By: Ryo Potter
Setahun sudah aku menjabat Direktur TPA
Nurul Adhen. Jabatan yang orang-orang bilang adalah paling keren dan paling
mudah. Keren iya, mudah? Oh…tidak bisa. Tidak tanpa membuktikannya dulu.
Setidaknya mengetahui lah.
Kenapa keren? Iya, lihat aja. Ketika
ditanya orang, apa kerjaanmu? Kita bias dengan mudah menjawabnya, direktur lah.
Orang pun akan terpengarah. Wow keren! Nah, kalau sudah gitu kan kita bisa dibilang
keren padahal dalam hati kita tambahkan dengan “Direktur TPA”, haha.
Lalu kenapa orang bilang menjadi direktur
TPA adalah mudah itu salah? Orang bisa bilang, menjadi direktur TPA itu gak
perlu melamar, gak perlu syarat2 kaya mau kerja, gak perlu tes tertulis apalagi
interview. Mungkin memang benar sebagian. Tapi tahukah bahwa menjadi direktur
TPA itu syaratnya banyak sekali dan susah melebihi menjadi direktur perusahaan?
Kenapa susah? Karena jabatan ini tanggung
jawabnya langsung kepada Alloh. Tugas utamanya adalah mencetak generasi yang
beramal Islami dan berakhlaq Qur’ani. Luar biasa kan tugasnya? Tapi sebaliknya,
balasan yang akan kita terima juga langsung akan diberikan oleh Alloh dan akan
tetap mengalir selama generasi yang kita cetak itu mengamalkan ilmunya serta
mengajarkannya kepada generasi-generasi berikutnya. Apakah tidak luar biasa??
Tentu jawabannya sudah jelas.
Nah, itu hanya sekedar pengantar apa yang
akan aku tulis sekarang. Namun ini juga berkaitan dengan jabatan Direktur TPA
yang aku pegang sekarang. Tentunya menjadi seorang direktur TPA harus memiliki
ide-ide yang cemerlang agar TPA bisa tetap berjalan serta
santriwan-santriwatinya menjadi generasi penerus dakwah Islam yang handal.
Selain pendidikan Al Qur’an, santri juga harus diberi kesempatan untuk belajar
langsung dengan alam. Untuk itu salah satu kegiatan dalam TPA adalah rihlah
atau tafakur alam.
Sebenarnya di TPA Nurul Adhen sudah menjadi
kegiatan rutin yang diadakan setiap akhir semester. Nah rihlah kali ini adalah
rihlah periode semester genap 2012. Berbeda dengan rihlah sebelumnya, kali ini
kami mengadakannya di daerah Gunungkidul yang penuh dengan pegunungan yang
indah. Salah satunya adalah di Dusun Semilir Desa Terbah, Kecamatan Patuk. Desa
ini tepat berada di belakang Gunung Api Purba Nglanggeran. Suasana di desa tesebut
masih sangat alami dan hijau. Jalannya menanjak dengan sawah terasering
terhampar sepanjang jalan menuju tempat rihlah. Sebagian padi sudah dipanen
sehingga pemandangannya nampak asri dengan beberapa petani yang sedang memotong
padi.
Perjalanan kami dari Nurul Adhen cukup
lancar sehingga sampai di sana tidak terlalu siang. Masjid Semilir kami jadikan
basecamp untuk menaruh perbekalan kami. Setelah sebelumnya sholat Dhuha
bersama, kami pun memulai acara jalan-jalan. O iya..tau gak ada yang special pada
rihlah kali ini. Yaitu kami kedatangan tiga tamu istimewa untuk menghandle
kegiatan outbond. Hmm…siapa mereka?? Mereka adalah Fahrur, Ervin dan Haris.
Mereka bertigalah yang mengajak kami jalan-jalan sambil bermain selama rihlah.
Kali ini kami dibagi menjadi lima kelompok
yang terdiri dari 5-6 anak termasuk ustad-ustadahnya. Kelompoknya dinamai
dengan nama shahabat dan shahabiyah Nabi. Kelompok putra ada dua kelompok,
yaitu Abu Bakar dan Umar sedangkan kelompok putri dibagi menjadi tiga, yaitu
A’isyah, Fatimah dan Khodijah. Masing-masing kelompok memiliki ketua. Abu Bakar
diketuai oleh Rizal, Umar oleh Yunan, A’isyah oleh Dea, Fatimah oleh Ayu, dan
kelompok Khodijah oleh Eta. Mereka akan bersaing selama outbond berlangsung.
Dan outbond pun dimulai. Permainan pertama,
kata Mas Fahrur, adalah Ular Balon. Kaya apa bentuknya?? Tiap kelompok membuat
barisan dengan tangan memegang pinggang teman di depannya sehingga membentuk
seperti ular. Ketua kelompok memegang lidi sebagai senjata dan peserta paling
belakang diikatkan sebuah balon di pinggangnya. Dua kelompok pertama bermain
dan diadu siapa yang bisa meletuskan balon kelompok lawan.
