Friday, September 14, 2012

CERBUNG


Cinta Pizza Hut

 By: Ryo Potter


Di keheningan malam yang mulai menggelap, terlihat sekilas cahaya putih di langit. Singkat, sangat singkat disusul dengan suara petir yang agak menggelegar lima detik berikutnya. Tak usah menunggu hingga sepuluh menit, titik-titik air pun turun dari gelapnya langit malam. Makin banyak kilat yang terlihat  yang diikuti gemuruh di langit. Air pun semakin deras mengguyur bumi yang sebetulnya belum membutuhkan datangnya air.
            Bersamaan dengan derasnya hulan itu, meringkuk lah seorang cowok di atas tempat tidurnya yang berada dilantai teratas sebuah apartemen yang cukup mewah di tengah kota. Dia menggeliat sambil memegang perutnya. Hujan memaksanya untuk bisa menahan rasa lapar sehingga ia tidak bisa keluar untuk membeli makanan.
            Namanya Dika. Dia adalah cowok lugu yang sedang kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di ibu kota. Oleh orang tuanya, dia dibelikan sebuah apartemen untuk dia tempati selama kuliah, fasilitas yang jarang-jarang dimiliki oleh mahasiswa lain. Selain itu, ada satu Honda Jazz yang selalu terparkir di basemen kompleks apartemen. Satu Blackberry keluaran terbaru yang hanya diperasikan cukup dengan sentuhan jari-jarinya. Tak hanya itu, fasilitas semakin lengkap dengan satu unit laptop Apple varian paling gress yang memungkinkan pengguna melakukan aktifitas di layar komputer tanpa harus menuggu loading. Namun, dari seluruh fasilitas yang serba wah tadi masih ada yang kurang bagi seorang cowok sekelas Dika, yaitu punya pacar. Ya, Dika masih jomblo hingga memasuki semester empat ini. Statusnya sebagai mahasiswa yang tajir ternyata kurang menarik perhatian cewek-cewek ibu kota.
            “Huh...laper banget!!” rintih Dika masih memegang perut. Dia mencoba untuk bangun, lalu berjalan menuju dapur berharap ada sesuatu yang bisa dimakan. Meskipun dia anak orang kaya, namun hidup sendiri jauh dari orang tua membuatnya belajar mandiri. Dia mulai belajar masak juga baru ketika dia kuliah. Itu aja hanya sekedar menanak nasi memakai Magic Jar serta masak mie rebus dan telur mata sapi. Terlebih ketika jatah kiriman menipis ketika akhir bulan.
            Ini adalah awal April. Artinya, Dika pasti banyak uang. Itu membuatnya malas untuk masak sendiri. Dan sangat tidak beruntung, malam ini Dika harus benar-benar menerima bahwa dirinya harus melewati malam menjelang tidurnya dalam keadaan lapar. Dia tidak menemukan apa pun di dapurnya. Hanya beberapa buah dan air mineral di lemari es.
            “Duh...sial banget gue malam ini,” katanya sambil mengacak-acak dalam lemari es. “Mana hujan lagi, lengkap sudah deh penderitaan gue malam ini,” menjatuhkan diri lagi di atas kasurnya. “Coba gue punya istri, lapar tinggal makan. Huh..nasib jadi jomblo sejati.”
            Sebuah ide terlintas dalam batinnya. Dia bangkit. Diambilanya Blackberry yang berada di atas meja belajarnya. Jarinya mulai menyentuh layar hape canggih itu. Setelah menari beberapa saat, ujung telunjuknya mengeksekusi teks tersebut. Send. Dua detik berikutnya adalah laporan pesan yang telah disampaikan. “Yess...” kata Dika sambil mengepalkan tangan kananya seakan baru saja memperoleh kemenangan.
            Dia mainkan hapenya di atas meja. Dia putar-putar hingga berhenti. Hujan di luar makin deras. Pemandangan lampu kota mulai terhalang oleh air hujan bak kabut di pagi hari. Kerlip lampunya mulai terlihat samar-samar. Malam yang semakin gelap membuat aktifitas manusia berkurang.
            “Sial...lama banget si Joni,” katanya yang sekarang berdiri sambil mondar-mandir seakan sedang berfikir untuk memutuskan suatu hal. Lima menit berlalu tanpa ada tanda-tanda dari Blackberry-nya. Diambilnya lagi benda itu. Sekali lagi jarinya menari di atas layar hapenya. Dua menit kemudian hapenya berbunyi dan bergetar membuat benda itu bergeser sedikit dari tempatnya semula. Diraihnya Blackberry  itu dengan cepat secepat kilat. Baru saja membuka pesan yang pertama, hapenya berbunyi lagi.
            “Dasar Joni, tega banget sama kawan sendiri,” umpatnya begitu pesan itu ia baca. “Si Angga Toying ikut-ikutan lagi,” katanya lagi ketika membuka pesan kedua. “Kayaknya mereka kompakan deh,” dia letakkan Blackberry-nya. “Loe semua emang bukan teman sejati, giliran loe pada lapar rajin banget ke rumah gue. Ehh...giliran gue yang lapar pada ngumpet di balik selimut,” gerutu Dika sambil merebahkan tubuhnya. “Lihat aja besok kalo kalian lapar, bakalan gue biarin kelaparan.”
            Tiba-tiba Blackberry-nya berbunyi lagi. Buru-buru Dika menyambar hapenya. Dari Angga lagi, “Loe mending telpon Pizza aja, pasti dianter deh,” begitu tulisan pesan itu. Betul juga, kata Dika dalam hati. “Otak loe encer juga ternyata. Oke deh, tidur lagi sana, gue mau pesen Pizza, hahaha...” dia sentuh tombol kirim. Setelah itu dia cari nomor panggilan untuk Pizza Hut dalam Phonebook-nya.
            “Hallo..iya, saya pesan Pizza dan antarkan ke kompleks apartement Kelapa Gading lantai 28 No. 8,” kemudian diam sejenak. “Iya, Mbak, makasih ya. Eh...hati-hati hujannya deres banget,” ditutupnya telpon itu. Ia letakkan lagi ke nejanya kemudian ia tiduran lagi.
                                                                                               
                                                                                                                        To be continued ….

No comments:

Post a Comment