Friday, April 5, 2013

Rihlah Bersama TPA Nurul Adhen



By: Ryo Potter

Setahun sudah aku menjabat Direktur TPA Nurul Adhen. Jabatan yang orang-orang bilang adalah paling keren dan paling mudah. Keren iya, mudah? Oh…tidak bisa. Tidak tanpa membuktikannya dulu. Setidaknya mengetahui lah.
Kenapa keren? Iya, lihat aja. Ketika ditanya orang, apa kerjaanmu? Kita bias dengan mudah menjawabnya, direktur lah. Orang pun akan terpengarah. Wow keren! Nah, kalau sudah gitu kan kita bisa dibilang keren padahal dalam hati kita tambahkan dengan “Direktur TPA”, haha.
Lalu kenapa orang bilang menjadi direktur TPA adalah mudah itu salah? Orang bisa bilang, menjadi direktur TPA itu gak perlu melamar, gak perlu syarat2 kaya mau kerja, gak perlu tes tertulis apalagi interview. Mungkin memang benar sebagian. Tapi tahukah bahwa menjadi direktur TPA itu syaratnya banyak sekali dan susah melebihi menjadi direktur perusahaan?
Kenapa susah? Karena jabatan ini tanggung jawabnya langsung kepada Alloh. Tugas utamanya adalah mencetak generasi yang beramal Islami dan berakhlaq Qur’ani. Luar biasa kan tugasnya? Tapi sebaliknya, balasan yang akan kita terima juga langsung akan diberikan oleh Alloh dan akan tetap mengalir selama generasi yang kita cetak itu mengamalkan ilmunya serta mengajarkannya kepada generasi-generasi berikutnya. Apakah tidak luar biasa?? Tentu jawabannya sudah jelas.
Nah, itu hanya sekedar pengantar apa yang akan aku tulis sekarang. Namun ini juga berkaitan dengan jabatan Direktur TPA yang aku pegang sekarang. Tentunya menjadi seorang direktur TPA harus memiliki ide-ide yang cemerlang agar TPA bisa tetap berjalan serta santriwan-santriwatinya menjadi generasi penerus dakwah Islam yang handal. Selain pendidikan Al Qur’an, santri juga harus diberi kesempatan untuk belajar langsung dengan alam. Untuk itu salah satu kegiatan dalam TPA adalah rihlah atau tafakur alam.
Sebenarnya di TPA Nurul Adhen sudah menjadi kegiatan rutin yang diadakan setiap akhir semester. Nah rihlah kali ini adalah rihlah periode semester genap 2012. Berbeda dengan rihlah sebelumnya, kali ini kami mengadakannya di daerah Gunungkidul yang penuh dengan pegunungan yang indah. Salah satunya adalah di Dusun Semilir Desa Terbah, Kecamatan Patuk. Desa ini tepat berada di belakang Gunung Api Purba Nglanggeran. Suasana di desa tesebut masih sangat alami dan hijau. Jalannya menanjak dengan sawah terasering terhampar sepanjang jalan menuju tempat rihlah. Sebagian padi sudah dipanen sehingga pemandangannya nampak asri dengan beberapa petani yang sedang memotong padi.
Perjalanan kami dari Nurul Adhen cukup lancar sehingga sampai di sana tidak terlalu siang. Masjid Semilir kami jadikan basecamp untuk menaruh perbekalan kami. Setelah sebelumnya sholat Dhuha bersama, kami pun memulai acara jalan-jalan. O iya..tau gak ada yang special pada rihlah kali ini. Yaitu kami kedatangan tiga tamu istimewa untuk menghandle kegiatan outbond. Hmm…siapa mereka?? Mereka adalah Fahrur, Ervin dan Haris. Mereka bertigalah yang mengajak kami jalan-jalan sambil bermain selama rihlah.
Kali ini kami dibagi menjadi lima kelompok yang terdiri dari 5-6 anak termasuk ustad-ustadahnya. Kelompoknya dinamai dengan nama shahabat dan shahabiyah Nabi. Kelompok putra ada dua kelompok, yaitu Abu Bakar dan Umar sedangkan kelompok putri dibagi menjadi tiga, yaitu A’isyah, Fatimah dan Khodijah. Masing-masing kelompok memiliki ketua. Abu Bakar diketuai oleh Rizal, Umar oleh Yunan, A’isyah oleh Dea, Fatimah oleh Ayu, dan kelompok Khodijah oleh Eta. Mereka akan bersaing selama outbond berlangsung.
Dan outbond pun dimulai. Permainan pertama, kata Mas Fahrur, adalah Ular Balon. Kaya apa bentuknya?? Tiap kelompok membuat barisan dengan tangan memegang pinggang teman di depannya sehingga membentuk seperti ular. Ketua kelompok memegang lidi sebagai senjata dan peserta paling belakang diikatkan sebuah balon di pinggangnya. Dua kelompok pertama bermain dan diadu siapa yang bisa meletuskan balon kelompok lawan.