Kami pun bermain dengan gaduh karena semua
berteriak sambil mengincar balon lawan. Salah satu kelompok bahkan ada yang
sampai lepas pegangannya. Pertandingan pertama antara A’isyah dan Fatimah
dimenangkan oleh kelompok A’isyah yang kemudian diadu dengan Khodijah.
Permainannya pun tak jauh beda. Kami berteriak semakin histeris bahkan ada yang
sampai terjatuh. Kelompok Khodijah pun menang.
Sekarang giliran kelompok putra yang
bertanding. Aku pun ikut bergabung dengan kelompok Abu Bakar sedngkan Ust Ibnu
dengan kelompok Umar. Ust Ibnu pun mengatur strategi dengan kelompok Umar.
Ketika pertandingan dimulai, kami pun saling dorong. Kelompok Abu Bakar menggunakan
strategi menyerang sedangkan kelompok Umar hanya bertahan dengan melindungi
balon agar tidak ditusuk. Akhirnya setelah susah payah meletus juga balon
kelompok Umar oleh lidi yang dibawa Rizal. Kelompok Abu Bakar pun menang.
Pertandingan terakhir adalah babak final
antara Khodijah dengan Umar. Awalnya Khodijah menolak karena pasti akan kalah
melawan Abu Bakar. Namun akhirnya mereka mau. Dan pertandingan pun dimulai.
Dengan kesigapan Rizal dalam waktu kurang dari lima menit meletuslah balon
Khodijah. Abu Bakar pun menjadi juara dalam game pertama.
Nah, sekarang waktunya bertualang. Untuk
menuju pos dua, anak-anak harus menyusuri jalanan menanjak dengan kemiringan
jalan antara 300 - 450 . Perjalanan cukup cepat karena
tenaga anak-anak masih fresh. Aku tidak ikut mereka berjalan karena memantau
seluruh kegiatan dan menyiapkan tempat untuk permainan. Aku dan Haris menunggu
di pos dua, yaitu di halaman rumah penduduk.
Setelah anak-anak tiba, maka permainan kedua
kami mulai. Kali ini aku yang memimpin. Gamenya adalah Tepung Estafet. Tugasnya
adalah memindahkan tepung dari satu botol ke botol yang lain menggunakan sendok
yang dilakukan secara kelompok. Peserta masing-masing kelompok tidak boleh
memegang sendok selama memindahkan tepung. Kelompok yang paling banyak memindahkan
tepung adalah pemenangnya.
Permainan pun dimulai. Masing-masing
kelompok mulai memindahkan tepung kemudian dipindahkan ke sendok temannya.
Tepung yang dibawa dari botol kebanyakan habis ketika sudah sampai ke botol
yang lain. Anak-anak pun mulai panik dan gaduh. Sepuluh menit berlalu, akhirnya
semua kelompok telah menghabiskan tepung yang ada di botol dan pemenangnya
adalah kelompok Abu Bakar lagi. Rizal dkk pun bersorak sorai. Kelompok yang
lain tidak terima. Lalu mereka menyebarkan tepung ke temannya, kemudian terjadi
aksi saling colek dengan tepung. Suasana semakin tidak terkendali. Semua
berebut tepung. Wajah mereka pun mulai tidak karuan penuh dengan tepung. Aku
pun juga tak luput dari kajahilan anak-anak. Begitu pula Ust Ibnu dan yang
lain.
Setelah tepung habis, kami pun melanjutkan
perjalanan menuju pos tiga. Kali ini jalanan sudah tidak lagi menanjak. Bahkan
menurun terus. Kami pun tak terlalu kecapaian. Lalu aku pergi mendahului mereka
menuju pos tiga yang sebenarnya belum aku siapkan. Untungnya aku langsung
mendapatkannya. Tidak membutuhkan waktu lama sampai mereka datang.
Kali ini anak-anak sudah mulai merasa
kecapaian. Irma dan Dea yang paling banyak mengeluh.
“Udah tad, capek!!” kata Dea.
“Mana sungainya, Tad? Katanya mau ke
sungai?” rengek Irfan.
Lalu game ketiga dimulai. Untuk permainan
di pos tiga ini bernama “Cek ecek..shoot..tembak..doorr”. Wah panjang banget
namanya. Sesuai namanya, permainan kali ini melibatkan kelima kelompok
sekaligus. Setiap kelompok terdiri dari lima anak yang masing-masing dari
mereka akan mengucapkan “Cek ecek” “Shoot” “Tembak” “Doorr” dari belakang,
sedangkan yang paling depan akan mengucapkan nama musuh yang mereka tunjuk.
Regu yang ditunjuk akan melakukan hal yang sama kemudian menunjuk regu lain dan
seterusnya. Kelompok yang salah mengucapkan kata atau melakukan kesalahan akan
disoraki oleh kelompok lain.
