangan berada di tempat yang seharusnya kamu tidak berada. Berdoa selalu dan
jangan lupa sholat,” kata
ibunya seraya memeluk erat Nining.
“Iya, Bu. Nining akan selalu ingat kata-kata ibu. Ibu tidak usah
menangis, aku akan menjaga diri sebaik mungkin,” kata Nining sambil mengusap air mata ibunya.
“Jangan lupa lho, Mbak. Belikan HP buat Ajeng yang bagus,” kata Ajeng yang ikut mengantarkannya ke
bandara.
“Iya, Dik. Doain Mbak ya…” kata Nining sambil mengacak-acak rambut Ajeng. “…belajar yang rajin siapa tahu besok menyusul
Mbak.”
“Oke, Mbak,” kata Ajeng
bersemangat.
**********
Malaysia begitu indah bagi orang desa yang pemandangan sehari-harinya hanyalah pegunungan dan hamparan sawah yang luas dan
menghijau. Kotanya tertata rapi dengan
gedung-gedung tinggi dan megah menjulang di mana-mana. Jalan raya yang ramai serta kendaraan yang mewah, selalu berseliweran memadati ruas-ruas kota. Menara Petronas, yang konon merupakan gedung tertinggi di dunia itu, kini menjulang angkuh
di sana. Kedua
puncak
lancipnya seakan hendak menunjukan tingginya peradaban bangsa Malaysia.
Waktu pun merayap.
Setahun sudah Nining berada di negara itu dan ia mulai merindukan tanah kelahirannya yang asri
nan hijau. Dia juga merasa tidak betah hidup di sana. Rasa tidak betahnya
bermula ketika merasa gaji yang ia dapatkan tidak sesuai dengan yang dijanjkan
perusahaan karena dipotong untuk ini dan itu. Potongan yang paling besar adalah
untuk biaya permit
kepada pemerintah Malaysia. Belum lagi potongan untuk PJTKI setiap bulan.
Suatu malam, ketika dia pergi ke mal bersama teman-temannya, dia
berjumpa dengan seorang bapak-bapak yang kemudian menawarinya untuk bekerja di
perusahaanya dengan gaji yang jauh lebih besar daripada gajinya saat ini serta tanpa ada potongan macam-macam. Tanpa pikir
panjang, Nining pun
menerima tawaran itu hingga pada akhirnya, Nining resmi menjadi TKI ilegal. Pekerjaannya sekarang tidak terlalu berat seperti di tempat kerja
Nining sebelumnya. Dia bekerja di sebuah bar yang lumayan besar namun, ada satu hal yang masih ia rasa berat untuk melakukannya, yaitu harus
melepas jilbabnya ketika bekerja. Dia juga harus berpakain mini yang membuatnya
risih pada awal-awal bekerja, namun, lama-kelamaan ia semakin terbiasa pada penampilan seperti itu. Dari pekerjaanya, dia bisa mendapatkan penghasilan dua kali
lipat dari pekerjaannya sebelumnya. Terlebih lagi ketika dia mendapatkan uang tambahan dari pengunjung yang rata-rata adalah bos-bos besar, para pengusaha dan
orang-orang elit Malaysia.
Ketika tabungan Nining sudah banyak, dia meminta izin untuk pulang ke
Indonesia
namun bosnya tidak
mengizinkan. Nining
tak habis akal. Segala bujuk rayu pun
ia keluarkan hingga akhirnya diizinkan pulang dengan syarat bosnya harus menemani ke Indonesia
baru kemudian kembali lagi ke Malaysia.
********
Nining pulang dengan ditemani bosnya yang sebenarnya membuat perasaannya tidak terlalu nyaman, tapi apa boleh buat, karena bosnya lah yang selama ini telah mengubah
hidupnya. Sesampainya di rumah, Nining disambut keluarga dengan perasaan rindu
mengingat sudah dua tahun lebih dia meninggalkan kampung halaman. Walau begitu, mereka terheran-heran dengan perubahan Nining yang drastis. Tidak lagi berjilbab dan berpakaian yang sama sekali jauh dari penampilannya sebelum ke Malaysia dua tahun lalu.
“Ini pimpinan perusahan tempatku kerja, Bu.” kata Nining ketika ibunya
tiba-tiba menariknya ke dalam rumah.
“Kenapa dia ikut kamu ke sini?”
“Dia ingin melihat tempat tinggal Nining sekalian mengajak Ajeng dan
Mbak Jum ke sana.”
“Mengajak Ajeng? Untuk bekerja? Tapi adikmu masih sekolah, Nduk,” tanya ibunya keheranan.
“Di perusahaan tempat Nining kerja, siapa pun boleh bekerja walau tidak lulus sekolah sekalipun. Kalau pada akhirnya Ajeng mau ke Malaysia, kenapa harus menunggu
sampai lulus?” kata Nining menjelaskan.
“Kalau memang seperti itu, ibu hanya bisa mempercayaimu untuk menjaga adikmu di sana.”