Kami pun bermain dengan gaduh karena semua berteriak sambil mengincar balon lawan. Salah satu kelompok bahkan ada yang sampai lepas pegangannya. Pertandingan pertama antara A’isyah dan Fatimah dimenangkan oleh kelompok A’isyah yang kemudian diadu dengan Khodijah. Permainannya pun tak jauh beda. Kami berteriak semakin histeris bahkan ada yang sampai terjatuh. Kelompok Khodijah pun menang.
Sekarang giliran kelompok putra yang bertanding. Aku pun ikut bergabung dengan kelompok Abu Bakar sedngkan Ust Ibnu dengan kelompok Umar. Ust Ibnu pun mengatur strategi dengan kelompok Umar. Ketika pertandingan dimulai, kami pun saling dorong. Kelompok Abu Bakar menggunakan strategi menyerang sedangkan kelompok Umar hanya bertahan dengan melindungi balon agar tidak ditusuk. Akhirnya setelah susah payah meletus juga balon kelompok Umar oleh lidi yang dibawa Rizal. Kelompok Abu Bakar pun menang.
Pertandingan terakhir adalah babak final antara Khodijah dengan Umar. Awalnya Khodijah menolak karena pasti akan kalah melawan Abu Bakar. Namun akhirnya mereka mau. Dan pertandingan pun dimulai. Dengan kesigapan Rizal dalam waktu kurang dari lima menit meletuslah balon Khodijah. Abu Bakar pun menjadi juara dalam game pertama.
Nah, sekarang waktunya bertualang. Untuk menuju pos dua, anak-anak harus menyusuri jalanan menanjak dengan kemiringan jalan antara 300 - 450 . Perjalanan cukup cepat karena tenaga anak-anak masih fresh. Aku tidak ikut mereka berjalan karena memantau seluruh kegiatan dan menyiapkan tempat untuk permainan. Aku dan Haris menunggu di pos dua, yaitu di halaman rumah penduduk.
Setelah anak-anak tiba, maka permainan kedua kami mulai. Kali ini aku yang memimpin. Gamenya adalah Tepung Estafet. Tugasnya adalah memindahkan tepung dari satu botol ke botol yang lain menggunakan sendok yang dilakukan secara kelompok. Peserta masing-masing kelompok tidak boleh memegang sendok selama memindahkan tepung. Kelompok yang paling banyak memindahkan tepung adalah pemenangnya.