Dari dua permainan sebelumnya, permainan
inilah yang paling heboh. Ketika permainan dimulai anak-anak banyak melakukan
kesalahan baik dalam mengucapkan maupun menerima giliran dalam satu kelompok
karena kurang konsentrasi. Misalnya, Ayung dari kelompok A’isyah, salah
mengucapkan “shoot” dengan kata “dut”. Mungkin maksudnya dia pengen bilang “doorr”
dan “shoot” jadi disingkat “dut”. Kelompok yang diketuai Dea ini pun tersingkir
duluan.
Lain halnya dengan kelompok Khodijah.
Posisi belakang adalah Irma. Di depan dia ada Okta. Ketika Irma bilang
“cek-ecek”, bukannya bilang “shoot” Okta malah berkata “cuutt”. Mungkin
maksudnya dia ingin berkata ‘shoot’ tapi kesetrum sama ucapan Irma, yaitu
“cek-ecek” makanya bilang “cuutt”. Irma yang tidak terima langsung marah-marah
kepada Okta. Anak-anak yang lain jadi tertawa terbahak-bahak melihat tingkah
Irma. Kelompok dengan ketuanya Eta ini pun terpaksa harus mundur dari
pertandingan.
Tiga kelompok tersisa adalah kelompok
pimpinan Rizal, Yunan dan Ayu. Mereka pun bersaing untuk saling menjatuhkan
satu sama lain. Dalam satu putaran “shoot-tembak-doorr” kelompok Abu Bakar
harus rela keluar lapangan setelah Topan yang menjadi pematik senapan bilang
“cek-ecek” bersamaan dengan Rizal yang menjadi eksekutor paling depan.
Pertandingan pun menyisakan dua kelompok,
yaitu tim Umar yang dipimpin Yunan dan tim Fatimah yang diketuai Ayu. Artinya
mereka adalah finalis. Tadinya kami ragu apakah bisa ada yang kalah jika mereka
hanya saling tembak. Namun ternyata ketika pertandingan dimulai, giliran tim
Umar yang kehilangan konsentrasi. Devin dan Hanif secara kompak mengucapkan
kata “tembak”. Suasana pun menjadi meriah karena pemenangnya dari tim yang
tidak terduga, yaitu kelompok Fatimah. Mereka pun bersorak kegirangan. Dengan
begitu permainan usai dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos terakhir,
yaitu sungai. Inilah yang ditunggu-tunggu para santri.
Begitu tiba di sungai, tanpa menunggu
aba-aba mereka sudah menceburkan diri ke sungai. Anak-anak putri pun tak mau
kentinggalan. Mereka meskipun kecil-kecil tapi tanpa rasa takut ikut mencebur.
Bahkan Ava yang masih usia PAUD pun ikut terjun ke sungai. Aku pun bingung bagaimana
mengendalikan mereka padahal permainan masih tersisa satu, yaitu estafet balon.
“Santriiiii….” Teriakku pada mereka. Tak
ada respon. Mereka malah semakin liar saling mencipratkan air kepada temannya.
Akhirnya aku menyerah dan Fahrur pun turun
tangan meski sudah sangat lelah. Dia kembali mengendalikan anak-anak.
“Dalam hitungan lima kalian harus sudah
berjajar sesuai kelompoknya masing-masing,” kata Fahrur dengan berteriak.
Anak-anak pun menurut. Mereka lalu naik ke permukaan dan membentuk barisan sesuai
kelompoknya.
“Dalam permainan terakhir ini tugas kalian
adalah membawa balon yang sudah kalian tiup menyusuri sungai hingga ujung,”
kata Fahrur yang dilanjutkan dengan pembagian balon. Tanpa disuruh mereka
langsung meniup balon. Lalu Fahrur pergi dan pertandingan diserahkan kepada Ust
Ibnu.
Ketika start dimulai, masing-masing
kelompok langsung berlari satu per satu melintasi sungai. Ada yang terpeleset,
ada yang tersebur ke bagian yang agak dalam, dan ada pula yang menyusuri tepian
sungai untuk menghinradi air walau akhirnya dia terpeleset dan tercebur.
Akhirnya, satu per satu anak-anak sampai
pada pos terakhir. Pada pos ini anak-anak hanya diminta mengumpulkan balon yang
berhasil mereka bawa saat start menyusuri sungai. Sebelum semua anak berhasil
mencapai pos terakhir ini, sebagian sudah mencebur ke sungai yang paling besar.
Mereka langsung main serang dengan air. Bahkan aku dan Tad Ibnu pun tak luput
dari serangan mereka. Kemudian aku dan Tad Ibnu melakukan serangan balik kepada
gengnya Ayu dan Eta. Kami pun terlibat dalam aksi saling serang yang tak
terkendali.
Melihat tingkah mereka, aku menjadi ikut
senang, akhirnya aku bisa membuat mereka senang melalui kegiatan ini. Setidaknya
kegiatan outbond kali ini menambah keakraban kami dengan para santri.
Hari pun mulai siang. Tanpa terasa adzan
Dhuhur telah berkumandang. Semua segera membersihkan diri lalu sholat Dhuhur
berjama’ah. Setelah itu kami pamit kepada penduduk setempat dan pulang menuju
Jogja.
24
February 2013





