Friday, September 14, 2012

CERBUNG


Cinta Pizza Hut

 By: Ryo Potter


Di keheningan malam yang mulai menggelap, terlihat sekilas cahaya putih di langit. Singkat, sangat singkat disusul dengan suara petir yang agak menggelegar lima detik berikutnya. Tak usah menunggu hingga sepuluh menit, titik-titik air pun turun dari gelapnya langit malam. Makin banyak kilat yang terlihat  yang diikuti gemuruh di langit. Air pun semakin deras mengguyur bumi yang sebetulnya belum membutuhkan datangnya air.
            Bersamaan dengan derasnya hulan itu, meringkuk lah seorang cowok di atas tempat tidurnya yang berada dilantai teratas sebuah apartemen yang cukup mewah di tengah kota. Dia menggeliat sambil memegang perutnya. Hujan memaksanya untuk bisa menahan rasa lapar sehingga ia tidak bisa keluar untuk membeli makanan.
            Namanya Dika. Dia adalah cowok lugu yang sedang kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di ibu kota. Oleh orang tuanya, dia dibelikan sebuah apartemen untuk dia tempati selama kuliah, fasilitas yang jarang-jarang dimiliki oleh mahasiswa lain. Selain itu, ada satu Honda Jazz yang selalu terparkir di basemen kompleks apartemen. Satu Blackberry keluaran terbaru yang hanya diperasikan cukup dengan sentuhan jari-jarinya. Tak hanya itu, fasilitas semakin lengkap dengan satu unit laptop Apple varian paling gress yang memungkinkan pengguna melakukan aktifitas di layar komputer tanpa harus menuggu loading. Namun, dari seluruh fasilitas yang serba wah tadi masih ada yang kurang bagi seorang cowok sekelas Dika, yaitu punya pacar. Ya, Dika masih jomblo hingga memasuki semester empat ini. Statusnya sebagai mahasiswa yang tajir ternyata kurang menarik perhatian cewek-cewek ibu kota.
            “Huh...laper banget!!” rintih Dika masih memegang perut. Dia mencoba untuk bangun, lalu berjalan menuju dapur berharap ada sesuatu yang bisa dimakan. Meskipun dia anak orang kaya, namun hidup sendiri jauh dari orang tua membuatnya belajar mandiri. Dia mulai belajar masak juga baru ketika dia kuliah. Itu aja hanya sekedar menanak nasi memakai Magic Jar serta masak mie rebus dan telur mata sapi. Terlebih ketika jatah kiriman menipis ketika akhir bulan.
            Ini adalah awal April. Artinya, Dika pasti banyak uang. Itu membuatnya malas untuk masak sendiri. Dan sangat tidak beruntung, malam ini Dika harus benar-benar menerima bahwa dirinya harus melewati malam menjelang tidurnya dalam keadaan lapar. Dia tidak menemukan apa pun di dapurnya. Hanya beberapa buah dan air mineral di lemari es.
            “Duh...sial banget gue malam ini,” katanya sambil mengacak-acak dalam lemari es. “Mana hujan lagi, lengkap sudah deh penderitaan gue malam ini,” menjatuhkan diri lagi di atas kasurnya. “Coba gue punya istri, lapar tinggal makan. Huh..nasib jadi jomblo sejati.”
            Sebuah ide terlintas dalam batinnya. Dia bangkit. Diambilanya Blackberry yang berada di atas meja belajarnya. Jarinya mulai menyentuh layar hape canggih itu. Setelah menari beberapa saat, ujung telunjuknya mengeksekusi teks tersebut. Send. Dua detik berikutnya adalah laporan pesan yang telah disampaikan. “Yess...” kata Dika sambil mengepalkan tangan kananya seakan baru saja memperoleh kemenangan.
            Dia mainkan hapenya di atas meja. Dia putar-putar hingga berhenti. Hujan di luar makin deras. Pemandangan lampu kota mulai terhalang oleh air hujan bak kabut di pagi hari. Kerlip lampunya mulai terlihat samar-samar. Malam yang semakin gelap membuat aktifitas manusia berkurang.