Permainan pun dimulai. Masing-masing kelompok mulai memindahkan tepung kemudian dipindahkan ke sendok temannya. Tepung yang dibawa dari botol kebanyakan habis ketika sudah sampai ke botol yang lain. Anak-anak pun mulai panik dan gaduh. Sepuluh menit berlalu, akhirnya semua kelompok telah menghabiskan tepung yang ada di botol dan pemenangnya adalah kelompok Abu Bakar lagi. Rizal dkk pun bersorak sorai. Kelompok yang lain tidak terima. Lalu mereka menyebarkan tepung ke temannya, kemudian terjadi aksi saling colek dengan tepung. Suasana semakin tidak terkendali. Semua berebut tepung. Wajah mereka pun mulai tidak karuan penuh dengan tepung. Aku pun juga tak luput dari kajahilan anak-anak. Begitu pula Ust Ibnu dan yang lain.
Setelah tepung habis, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos tiga. Kali ini jalanan sudah tidak lagi menanjak. Bahkan menurun terus. Kami pun tak terlalu kecapaian. Lalu aku pergi mendahului mereka menuju pos tiga yang sebenarnya belum aku siapkan. Untungnya aku langsung mendapatkannya. Tidak membutuhkan waktu lama sampai mereka datang.
Kali ini anak-anak sudah mulai merasa kecapaian. Irma dan Dea yang paling banyak mengeluh.
“Udah tad, capek!!” kata Dea.
“Mana sungainya, Tad? Katanya mau ke sungai?” rengek Irfan.
Lalu game ketiga dimulai. Untuk permainan di pos tiga ini bernama “Cek ecek..shoot..tembak..doorr”. Wah panjang banget namanya. Sesuai namanya, permainan kali ini melibatkan kelima kelompok sekaligus. Setiap kelompok terdiri dari lima anak yang masing-masing dari mereka akan mengucapkan “Cek ecek” “Shoot” “Tembak” “Doorr” dari belakang, sedangkan yang paling depan akan mengucapkan nama musuh yang mereka tunjuk. Regu yang ditunjuk akan melakukan hal yang sama kemudian menunjuk regu lain dan seterusnya. Kelompok yang salah mengucapkan kata atau melakukan kesalahan akan disoraki oleh kelompok lain.
Dari dua permainan sebelumnya, permainan inilah yang paling heboh. Ketika permainan dimulai anak-anak banyak melakukan kesalahan baik dalam mengucapkan maupun menerima giliran dalam satu kelompok karena kurang konsentrasi. Misalnya, Ayung dari kelompok A’isyah, salah mengucapkan “shoot” dengan kata “dut”. Mungkin maksudnya dia pengen bilang “doorr” dan “shoot” jadi disingkat “dut”. Kelompok yang diketuai Dea ini pun tersingkir duluan.
Lain halnya dengan kelompok Khodijah. Posisi belakang adalah Irma. Di depan dia ada Okta. Ketika Irma bilang “cek-ecek”, bukannya bilang “shoot” Okta malah berkata “cuutt”. Mungkin maksudnya dia ingin berkata ‘shoot’ tapi kesetrum sama ucapan Irma, yaitu “cek-ecek” makanya bilang “cuutt”. Irma yang tidak terima langsung marah-marah kepada Okta. Anak-anak yang lain jadi tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Irma. Kelompok dengan ketuanya Eta ini pun terpaksa harus mundur dari pertandingan.
Tiga kelompok tersisa adalah kelompok pimpinan Rizal, Yunan dan Ayu. Mereka pun bersaing untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Dalam satu putaran “shoot-tembak-doorr” kelompok Abu Bakar harus rela keluar lapangan setelah Topan yang menjadi pematik senapan bilang “cek-ecek” bersamaan dengan Rizal yang menjadi eksekutor paling depan.

