Thursday, April 4, 2013

Hidup adalah Perjuangan



By: Ryo Potter

Suatu pagi, aku melintas di sebuah masjid. Kala itu matahari telah setinggi hasta. Aku menghentikan motorku di depan masjid tersebut. Lalu aku melepas sepatu dan bergegas menuju tempat wudhu. Kutunaikan sholat empat rokaat sebagai bagian dari ikhtiarku mencari karunia-Nya. Empat roka’at berlalu dan aku teruskan dengan berdzikir memohon kemudahan rezeki kepada Alloh SWT.
Sementara aku berdoa, kudengar sayup-sayup seseorang  meneriakkan sesuatu. “Sol Spaaat….” Begitu bunyi teriakan orang tersebut. “Soel Spaaaaat….” Kira-kira begitu yang aku dengar. Kemudian aku selesaikan doaku lalu kuusapkan kedua tanganku ke muka.
Setelah selesai sholat Dhuha, aku penasaran dengan suara tadi. Orang tersebut masih terus meneriakkan  kata-kata tadi. Apa maksudnya?
Setelah aku cari-cari tenyata suara itu berasal dari tukang sol sepatu yang biasa berkeliling kampung untuk menawarkan jasanya. Ketika melintas di depan masjid, orang tersebut memandangiku sejenak. Lalu dia melangkah menuju ke arahku.
“Permisi, Mas. Numpang sholat,” kata orang tersebut sambil meletakkan peralatan sol sepatu di sampingnya.
“Oh, monggo, Pak. Silakan,” jawabku.
Orang tersebut kemudian pergi mengambil air wudhu dan melaksanakan dua roka’at sholat Dhuha. Diam-diam aku kagum dengan orang tersebut. Disela-sela pekerjaannya yang menurutku sangat berat, orang tersebut masih bisa menyempatkan diri untuk mengingat Alloh. Aku pun tak beranjak dari dudukku di serambi masjid.
“Lho, kok belum pergi, Mas?” tanya orang tersebut.
“Emm, belum, Pak. Masih ingin duduk-duduk dulu,” jawabku. “O ya, kalau boleh tahu Bapak tinggal di mana?” tanyaku sebelum bapak tersebut sempat bicara.
“Dekat sini , Mas. Cuma di ujung jalan ini ada kompleks kos-kosan. Nah, di situlah saya tinggal,” kata Bapak tersebut sambil menunjuk kearah ujung jalan.
Dilihat dari wajahnya, Bapak tersebut kira-kira usia 50an. Kalau dia hanya tinggal di kos, lantas di mana istri dan anak-anaknya? “Bapak tinggal dengan siapa?” tanyaku kemudian.
“Saya tinggal bersama istri dan seorang anak saya, Mas. Kalau siang begini kos-kosan saya tidak ada orang karena istri saya juga bekerja di Loundry seberang jalan, sedangkan anak saya pergi ke sekolah,” papar Bapak tersebut.
“Bapak sudah berapa lama bekerja? Kenapa Bapak memilih kerja di sini?” tanyaku kembali.
Bapak tersebut tidak langsung menjawab. Dia menerawang jauh ke depan. “Saya sudah hampir sepuluh tahun di sini, Mas. Semenjak menikah saya dan istri saya langsung merantau ke sini,” jawab bapak tersebut masih terus menerawang, seakan dia membayangkan masa lalunya. “Kami tidak punya pilihan lain, Mas. Ketrampilan seperti ini tidak laris kalau hanya di kampung,” lanjutnya.
“Kalau di sini mendingan, Mas. Sehari saya bisa ngesol dua atau tiga pasang sepatu. Di kampung, paling cuma empat pasang. Itu saja dalam seminggu,” kata bapak tersebut meneruskan.
“Biaya sol berapa untuk sepasang, Pak?” tanyaku kemudian.
“Ya tergantung, Mas. Kalau biasa Rp 5.000, kalau sulit ya paling Rp 10.000.” jawabnya.
Berarti jika rata-rata bapak tersebut dapat dua sampai tiga pasang, maka penghasilannya antara Rp 10.000-Rp 20.000. Kecil sekali ukuran penghasilan orang yang tinggal di kota. Masih harus membiayai kos-kosan dan biaya hidup keluarga serta biaya sekolah anaknya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bapak tersebut bisa bertahan di tengah keadaan ekonomi bangsa ini yang kian sulit.
“Memang hasilnya tak seberapa, tapi saya harus tetap bekerja, Mas. Karena memang hidup ini harus terus dijalani dan harus di perjuangkan,” kata bapak tersebut. Aku termenung dengan kata-kata bapak itu.
“Sudah dulu ya, Mas. Saya mau melanjutkan pekerjaan saya. Mumpung masih pagi,” kata bapak itu mengagetkanku. “Monggo,” lanjutnya.
Aku masih termenung memikirkan kata-kata orang tersebut. Hidup ini harus dijalani dan diperjuangkan. Kata-kata it terus terngiang di benakku.
“Soel spaaaat…..” bapak tersebut mulai meneriakkan kata itu lagi. “Soel spaaat…” terus begitu hingga akhirnya lenyap di sela-sela perumahan kota yang sesak.
Ya. Hidup ini harus terus dijalani karena memang hidup ini adalah perjuangan.
Kata-kata bapak tersebut telah memberikan suntikan semangat ke dalam jiwaku. Lalu kulangkahkan kakiku menuju motorku dan kunyalakan. Lalu aku bertekad akan terus memperjuankan hidup ini. Kujalankan motorku dan siap untuk bekerja menjemput karunua-Nya.
Jogja, 4 April 2013 

2 comments: