By: Ryo Potter
Langit malam bulan Desember selalu membawa kejutan. Kadang cerah
kadang mendung dan kadang disertai kilat dan bahkan hujan yang deras sepanjang
malam. Secara astrologis, bulan Desember adalah puncak dari musim penghujan,
dimana curah hujan sangat tinggi sehingga tak ayal jika hujan mengguyur
sepanjang hari.
Namun malam ini agak berbeda. Langit agak berawan, meski ada
beberapa kilat dan petir di sudut-sudut cakrawala. Udara pun terasa begitu
sejuk menghembuskan nafas-nafas alam yang merasuk ke relung-relung siapa pun
yang diterpanya. Dalam suasana tersebut, dua orang cowok sedang bercakap-cakap
di kamar kontrakan mereka yang terletak di lantai dua. Kontrakan tersebut cukup
nyaman karena selain berada di lantai dua namun juga terdapat banyak pohon
rindang di sekitarnya sehingga udara terasa sejuk siang malam.
“Bagaimana, Yo? Kau sudah menemui orangnya?” tanya Ibnu sembari browsing
di depan laptopnya.
“Siapa? Mira?” kata Ryo balik bertanya kepada Ibnu.
“Iya,” jawab Ibnu tanpa melihat ke arah Ryo.
“Belum. Aku masih mencari informasi tentang detail gadis
tersebut,” kata Ryo yang sedang asyik membaca novel melalui layar komputernya.
Novel tersebut berjudul The Lost Symbol karya Dan Brown. Novel itu cukup
menarik bagi Ryo hingga saking asyiknya membaca ia lupa kalau sedang diajak
berbicara oleh Ibnu.
Beberapa hari yang lalu Ryo curhat mengenai Mira, sahabat Ryo
yang belum lama ia kenal. Ryo bercerita bahwa dia tertarik dengan cewek
tersebut. Mira cukup spesial bagi Ryo. Selain cantik dan cerdas, dia juga
adalah tipe cewek berjilbab lebar. Bagi Ryo, cewek berjilbab lebar memiliki
pesona tersendiri ketika memandangnya. Menyejukkan mata dan menentramkan hati.
“Kalau memang sesuai kriteriamu, tunggu apa lagi?” sahut Ibnu
yang masuh asyik dengan aktifitas browsing-nya. “Keburu diambil orang
lain lho,” lanjutnya.
Ibnu adalah sahabat Ryo sejak mereka tinggal satu kontrakan.
Pertemuan pertama mereka adalah ketika mengikuti halaqoh Hizbut Tahrir di
Maskam UGM. Ibnu adalah tipe orang yang sangat peduli terhadap temannya. Dia selalu
mendukung hal-hal positif yang dilakukan Ryo, namun juga tak segan menegurnya
ketika Ryo mulai melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dari sisi ilmu agama,
dia juga cukup luas wawasannya, sehingga Ryo sering menjadikan dia sebagai
konsultan untuk setiap perkara syar’i yang tidak ia mengerti.
Sebaliknya, Ryo adalah orang yang agak hedonis. Material-oriented
adalah pandangan hidupnya dimana ia menugukur sesuatu dari sisi materi saja. Maka
tak jarang dia sering merasa stres ketika mulai kehabisan uang sedangkan
kiriman dari orang tua tak kunjung datang. Ibnu sering menasihatinya, bahwa pun
jika kita tidak punya apa-apa, kita masih punya Allah yang akan menolong
hamba-hamba-Nya yang kesusahan. Meskipun begitu, bagi Ryo hal itu sangat sulit
dimengerti. Bagaimana bisa hidup tanpa memiliki apa-apa untuk dimakan?
Namun di balik sifat mereka yang bertolak belakang, ada hal-hal
yang membuat mereka merasa saling membutuhkan dan saling melengkapi. Ibnu
selalu ada saat Ryo membutuhkannya dan begitu pula sebaliknya. Persahabatan
yang cukup unik, namun begitulah seharusnya karena memang tak ada gading yang
tak retak. Dan, sahabat sejati tak perlu mamandang siapa dia tetapi seberapa
peduli dia kepada kita.
“Bro, sebentar lagi kamu kan mau nikah. Trus bagaimana denganku?
Kamu tega ninggalin aku meringkuk sendiri di kamar ini?” kata Ryo dengan
sedikit bercanda.
“Makanya buruan khithbah dia. Siapa tahu kita bisa nikah bareng,
hehe…” kata Ibnu mengejek.
Beberapa hari yang lalu Ibnu memberitahu Ryo bahwa bulan depan
dia akan menikah. Dia sudah mengkhithbah calonnya melalui murobbi di
Hizbut Tahrir. Akhwat tersebut adalah salah satu aktivis Muslimah Hizbut
Tahrir. Sudah menjadi kebiasaan pernikahan di antara sesama aktfis HTI. Bagi
Ryo ini sangat sulit meski dia juga menjadi salah satu dar mereka. Sifat
hedonisnya membuat dia berpikir, bagaimana mungkin menikah dengan orang yang
belum dikenal dan belum pernah bertemu?
“Cinta akan tumbuh saat kita sudah halal bagi dia dan dia juga
halal bagi kita,” begitu kata Ibnu suatu hari ketika sedang memperbincangkan
tentang pernikahan. “Cinta yang kita tanam dan kita pupuk adalah ibadah yang
bernilai pahala. Sesuatu yang dianggap zina kala belum halal akan bernilai pahala
saat sudah menikah,” lanjut Ibnu.