Pertandingan pun menyisakan dua kelompok, yaitu tim Umar yang dipimpin Yunan dan tim Fatimah yang diketuai Ayu. Artinya mereka adalah finalis. Tadinya kami ragu apakah bisa ada yang kalah jika mereka hanya saling tembak. Namun ternyata ketika pertandingan dimulai, giliran tim Umar yang kehilangan konsentrasi. Devin dan Hanif secara kompak mengucapkan kata “tembak”. Suasana pun menjadi meriah karena pemenangnya dari tim yang tidak terduga, yaitu kelompok Fatimah. Mereka pun bersorak kegirangan. Dengan begitu permainan usai dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos terakhir, yaitu sungai. Inilah yang ditunggu-tunggu para santri.
Begitu tiba di sungai, tanpa menunggu aba-aba mereka sudah menceburkan diri ke sungai. Anak-anak putri pun tak mau kentinggalan. Mereka meskipun kecil-kecil tapi tanpa rasa takut ikut mencebur. Bahkan Ava yang masih usia PAUD pun ikut terjun ke sungai. Aku pun bingung bagaimana mengendalikan mereka padahal permainan masih tersisa satu, yaitu estafet balon.
“Santriiiii….” Teriakku pada mereka. Tak ada respon. Mereka malah semakin liar saling mencipratkan air kepada temannya.
Akhirnya aku menyerah dan Fahrur pun turun tangan meski sudah sangat lelah. Dia kembali mengendalikan anak-anak.
“Dalam hitungan lima kalian harus sudah berjajar sesuai kelompoknya masing-masing,” kata Fahrur dengan berteriak. Anak-anak pun menurut. Mereka lalu naik ke permukaan dan membentuk barisan sesuai kelompoknya.
“Dalam permainan terakhir ini tugas kalian adalah membawa balon yang sudah kalian tiup menyusuri sungai hingga ujung,” kata Fahrur yang dilanjutkan dengan pembagian balon. Tanpa disuruh mereka langsung meniup balon. Lalu Fahrur pergi dan pertandingan diserahkan kepada Ust Ibnu.
Ketika start dimulai, masing-masing kelompok langsung berlari satu per satu melintasi sungai. Ada yang terpeleset, ada yang tersebur ke bagian yang agak dalam, dan ada pula yang menyusuri tepian sungai untuk menghinradi air walau akhirnya dia terpeleset dan tercebur.
Akhirnya, satu per satu anak-anak sampai pada pos terakhir. Pada pos ini anak-anak hanya diminta mengumpulkan balon yang berhasil mereka bawa saat start menyusuri sungai. Sebelum semua anak berhasil mencapai pos terakhir ini, sebagian sudah mencebur ke sungai yang paling besar. Mereka langsung main serang dengan air. Bahkan aku dan Tad Ibnu pun tak luput dari serangan mereka. Kemudian aku dan Tad Ibnu melakukan serangan balik kepada gengnya Ayu dan Eta. Kami pun terlibat dalam aksi saling serang yang tak terkendali.

Melihat tingkah mereka, aku menjadi ikut senang, akhirnya aku bisa membuat mereka senang melalui kegiatan ini. Setidaknya kegiatan outbond kali ini menambah keakraban kami dengan para santri.
Hari pun mulai siang. Tanpa terasa adzan Dhuhur telah berkumandang. Semua segera membersihkan diri lalu sholat Dhuhur berjama’ah. Setelah itu kami pamit kepada penduduk setempat dan pulang menuju Jogja.
24 February 2013