Setelah membelikan ayahnya motor baru dan meninggalkan sejumlah uang
untuk memperbaiki rumah serta tinggal di rumahnya selama lima hari, Nining
kemudian kembali lagi ke Malaysia dengan mengajak Ajeng dan Mbak Jum. Dengan
iming-iming gaji yang besar, Ajeng rela meninggalkan bangku sekolahnya untuk
ikut kakaknya ke Malaysia.
Sesampainya di tempat kerja, Ajeng dan Mbak Jum heran. Mereka tidak
menyangka Nining kerja di tempat seperti itu. Apalagi ketika melihat
orang-orang yang berkunjung ke tempat itu. Mereka lebih seperti para hidung
belang yang mencari wanita penghibur untuk diajak berfoya-foya. Pantas saja
Nining tidak berjilbab ketika pulang bahkan cara berpakaianya pun sudah seperti orang kota.
“Ning, kenapa kamu mau kerja di tempat seperti ini? Ini sama sekali
bukan tempat kerja yang aku inginkan,” kata Mbak Jum yang mulai tidak nyaman setelah tiga hari bekerja.
Ajeng, yang benar-benar tidak nyaman dengan pakaiannya yang ketat dan minim
serta kelakuan para pengunjung yang tidak segan-segan memegang tangannya, hanya
bisa mengeluh tiap malam.
Suatu malam ketika mereka genap satu bulan bekerja, terjadi keributan
di tempat mereka bekerja. Ajeng mendapat perlakuan yang tidak sopan dari salah
satu pengunjung. Sehabis mengantar minuman, pengunjung itu memberinya beberapa
lembar uang ringgit. Kemudian orang itu meremas bokong Ajeng. Spontan Ajeng mengambil salah satu gelas di meja
kemudian menumpahkannya ke wajah orang itu.
“Dasar Indon
tak tahu diuntung! Berani-beraninya awak
berlaku seperti itu!” bentak si om-om genit sembari menampar muka Ajeng. Buru-buru Nining
menghampiri dan menengahinya.
“Heh
Tuan, jangan
macam-macam dengan adik saya!” kata Nining sambil mengangkat adiknya yang
jatuh.
“Kamu juga ingin saya tampar?” Satu tamparan lagi melayang ke pipi Nining. Mbak Jum pun ikut
menghampiri mereka. Bosnya datang meminta maaf kepada pengunjung itu dan
kemudian menyeret mereka ke ruang belakang.
“Orang itu sudah berbuat kurang ajar kepada adik saya. Kami mau
berhenti bekerja,” kata Nining ketika sudah sampai di belakang.
“Apa yang kalian lakukan? Kalian yang kurang ajar. Kalian sudah
mempermalukan bar ini dengan perbuatan adikmu…” kata bosnya, “…aku tidak
akan membiarkan kalian pergi begitu saja dari sini.” Dia kemudian memukuli
ketiganya
dengan kasar, bahkan tak berhenti walau mereka sudah menjerit-jerit kesakitan.
*******
“Mbak? Mbak kenapa?” kata-kata Ajeng mengagetkan Nining dari
lamunannya.
“Kita harus keluar dari sini, Ajeng…” Namun belum selesai Nining berkata, tiba-tiba lampu kamar di mana mereka disekap, menyala.
“Ssssstt.. .aku akan
sembunyi, kamu di sini saja.” Nining buru-buru bersembunyi saat seseorang masuk membawa senampan makanan. Nining pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang dan langsung
memukul orang itu tepat di kepalanya.
“Bangunkan Mbak Jum, ayo kita pergi dari sini.”
Ajeng
pun langsung membangunkan
Mbak Jum. Kemudian mereka semua berlari
sekencang-kencangnya menjauhi rumah itu sampai berada di
tepi jalan yang ramai.
“Ayo kita ke KBRI. Cepat!” Nining langsung berlari menyeberang tanpa memperhatikan laju kendaraan yang ramai di
hadapannya dan yang terjadi selanjutnya hanyalah kegelapan menyelimutinya. Ya,
kegelapan setelah satu benturan keras melemparkan tubuhnya ke udara.
*********
Keesokan harinya, ribuan kilometer dari Malaysia, ibu Nining sedang
asyik menonton berita yang sudah
menjadi teman setia ibu Nining sembari melahap sarapan paginya. Berita
tentang TKW akhir-akhir ini memang sedang hangat menjadi headline
news di acara tersebut dan berita kali ini bertajuk, “TKI tewas tertabrak mobil di Malaysia”.
“Pak,
anak kita Pak!” kata ibu Nining setengah menjerit.
“Ada apa dengan anak kita, Bu?” jawab Bapak yang masih berada di dapur.
“Anak
kita ada di televisi. Nining tertabrak mobil, Pak.” jawab ibu Nining yang terus meyakinkan dalam hati bahwa itu bukanlah anaknya. Hatinya terus memberontak namun apa daya, tangis
pun pecah tatkala melihat
Ajeng dan Mbak Jum sedang menangis di dekat jenazah wanita itu. Jenazah Nining.