“Tapi bagaimana jika setelah menikah kita tahu kekurangan
pasangan kita yang sebelumnya kita tidak ketahui?” timpal Ryo untuk mendebat
Ibnu.
“Itulah kelebihan menikah secara syar’i. Kita meniatkan menikah
sebagai ibadah untuk menggenapkan agama. Jika kita tahu prinsip dasar ini sejak
awal, pernikahan pun tak akan goyah meski pasangan kita mempunyai kekurangan.
Karena dengan rinsip ini kita tidak hanya berorientasi pada kehidupan dunia,
namun juga kehidupan akhirat yang lebih kekal,” papar Ibnu yang membuat Ryo
makin paham.
Ryo menyadari selama ini dia berpikir bahwa menikah hanyalah
sebatas membangun rumah tangga, mempunyai anak, dan menghidupi mereka hingga
saat kita menjelang usia tua, anak kita lah yang akan menjaga kita. Sesimpel
itu pikir Ryo. Fakta bahwa Ibnu akan menikah tanpa melalui pacaran cukup bagi
Ryo sebagai bukti untuk membuka pikirannya yang selama ini hedonis.
“Heh…malah ngelamun!” gertak Ibnu menyadarkan Ryo dari
lamunannya. “Bagaimana? Berani khithbah dia trus nanti kita nikah bareng?” kata
Ibnu dengan serius.
“Gimana ya? Aku tidak yakin, soalnya dia adalah cewek tipemu.
Berjilbab lebar dan tidak pernah pacaran,” jawab Ryo yang sekarang mulai
berbicara serius.
“Kamu bilang dia tahu kalau kamu menyukai dia. Tunjukkan bahwa
kamu serius dengan dia, dong! Dan buktikan kalau kamu tidak hanya ingin
menjadikan dia sebagai pacarmu, tapi lebih dari itu, yaitu istrimu,” Ibnu
sekarang mulai melihat keseriusan Ryo sehingga dia serius mendukungnya.
“Tapi bagamana cara menyampaikannya?” tanya Ryo.
“Kalau kamu serius, datangi orang tuanya. Katakan apa adanya dan
sampaikan bahwa kamu serius dengan putrinya,” jawab Ibnu meyakinkan Ryo.
Dua hari setelah itu, Ryo mengumplkan segenap keberaniannya
untuk mengkhithbah Mira. Ibnu juga berjanji akan menemaninya saat ke rumah
orang tua Mira. Dia pun juga menjelaskan kepada Ryo bahwa yang perlu
dipersiapkan adalah niat yang lurus hanya kepada Allah Subhanallohu wa
Ta’ala sehingga apapun yang hendak ia lakukan agar semata-mata hanya karena
mengharapkan ridho-Nya.
Hari itu pun tiba. Mereka berdua berangkat ke rumah orang tua
Mira lebih pagi dengan harapan tidak terjadi hujan ketika berada di rumah Mira.
Ryo hanya berbekal penampilan seadanya, namun tetap sopan. Tak lupa ia
semprotkan munyak wangi ke sekujur tubuhnya, biar tambah pede, hehe…
“Tak perlu berlebihan,” komentar Ibnu seraya memeriksa
penampilan Ryo. “Kita berangkat sekarang?”
“Yupps … Bismillah!” kata Ryo sambil mengangkat kedua tangannya
lalu dia usapkan ke mukanya.
Perjalanan ke rumah Mira memerlukan waktu 30 menit. Sesampainya
di sana, dia mengetuk pintu seraya mengucap salam, ”Assalamu’alaikum,” kata Ryo
dan langsung dijawab dari dalam rumah.
“Wa’alaikumussalam, eh … nak Ryo. Ayo masuk, silakan!” muncul
seorang wanita yang membukakan pintu yang tak lain adalah ibunya Mira. Kemudian
mereka masuk dan duduk di sofa dekat pintu, setelan sebelumnya dipersilakan
duduk.
“Sudah lama tidak main ke sini. Ibu sering bertanya kepada Mira
kenapa nak Ryo tidak diajak main ke sini lagi,” kata ibu ketika semua sudah
duduk. Memang, Ryo pernah berkunjung sekali sebelumnya.
“Iya, Bu. Maaf baru bisa menyempatkan main ke sini,” jawab Ryo.
“O iya, perkenalkan ini teman saya, Ibnu,” kata Ryo sembari menepuk punggung
Ibnu dan Ibnu pun langsung menelungkupkan kedua tangannya di depan dada sambil
tersenyum. Ibu pun membalas senyum sambil menelungkupkan kedua tangannya juga.
“Nah, ada perlu apa kali ini datang kemari?” tanya ibu dengan ramah.
“Begini, Bu. Maksud kedatangan kami ke sini, pertama saya ingin
bersilaturahmi, dan yang kedua saya bermaksud untuk menemui ayahnya Mira. Ada
hal yang ingin saya sampaika kepada beliau,” kata Ryo sedikit gugup. Ini
disebabkan gemuruh denyut jantungnya yang mulai berdetak kencang.
“Ow … ya sudah ibu panggilkan bapak sebentar. Oya, Ryo mau minum
apa?” kata ibu seraya berdiri.
“Emm…terimakasih, Bu. Tidak usah repot-repot,” jawab Ryo. Ibu
pun kemudian pergi ke belakang.
“Yo, lihat itu,” kata Ibnu sambil menunjuk foto pernikahan yang
terpajang di dinding ruang tamu. Mereka saling berpandangan.
“Mira??” kata mereka bersamaan.
###

No comments:
Post a Comment