Thursday, April 4, 2013

Hidup adalah Perjuangan



By: Ryo Potter

Suatu pagi, aku melintas di sebuah masjid. Kala itu matahari telah setinggi hasta. Aku menghentikan motorku di depan masjid tersebut. Lalu aku melepas sepatu dan bergegas menuju tempat wudhu. Kutunaikan sholat empat rokaat sebagai bagian dari ikhtiarku mencari karunia-Nya. Empat roka’at berlalu dan aku teruskan dengan berdzikir memohon kemudahan rezeki kepada Alloh SWT.
Sementara aku berdoa, kudengar sayup-sayup seseorang  meneriakkan sesuatu. “Sol Spaaat….” Begitu bunyi teriakan orang tersebut. “Soel Spaaaaat….” Kira-kira begitu yang aku dengar. Kemudian aku selesaikan doaku lalu kuusapkan kedua tanganku ke muka.
Setelah selesai sholat Dhuha, aku penasaran dengan suara tadi. Orang tersebut masih terus meneriakkan  kata-kata tadi. Apa maksudnya?
Setelah aku cari-cari tenyata suara itu berasal dari tukang sol sepatu yang biasa berkeliling kampung untuk menawarkan jasanya. Ketika melintas di depan masjid, orang tersebut memandangiku sejenak. Lalu dia melangkah menuju ke arahku.
“Permisi, Mas. Numpang sholat,” kata orang tersebut sambil meletakkan peralatan sol sepatu di sampingnya.
“Oh, monggo, Pak. Silakan,” jawabku.
Orang tersebut kemudian pergi mengambil air wudhu dan melaksanakan dua roka’at sholat Dhuha. Diam-diam aku kagum dengan orang tersebut. Disela-sela pekerjaannya yang menurutku sangat berat, orang tersebut masih bisa menyempatkan diri untuk mengingat Alloh. Aku pun tak beranjak dari dudukku di serambi masjid.
“Lho, kok belum pergi, Mas?” tanya orang tersebut.
“Emm, belum, Pak. Masih ingin duduk-duduk dulu,” jawabku. “O ya, kalau boleh tahu Bapak tinggal di mana?” tanyaku sebelum bapak tersebut sempat bicara.
“Dekat sini , Mas. Cuma di ujung jalan ini ada kompleks kos-kosan. Nah, di situlah saya tinggal,” kata Bapak tersebut sambil menunjuk kearah ujung jalan.
Dilihat dari wajahnya, Bapak tersebut kira-kira usia 50an. Kalau dia hanya tinggal di kos, lantas di mana istri dan anak-anaknya? “Bapak tinggal dengan siapa?” tanyaku kemudian.
“Saya tinggal bersama istri dan seorang anak saya, Mas. Kalau siang begini kos-kosan saya tidak ada orang karena istri saya juga bekerja di Loundry seberang jalan, sedangkan anak saya pergi ke sekolah,” papar Bapak tersebut.
“Bapak sudah berapa lama bekerja? Kenapa Bapak memilih kerja di sini?” tanyaku kembali.
Bapak tersebut tidak langsung menjawab. Dia menerawang jauh ke depan. “Saya sudah hampir sepuluh tahun di sini, Mas. Semenjak menikah saya dan istri saya langsung merantau ke sini,” jawab bapak tersebut masih terus menerawang, seakan dia membayangkan masa lalunya. “Kami tidak punya pilihan lain, Mas. Ketrampilan seperti ini tidak laris kalau hanya di kampung,” lanjutnya.
“Kalau di sini mendingan, Mas. Sehari saya bisa ngesol dua atau tiga pasang sepatu. Di kampung, paling cuma empat pasang. Itu saja dalam seminggu,” kata bapak tersebut meneruskan.
“Biaya sol berapa untuk sepasang, Pak?” tanyaku kemudian.
“Ya tergantung, Mas. Kalau biasa Rp 5.000, kalau sulit ya paling Rp 10.000.” jawabnya.
Berarti jika rata-rata bapak tersebut dapat dua sampai tiga pasang, maka penghasilannya antara Rp 10.000-Rp 20.000. Kecil sekali ukuran penghasilan orang yang tinggal di kota. Masih harus membiayai kos-kosan dan biaya hidup keluarga serta biaya sekolah anaknya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bapak tersebut bisa bertahan di tengah keadaan ekonomi bangsa ini yang kian sulit.
“Memang hasilnya tak seberapa, tapi saya harus tetap bekerja, Mas. Karena memang hidup ini harus terus dijalani dan harus di perjuangkan,” kata bapak tersebut. Aku termenung dengan kata-kata bapak itu.
“Sudah dulu ya, Mas. Saya mau melanjutkan pekerjaan saya. Mumpung masih pagi,” kata bapak itu mengagetkanku. “Monggo,” lanjutnya.
Aku masih termenung memikirkan kata-kata orang tersebut. Hidup ini harus dijalani dan diperjuangkan. Kata-kata it terus terngiang di benakku.
“Soel spaaaat…..” bapak tersebut mulai meneriakkan kata itu lagi. “Soel spaaat…” terus begitu hingga akhirnya lenyap di sela-sela perumahan kota yang sesak.
Ya. Hidup ini harus terus dijalani karena memang hidup ini adalah perjuangan.
Kata-kata bapak tersebut telah memberikan suntikan semangat ke dalam jiwaku. Lalu kulangkahkan kakiku menuju motorku dan kunyalakan. Lalu aku bertekad akan terus memperjuankan hidup ini. Kujalankan motorku dan siap untuk bekerja menjemput karunua-Nya.
Jogja, 4 April 2013 