            “Sial...lama banget si Joni,” katanya yang sekarang berdiri sambil mondar-mandir seakan sedang berfikir untuk memutuskan suatu hal. Lima menit berlalu tanpa ada tanda-tanda dari Blackberry-nya. Diambilnya lagi benda itu. Sekali lagi jarinya menari di atas layar hapenya. Dua menit kemudian hapenya berbunyi dan bergetar membuat benda itu bergeser sedikit dari tempatnya semula. Diraihnya Blackberry  itu dengan cepat secepat kilat. Baru saja membuka pesan yang pertama, hapenya berbunyi lagi.
            “Dasar Joni, tega banget sama kawan sendiri,” umpatnya begitu pesan itu ia baca. “Si Angga Toying ikut-ikutan lagi,” katanya lagi ketika membuka pesan kedua. “Kayaknya mereka kompakan deh,” dia letakkan Blackberry-nya. “Loe semua emang bukan teman sejati, giliran loe pada lapar rajin banget ke rumah gue. Ehh...giliran gue yang lapar pada ngumpet di balik selimut,” gerutu Dika sambil merebahkan tubuhnya. “Lihat aja besok kalo kalian lapar, bakalan gue biarin kelaparan.”
            Tiba-tiba Blackberry-nya berbunyi lagi. Buru-buru Dika menyambar hapenya. Dari Angga lagi, “Loe mending telpon Pizza aja, pasti dianter deh,” begitu tulisan pesan itu. Betul juga, kata Dika dalam hati. “Otak loe encer juga ternyata. Oke deh, tidur lagi sana, gue mau pesen Pizza, hahaha...” dia sentuh tombol kirim. Setelah itu dia cari nomor panggilan untuk Pizza Hut dalam Phonebook-nya.
            “Hallo..iya, saya pesan Pizza dan antarkan ke kompleks apartement Kelapa Gading lantai 28 No. 8,” kemudian diam sejenak. “Iya, Mbak, makasih ya. Eh...hati-hati hujannya deres banget,” ditutupnya telpon itu. Ia letakkan lagi ke nejanya kemudian ia tiduran lagi.
                                                                                               
                                                                                                                        To be continued ….

First Short Story


Kegelapan Menyelimuti Asaku
By: Ryo Potter

Suasana gelap gulita tanpa ada penerangan sedikit pun. Nining berusaha membuka mata selebar-lebarnya namun tetap saja tak ada satu pun benda yang bisa dilihatnya. Dia lalu mencoba meraba-raba sekitarnya dan menyentuh sesuatu yang ternyata tubuh manusia tergolek lemah disampingnya. Ini mungkin Ajeng, pikir Nining dalam hati.
                “Mbak? Mbak Ning?” Nining begitu mengenali suara merdu itu. Ya, suara adiknya. Adik satu-satunya yang sangat ia sayangi.
                “Ajeng, ini mbak. Kamu ndak apa-apa, tho?” kata Nining dengan logat Jawa-nya yang kental.
“Kepalaku sakit sekali, Mbak.” jawab Ajeng sambil meringis kesakitan. Dia meraba kepalanya dan mendapatinya berdarah. “Kita dimana, Mbak? Kenapa gelap sekali? Aku takut sekali, Mbak,” kata Ajeng yang kemudian memegang erat tangan Nining.
“Jangan takut, Dik. Mbak di sini,” kata Nining yang sebenarnya juga sangat ketakutan. “Mbak Jum mana?”
“Aku ndak tahu, Mbak,” kata Ajeng sambil merapatkan pelukannya kepada Nining.
“Semua ini salahku karena telah mengajak kamu dan Mbak Jum kesini. Aku telah membuat kalian ikut menerima akibat perbuatanku,” kata Nining sembari mengelus-elus kepala Ajeng.
“Mbak, aku mau pulang. Aku ingin ketemu bapak dan ibu. Aku takut sekali, Mbak,” rengek Ajeng sambil menyeka air matanya. Nining terdiam. Ingatan akan masa lalunya terlintas dalam benak.
*********
 “Ning, bangun nduk.” Suara itu membangunkan Nining dari tidur nyenyaknya. Ia pun melirik jam waker di atas meja. Pukul 05.00 pagi.
“Inggih, Bu. Ning sudah bangun.” jawab Nining kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk berwudhu. Setelah selesai sholat subuh, dia bertilawah sejenak dengan membaca dua lembar dari Juz 2.
“Sarapan sudah siap, Nduk, langsung ke meja makan ya.”
Begitu selesai berdandan, Nining langsung ke meja makan. Dia kaget ketika melihat sepeda berwarna merah jambu diletakkan di depan TV dan bertanya-tanya sepeda siapakah ini.
“Kamu suka sepedanya, Nduk?” kedatangan ibu membuat Nining tersentak.
“Maksud ibu?” tanya Nining keheranan. Ibu hanya tersenyum dan kebahagiaan pun langsung membuncahi bunga jiwanya.
“Ibu pasti bercanda! Sepeda ini bukan untuk Ning kan?” ibunya hanya menjawab dengan senyuman. Nining kemudian teringat orang tuanya pernah berjanji akan membelikan sepeda jika mampu mempertahankan prestasinya di kelas. Dia menerima hadiah sepeda dari kedua orang tuanya karena empat semester telah menjadi juara kelas secara berturut-turut.
Ya, Nining memang adalah gadis desa yang baik, lugu dan cakap. Selain berprestasi di sekolah, ia juga aktif dalam berbagai macam kegiatan desa bahkan di sela-sela persiapan ujian akhir, ia malah terplih menjadi ketua karang taruna. Namun hal tersebut tidak menganggu belajarnya dan dia tetaplah Nining, anak desa yang rendah hati dan brilian. Semua orang tentu mengharapkan hal-hal yang besar terjadi padanya suatu saat nanti. Termasuk kedua orangtuanya.
Dengan mendapat nilai yang nyaris sempurna, akhirnya Nining menjadi lulusan terbaik di SMA dan oleh guru-gurunya, ia disarankan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Bahkan kepala sekolahnya menawarkan beasiswa untuk melanjutkan ke salah satu perguruan tinggi terkenal di Yogyakarta. Namun seperti kebanyakan teman-temanya, dia tidak ingin melanjutkan kuliah. Memang  sudah menjadi tradisi orang-orang di kampungnya bahwa setelah lulus SMA harus bekerja, membantu orang tua yang selama ini telah membiayai sekolahnya dan sebagai tabungan masa depan jika sudah berpisah dari orangtua.
“Kenapa ndak diambil saja, Nduk? Kan nanti bapak sama ibu tinggal membiayai biaya hidupmu di Jogja.” kata ibunya ketika makan malam bersama.
“Ndak, Bu. Biaya hidup di Jogja itu mahal. Lagian, Nining bercita-cita pengen bekerja setelah lulus SMA. Nining ingin mencari duit yang banyak, membelikan motor untuk bapak, dan memperbaiki rumah kita. Nining juga kepingin menikmati masa muda sebelum bapak mencarikan jodoh untuk Ning.”
“Tapi kan...”
“Sudah, Bu…” kata ayah Nining menyela. “…biarkan Nining mencari apa yang diingikannya. Toh dia sudah besar dan bisa berpikir dewasa. Apalagi sampai memikirkan jodoh. Itu artinya dia sudah gede, Bu. Iya kan, Ning?” Sambil melirik Nining yang tersipu.
“Tapi Nining kan baru lulus SMA, Pak. Masih terlalu muda untuk bekerja. Apalagi jika bekerja jauh dari kita atau mungkin kerja di negeri orang. Ibu belum tega, Pak.”
“Anak muda memang harus begitu, Bu. Harus berani.” Kata ayahnya sambil melahap ikan asin dan sambal tomatnya. Diam-diam Nining kagum dengan pemikiran ayahnya yang kritis. Kata-kata ayahnya membuat ia semakin yakin untuk bekerja.
“Aku mau kerja di luar negeri, Bu. Aku mau menjadi TKI seperti Lek Marni yang ke Arab Saudi. Ibu lihat kan, sekarang rumahnya bagus, motornya dua dan sapinya tiga. Jika aku jadi TKI, aku akan belikan motor buat bapak dan juga buat Ajeng biar dia tidak perlu jalan kaki ke sekolah. Bapak juga tidak perlu capek-capek jalan kaki ke sawah. Ya kan, Pak?” kata Nining yang sudah menghabiskan makanan dalam piringnya.
“Nanti belikan HP juga ya, Mbak. Teman-temanku sudah banyak yang punya HP,” kata Ajeng yang sedari tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka.
“Ya, Bapak sih tidak mengharapkan itu semua. Bapak hanya berharap kamu bisa hidup mandiri. Bisa memenuhi kebutuhanmu sendiri. Kalau pun nanti mau beli motor, memperbaiki rumah dan yang lainnya, itu terserah kamu. Bapak tidak terlalu berharap akan hal itu.”
“Berarti bapak mendukungku jika aku menjadi TKI? Benar Pak?” tanya Nining bersemangat. Ayahnya hanya tersenyum. Namun ibunya masih diam. Sepertinya banyak kekhawatiran dalam benaknya jika Nining menjadi TKI.
“Tapi Nduk, memangnya kamu tidak lihat di televisi akhir-akhir ini? Banyak TKI yang nasibnya tidak seberuntung Lek Marni. Ada yang pulang karena tidak betah. Ada yang disiksa majikannya. Ada yang pulang dalam keadaan berbadan dua. Bahkan ada yang pulang tinggal jasadnya. Ibu ngeri sekali melihat itu semua. Ibu tidak mau kamu jadi seperti itu,” kata ibunya sambil meletakkan sendok karena mendadak tidak nafsu makan.
“Itu kan mereka yang bekerja menjadi pembantu, Bu, bahkan ada juga yang menjadi TKI ilegal. Aku hendak kerja di PT dan aku juga akan mendaftar melalui PJTKI resmi. Aku akan menjaga diriku baik-baik. Ibu tidak usah khawatir.” Mendengar penjelasan Nining, ibu tetap terdiam. Ia merasa firasatnya sungguh tak enak.
 Sebaliknya, ayahnya tanpa pikir panjang langsung mengiyakan keinginan Nining untuk bekerja di luar negeri. Apalagi melihat kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Jika Nining kuliah, pasti menambah pengeluaran setiap bulannya, sedangkan ayahnya hanya bekerja sebagai petani dengan penghasilan yang pas-pasan pula. Ajeng, yang saat ini sudah kelas tiga SMP, sebentar lagi akan memasuki SMA yang pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Pada bulan Agustus, ketika semua berkas-berkas kelulusan Nining telah selesai, dia berusaha mencari info lowongan kerja ke luar negeri melalui radio. Banyak sekali info yang ia dapatkan terutama info kerja ke Negeri Jiran, Malaysia. Puluhan PJTKI bahkan menawarkan penyaluran TKI kesana dengan berbagai fasilitas serta penawaran gaji yang sangat menggiurkan. Gaji di Malaysia jauh melebihi gaji bekerja di dalam negeri. Tentu hal tersebut membuat Nining semakin yakin untuk bekerja di sana. Dengan gaji sebesar itu, ia akan membuktikan kepada keluarganya bahwa dia mampu mewujudkan impiannya untuk membelikan motor dan memperbaiki rumahnya.
Nining memutuskan berangkat ke Malaysia setelah beberapa hari mengikuti karantina sebagai persiapan keberangkatannya. Tetesan air mata ibu pun mengiringi keberangkatan Nining ke bandara. Dengan modal hasil sawah ayahnya yang dijual, serta kemantapan hati untuk mengadu nasib ke negeri orang, Nining akhirnya berangkat meninggalkan tanah kelahiran serta keluarga besarnya.
“Jaga dirimu baik-baik, Nduk. Carilah tempat dan teman yang baik. Jangan mengikuti teman yang tidak baik dan jangan berada di tempat yang seharusnya kamu tidak berada. Berdoa selalu dan jangan lupa sholat,” kata ibunya seraya memeluk erat Nining.
“Iya, Bu. Nining akan selalu ingat kata-kata ibu. Ibu tidak usah menangis, aku akan menjaga diri sebaik mungkin,” kata Nining sambil mengusap air mata ibunya.
“Jangan lupa lho, Mbak. Belikan HP buat Ajeng yang bagus,” kata Ajeng yang ikut mengantarkannya ke bandara.
“Iya, Dik. Doain Mbak ya…” kata Nining sambil mengacak-acak rambut Ajeng. “…belajar yang rajin siapa tahu besok menyusul Mbak.”
“Oke, Mbak,” kata Ajeng bersemangat.
**********
Malaysia begitu indah bagi orang desa yang pemandangan sehari-harinya hanyalah pegunungan dan hamparan sawah yang luas dan menghijau. Kotanya tertata rapi dengan gedung-gedung tinggi dan megah menjulang di mana-mana. Jalan raya yang ramai serta kendaraan yang mewah, selalu berseliweran memadati ruas-ruas kota. Menara Petronas, yang konon merupakan gedung tertinggi di dunia itu, kini menjulang angkuh di sana. Kedua puncak lancipnya seakan hendak menunjukan tingginya peradaban bangsa Malaysia.
Waktu pun merayap.
Setahun sudah Nining berada di negara itu dan ia mulai merindukan tanah kelahirannya yang asri nan hijau. Dia juga merasa tidak betah hidup di sana. Rasa tidak betahnya bermula ketika merasa gaji yang ia dapatkan tidak sesuai dengan yang dijanjkan perusahaan karena dipotong untuk ini dan itu. Potongan yang paling besar adalah untuk biaya permit[1] kepada pemerintah Malaysia. Belum lagi potongan untuk PJTKI setiap bulan.
Suatu malam, ketika dia pergi ke mal bersama teman-temannya, dia berjumpa dengan seorang bapak-bapak yang kemudian menawarinya untuk bekerja di perusahaanya dengan gaji yang jauh lebih besar daripada gajinya saat ini serta tanpa ada potongan macam-macam. Tanpa pikir panjang, Nining pun menerima tawaran itu hingga pada akhirnya, Nining resmi menjadi TKI ilegal. Pekerjaannya sekarang tidak terlalu berat seperti di tempat kerja Nining sebelumnya. Dia bekerja di sebuah bar yang lumayan besar namun, ada satu hal yang masih ia rasa berat untuk melakukannya, yaitu harus melepas jilbabnya ketika bekerja. Dia juga harus berpakain mini yang membuatnya risih pada awal-awal bekerja, namun, lama-kelamaan ia semakin terbiasa pada penampilan seperti itu. Dari pekerjaanya, dia bisa mendapatkan penghasilan dua kali lipat dari pekerjaannya sebelumnya. Terlebih lagi ketika dia mendapatkan uang tambahan dari pengunjung yang rata-rata adalah bos-bos besar, para pengusaha dan orang-orang elit Malaysia.
Ketika tabungan Nining sudah banyak, dia meminta izin untuk pulang ke Indonesia namun bosnya tidak mengizinkan. Nining tak habis akal. Segala bujuk rayu pun ia keluarkan hingga akhirnya diizinkan pulang dengan syarat bosnya harus menemani ke Indonesia baru kemudian kembali lagi ke Malaysia.
********
Nining pulang dengan ditemani bosnya yang sebenarnya membuat perasaannya tidak terlalu nyaman, tapi apa boleh buat, karena bosnya lah yang selama ini telah mengubah hidupnya. Sesampainya di rumah, Nining disambut keluarga dengan perasaan rindu mengingat sudah dua tahun lebih dia meninggalkan kampung halaman. Walau begitu, mereka terheran-heran dengan perubahan Nining yang drastis. Tidak lagi berjilbab dan berpakaian yang sama sekali jauh dari penampilannya sebelum ke Malaysia dua tahun lalu.
“Ini pimpinan perusahan tempatku kerja, Bu.” kata Nining ketika ibunya tiba-tiba menariknya ke dalam rumah.
“Kenapa dia ikut kamu ke sini?”
“Dia ingin melihat tempat tinggal Nining sekalian mengajak Ajeng dan Mbak Jum ke sana.”
“Mengajak Ajeng? Untuk bekerja? Tapi adikmu masih sekolah, Nduk,” tanya ibunya keheranan.
“Di perusahaan tempat Nining kerja, siapa pun boleh bekerja walau tidak lulus sekolah sekalipun. Kalau pada akhirnya Ajeng mau ke Malaysia, kenapa harus menunggu sampai lulus?” kata Nining menjelaskan.
“Kalau memang seperti itu, ibu hanya bisa mempercayaimu untuk menjaga adikmu di sana.”
Setelah membelikan ayahnya motor baru dan meninggalkan sejumlah uang untuk memperbaiki rumah serta tinggal di rumahnya selama lima hari, Nining kemudian kembali lagi ke Malaysia dengan mengajak Ajeng dan Mbak Jum. Dengan iming-iming gaji yang besar, Ajeng rela meninggalkan bangku sekolahnya untuk ikut kakaknya ke Malaysia.
Sesampainya di tempat kerja, Ajeng dan Mbak Jum heran. Mereka tidak menyangka Nining kerja di tempat seperti itu. Apalagi ketika melihat orang-orang yang berkunjung ke tempat itu. Mereka lebih seperti para hidung belang yang mencari wanita penghibur untuk diajak berfoya-foya. Pantas saja Nining tidak berjilbab ketika pulang bahkan cara berpakaianya pun sudah seperti orang kota.
“Ning, kenapa kamu mau kerja di tempat seperti ini? Ini sama sekali bukan tempat kerja yang aku inginkan,” kata Mbak Jum yang mulai tidak nyaman setelah tiga hari bekerja. Ajeng, yang benar-benar tidak nyaman dengan pakaiannya yang ketat dan minim serta kelakuan para pengunjung yang tidak segan-segan memegang tangannya, hanya bisa mengeluh tiap malam.
Suatu malam ketika mereka genap satu bulan bekerja, terjadi keributan di tempat mereka bekerja. Ajeng mendapat perlakuan yang tidak sopan dari salah satu pengunjung. Sehabis mengantar minuman, pengunjung itu memberinya beberapa lembar uang ringgit. Kemudian orang itu meremas bokong Ajeng. Spontan Ajeng mengambil salah satu gelas di meja kemudian menumpahkannya ke wajah orang itu.
“Dasar Indon[2] tak tahu diuntung! Berani-beraninya awak[3] berlaku seperti itu!” bentak si om-om genit sembari menampar muka Ajeng. Buru-buru Nining menghampiri dan menengahinya.
“Heh Tuan, jangan macam-macam dengan adik saya!” kata Nining sambil mengangkat adiknya yang jatuh.
“Kamu juga ingin saya tampar?” Satu tamparan lagi melayang ke pipi Nining. Mbak Jum pun ikut menghampiri mereka. Bosnya datang meminta maaf kepada pengunjung itu dan kemudian menyeret mereka ke ruang belakang.
“Orang itu sudah berbuat kurang ajar kepada adik saya. Kami mau berhenti bekerja,” kata Nining ketika sudah sampai di belakang.
“Apa yang kalian lakukan? Kalian yang kurang ajar. Kalian sudah mempermalukan bar ini dengan perbuatan adikmu…” kata bosnya, “…aku tidak akan membiarkan kalian pergi begitu saja dari sini.” Dia kemudian memukuli ketiganya dengan kasar, bahkan tak berhenti walau mereka sudah menjerit-jerit kesakitan.
*******
“Mbak? Mbak kenapa?” kata-kata Ajeng mengagetkan Nining dari lamunannya.
“Kita harus keluar dari sini, Ajeng…” Namun belum selesai Nining berkata, tiba-tiba lampu kamar di mana mereka disekap, menyala.
 “Ssssstt.. .aku akan sembunyi, kamu di sini saja.” Nining buru-buru bersembunyi saat seseorang masuk membawa senampan makanan. Nining pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang dan langsung memukul orang itu tepat di kepalanya.
“Bangunkan Mbak Jum, ayo kita pergi dari sini.”
Ajeng pun langsung membangunkan Mbak Jum. Kemudian mereka semua berlari sekencang-kencangnya menjauhi rumah itu sampai berada di tepi jalan yang ramai.
“Ayo kita ke KBRI. Cepat!” Nining langsung berlari menyeberang tanpa memperhatikan laju kendaraan yang ramai di hadapannya dan yang terjadi selanjutnya hanyalah kegelapan menyelimutinya. Ya, kegelapan setelah satu benturan keras melemparkan tubuhnya ke udara.
*********
Keesokan harinya, ribuan kilometer dari Malaysia, ibu Nining sedang asyik menonton berita yang sudah menjadi teman setia ibu Nining sembari melahap sarapan paginya. Berita tentang TKW akhir-akhir ini memang sedang hangat menjadi headline news di acara tersebut dan berita kali ini bertajuk, “TKI tewas tertabrak mobil di Malaysia”.
“Pak, anak kita Pak!” kata ibu Nining setengah menjerit.
“Ada apa dengan anak kita, Bu?” jawab Bapak yang masih berada di dapur.
“Anak kita ada di televisi. Nining tertabrak mobil, Pak.” jawab ibu Nining yang terus meyakinkan dalam hati bahwa itu bukanlah anaknya. Hatinya terus memberontak namun apa daya, tangis pun pecah tatkala melihat Ajeng dan Mbak Jum sedang menangis di dekat jenazah wanita itu. Jenazah Nining.




[1] Pajak tenaga kerja asing yang berada di Malaysia.
[2] Sebutan untuk orang Indonesia di Malaysia
[3] kamu