Cinta Pizza Hut
By: Ryo Potter
Di keheningan malam yang mulai menggelap,
terlihat sekilas cahaya putih di langit. Singkat, sangat singkat disusul dengan
suara petir yang agak menggelegar lima detik berikutnya. Tak usah menunggu
hingga sepuluh menit, titik-titik air pun turun dari gelapnya langit malam.
Makin banyak kilat yang terlihat yang
diikuti gemuruh di langit. Air pun semakin deras mengguyur bumi yang sebetulnya
belum membutuhkan datangnya air.
Bersamaan dengan
derasnya hulan itu, meringkuk lah seorang cowok di atas tempat tidurnya yang
berada dilantai teratas sebuah apartemen yang cukup mewah di tengah kota. Dia
menggeliat sambil memegang perutnya. Hujan memaksanya untuk bisa menahan rasa
lapar sehingga ia tidak bisa keluar untuk membeli makanan.
Namanya Dika. Dia
adalah cowok lugu yang sedang kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di ibu
kota. Oleh orang tuanya, dia dibelikan sebuah apartemen untuk dia tempati
selama kuliah, fasilitas yang jarang-jarang dimiliki oleh mahasiswa lain.
Selain itu, ada satu Honda Jazz yang selalu terparkir di basemen kompleks
apartemen. Satu Blackberry keluaran terbaru yang hanya diperasikan cukup
dengan sentuhan jari-jarinya. Tak hanya itu, fasilitas semakin lengkap dengan
satu unit laptop Apple varian paling gress yang memungkinkan
pengguna melakukan aktifitas di layar komputer tanpa harus menuggu loading.
Namun, dari seluruh fasilitas yang serba wah tadi masih ada yang kurang bagi
seorang cowok sekelas Dika, yaitu punya pacar. Ya, Dika masih jomblo hingga
memasuki semester empat ini. Statusnya sebagai mahasiswa yang tajir ternyata
kurang menarik perhatian cewek-cewek ibu kota.
“Huh...laper
banget!!” rintih Dika masih memegang perut. Dia mencoba untuk bangun, lalu
berjalan menuju dapur berharap ada sesuatu yang bisa dimakan. Meskipun dia anak
orang kaya, namun hidup sendiri jauh dari orang tua membuatnya belajar mandiri.
Dia mulai belajar masak juga baru ketika dia kuliah. Itu aja hanya sekedar
menanak nasi memakai Magic Jar serta masak mie rebus dan telur mata
sapi. Terlebih ketika jatah kiriman menipis ketika akhir bulan.
Ini adalah awal April.
Artinya, Dika pasti banyak uang. Itu membuatnya malas untuk masak sendiri. Dan
sangat tidak beruntung, malam ini Dika harus benar-benar menerima bahwa dirinya
harus melewati malam menjelang tidurnya dalam keadaan lapar. Dia tidak
menemukan apa pun di dapurnya. Hanya beberapa buah dan air mineral di lemari
es.
“Duh...sial
banget gue malam ini,” katanya sambil mengacak-acak dalam lemari es.
“Mana hujan lagi, lengkap sudah deh penderitaan gue malam ini,”
menjatuhkan diri lagi di atas kasurnya. “Coba gue punya istri, lapar
tinggal makan. Huh..nasib jadi jomblo sejati.”
Sebuah ide terlintas dalam batinnya. Dia bangkit.
Diambilanya Blackberry yang berada di atas meja belajarnya. Jarinya
mulai menyentuh layar hape canggih itu. Setelah menari beberapa saat, ujung
telunjuknya mengeksekusi teks tersebut. Send. Dua detik berikutnya
adalah laporan pesan yang telah disampaikan. “Yess...” kata Dika sambil
mengepalkan tangan kananya seakan baru saja memperoleh kemenangan.
Dia mainkan
hapenya di atas meja. Dia putar-putar hingga berhenti. Hujan di luar makin deras.
Pemandangan lampu kota mulai terhalang oleh air hujan bak kabut di pagi hari.
Kerlip lampunya mulai terlihat samar-samar. Malam yang semakin gelap membuat
aktifitas manusia berkurang.
“Sial...lama
banget si Joni,” katanya yang sekarang berdiri sambil mondar-mandir seakan
sedang berfikir untuk memutuskan suatu hal. Lima menit berlalu tanpa ada
tanda-tanda dari Blackberry-nya. Diambilnya lagi benda itu. Sekali lagi
jarinya menari di atas layar hapenya. Dua menit kemudian hapenya berbunyi dan
bergetar membuat benda itu bergeser sedikit dari tempatnya semula. Diraihnya Blackberry
itu dengan cepat secepat kilat. Baru
saja membuka pesan yang pertama, hapenya berbunyi lagi.
“Dasar Joni, tega
banget sama kawan sendiri,” umpatnya begitu pesan itu ia baca. “Si Angga Toying
ikut-ikutan lagi,” katanya lagi ketika membuka pesan kedua. “Kayaknya mereka
kompakan deh,” dia letakkan Blackberry-nya. “Loe semua emang
bukan teman sejati, giliran loe pada lapar rajin banget ke rumah gue.
Ehh...giliran gue yang lapar pada ngumpet di balik selimut,” gerutu Dika sambil
merebahkan tubuhnya. “Lihat aja besok kalo kalian lapar, bakalan gue
biarin kelaparan.”
Tiba-tiba Blackberry-nya
berbunyi lagi. Buru-buru Dika menyambar hapenya. Dari Angga lagi, “Loe mending
telpon Pizza aja, pasti dianter deh,” begitu tulisan pesan itu. Betul
juga, kata Dika dalam hati. “Otak loe encer juga ternyata. Oke deh,
tidur lagi sana, gue mau pesen Pizza, hahaha...” dia sentuh tombol kirim. Setelah
itu dia cari nomor panggilan untuk Pizza Hut dalam Phonebook-nya.
“Hallo..iya, saya
pesan Pizza dan antarkan ke kompleks apartement Kelapa Gading lantai 28 No. 8,”
kemudian diam sejenak. “Iya, Mbak, makasih ya. Eh...hati-hati hujannya deres
banget,” ditutupnya telpon itu. Ia letakkan lagi ke nejanya kemudian ia tiduran
lagi.
To
be continued ….
No comments:
Post a Comment