Wednesday, April 3, 2013

Mahasiswa dan Pengabdian



By: Ryo Potter

Ada beberapa hal menarik dari mahasiswa di Jogja. Kebanyakan orang mengkategorikan mahasiswa menjadi tiga tipe, akademis, aktivis, dan akademis-aktivis. Mahasiswa akademis adalah mereka yang menfokuskan diri pada aktifitas akademisnya. Aktifitas utamanya adalah kuliah. Lalu pulang ke kos dan kuliah lagi. Sehingga orang biasa menyebut mereka mahasiswa “kupu-kupu” yaitu “kuliah pulang-kuliah pulang”. Mahasiswa seperti ini kebanyakan memiliki Indeks Prestasi (IP) yang relative tinggi. Meskipun demikian tak menutup kemungkinan banyak juga memiliki IP yang biasa-biasa saja.
Berbeda dengan mahasiswa akademis, mahasiswa aktivis lebih menyibukkan dirinya pada kegiatan luar kampus. Kegiatan mereka bisa berupa organisasi kampus, UKM, lembaga sosial, dan aktifitas lainnya. Mahasiswa tipe seperti ini umumnya memiliki kecakapan yang tinggi, relasi yang banyak, jaringan yang luas, dan memiliki leadership yang mumpuni. Mereka jarang di kos. Bahkan mereka jarang kuliah. Mereka lebih sering menghabiskan waktunya untuk berkumpul bersama teman-teman organisasinya. Sehingga studi mereka menjadi terbengkalai.
Nah, tipe yang ketiga ini merupakan gabungan dari keduanya; akademis dan aktivis. Mahasiswa tipe ini dianggap mahasiswa ideal dan cenderung memiliki kemampuan akademis yang cukup tinggi sehingga sangat memperhatikan IP. Mereka juga aktif di kegiatan luar kampus. Mereka mampu menyeimbangkan aktifitas mereka untuk keduanya.  Mereka juga memiliki skala prioritas untuk setiap aktivitasnya. Mana yang harus mereka utamakan untuk dilakukan. Mereka berambisi mendapat IP yang tinngi dengan bekal organisasi yang cukup.
Tapi ada satu lagi tipe yang menarik dari mahasiswa di Jogja, yaitu mahasiswa aktivis masjid. Tak bisa disangkal lagi bahwa banyak mahasiswa Jogja yang tinggal di masjid. Namun siapakah sebenarnya mereka? Mereka tinggal di masjid. Mereka menjaga masjid. Mereka mengurusi masjid. Mereka menjaga kebersihan masjid. Mereka memakmurkan masjid. Mereka mengadakan majelis-majelis pengajian untuk mesyarakat di sekitar masjid. Dan yang paling penting, mereka mencetak generasi-generasi Qurani calon penerus perjuangan Nabi Muhammad SAW. Ya,mereka mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak. Mereka mendirikan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA).
Lalu apa yang istimewa dari mereka? Mungkin dibandingkan dengan dua tipe pertama, mereka masih kalah populer. Mereka juga tidak se”perfect” mahsiswa akademis-aktivis. Ingat, salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah “Pengabdian”. Salah satu realisasinya adalah pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Tapi aktivis masjid tak perlu menunggu masa KKN tiba. Mereka telah mengabdikan diri kepada masyarakat bahkan jauh sebelum KKN dilaksanakan. Mereka telah berbaur dengan masyarakat ketika tinggal di masjid. Mereka membuat program kegiatan masjid, pengajian ibu-ibu, dan kajian keislaman. Mereka mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anak. Secara informal mereka telah melakukan KKN.
Namun demikian, berapa dari mahasiswa di Jogja ini yang telah menyadari akan hal ini? Berapa banyak mahasiswa yang mau tinggal di masjid? Berapa mahasiswa yang peduli dengan masyarakat di mana mereka belajar? Berapa mahasiswa yang peduli dengan anak-anak yang saat ini telah tejebak dalam pergaulan bebas? Anak-anak yang telah terjauhkan dari kitab mereka sendiri, Al Qur’an. Lalu apa gunanya mereka belajar, mendapat IP tinggi dan memiliki pengalaman organisasi yang bagus? Bahkan banyak mahasiswa di Jogja ini yang belajar agama, di universitas Islam yang ternama. Namun di samping kos-kosan mereka banyak terdapat anak-anak yang memilih mendengarkan musik ketimbang membaca Al Qur’an. Apakah ini yang dinamakan “pengabdian”?
Jogja, 3 April 2013

Tuesday, April 2, 2013

Hilangnya Budaya Malu



By: Ryo Potter

Sekarang ini budaya malu telah menjadi hal yang langka di negeri ini. Bagaimana tidak? Orang kini tak lagi malu menyandang status “tersangka” dalam kasus korupsi. Mereka masih bisa tersenyum di depan kamera. Bahkan ada yang dengan pede mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah, tak peduli seberapa banyak bukti yang memberatkan mereka. Padahal jelas-jelas mereka ini adalah pencuri, pencuri uang negara, uang rakyat.
Kalau mereka memang pencuri, lantas apa beda mereka dengan pencuri-pencuri kelas teri. Ya, tentu ada bedanya. Tahukan bahwa pencuri-pencuri kelas teri lebih beradab ketimbang para koruptor? Tahukah bahwa mereka masih memiliki rasa malu ketimbang tikus-tikus berdasi pengemplang uang rakyat tersebut? Ya, mereka memang tak banyak yang mengenal, namun mereka masih memiliki yang namanya “rasa malu”. Lihat saja ketika mereka diliput oleh kamera. Mereka menyembunyikan wajah mereka dengan tangan. Mereka juga menolak diwawancarai oleh wartawan.
Budaya malu juga kian hilang dari saudara-saudara kita yang sedang duduk di kursi empuk Senayan. Masih ingat dengan aksi saling jotos waktu sidang DPR? Ya, mereka tak lebih dari kawanan bocah yang sedang berkelahi berebut mainan. Mereka juga tak kalah ubahnya dengan pelajar-pelajar kita yang suka melakukan tawuran. Kalau menjadi wakil rakyat saja sudah seperti itu bagaimana dengan rakyatnya? Wajar jika kemudian banyak terjadi tawuran antar warga, antar remaja sekolah, antar mahasiswa. Seharusnya mereka malu dengan ulah mereka. Seluruh publik di negeri ini menyaksikan tingkah mereka.
Di negeri yang dikenal dengan masyarakatnya ramah dan sopan santun ternyata mulai pudar budaya malu. Tampaknya bangsa ini perlu mawas diri untuk menghadirkan kembali budaya malu ini. Hal ini bisa dilakukan mulai dari diri sendiri. Malu pada diri sendiri menjadi dasar untuk menumbuhkan budaya malu kepada orang lain dan rasa malu pada tataran tertinggi adalah malu kepada Allah, Sang Khalik. Karena segala perbuatan yang tampak maupun tidak tampak di mata manusia akan tampak seluruhnya di hadapan Allah. Jika kita sudah memiliki perasaan malu kepada Allah, maka kita pun akan selalu mempertimbangkan setiap perilaku kita serta akan mempertimbangkan pula konsekuensi dari setiap perbuatan kita.
Jogja, 2nd April 2013

Poem


Oh…Kampusku
By: Ryo Potter

Ku berdiri menatap
mengharap,
ku melihat terpaku
berpangku.

Ku berjalan menyambut
ratusan orang berpaut,
beriringan saling sikut,
mencari ilmu berdebut.

Di istana nan megah ini,
kutekatkan niat berderap,
menata ilmu nan terabai,
berharap selesai dalam sekejap.

Oh kampusku,
engkaulah istanaku.
Oh kampusku,
engkaulah tumpuanku,
tempat bertaut agar hidup tak berlalu.
UIN SUKA ’10