Tuesday, April 2, 2013

Hilangnya Budaya Malu



By: Ryo Potter

Sekarang ini budaya malu telah menjadi hal yang langka di negeri ini. Bagaimana tidak? Orang kini tak lagi malu menyandang status “tersangka” dalam kasus korupsi. Mereka masih bisa tersenyum di depan kamera. Bahkan ada yang dengan pede mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah, tak peduli seberapa banyak bukti yang memberatkan mereka. Padahal jelas-jelas mereka ini adalah pencuri, pencuri uang negara, uang rakyat.
Kalau mereka memang pencuri, lantas apa beda mereka dengan pencuri-pencuri kelas teri. Ya, tentu ada bedanya. Tahukan bahwa pencuri-pencuri kelas teri lebih beradab ketimbang para koruptor? Tahukah bahwa mereka masih memiliki rasa malu ketimbang tikus-tikus berdasi pengemplang uang rakyat tersebut? Ya, mereka memang tak banyak yang mengenal, namun mereka masih memiliki yang namanya “rasa malu”. Lihat saja ketika mereka diliput oleh kamera. Mereka menyembunyikan wajah mereka dengan tangan. Mereka juga menolak diwawancarai oleh wartawan.
Budaya malu juga kian hilang dari saudara-saudara kita yang sedang duduk di kursi empuk Senayan. Masih ingat dengan aksi saling jotos waktu sidang DPR? Ya, mereka tak lebih dari kawanan bocah yang sedang berkelahi berebut mainan. Mereka juga tak kalah ubahnya dengan pelajar-pelajar kita yang suka melakukan tawuran. Kalau menjadi wakil rakyat saja sudah seperti itu bagaimana dengan rakyatnya? Wajar jika kemudian banyak terjadi tawuran antar warga, antar remaja sekolah, antar mahasiswa. Seharusnya mereka malu dengan ulah mereka. Seluruh publik di negeri ini menyaksikan tingkah mereka.
Di negeri yang dikenal dengan masyarakatnya ramah dan sopan santun ternyata mulai pudar budaya malu. Tampaknya bangsa ini perlu mawas diri untuk menghadirkan kembali budaya malu ini. Hal ini bisa dilakukan mulai dari diri sendiri. Malu pada diri sendiri menjadi dasar untuk menumbuhkan budaya malu kepada orang lain dan rasa malu pada tataran tertinggi adalah malu kepada Allah, Sang Khalik. Karena segala perbuatan yang tampak maupun tidak tampak di mata manusia akan tampak seluruhnya di hadapan Allah. Jika kita sudah memiliki perasaan malu kepada Allah, maka kita pun akan selalu mempertimbangkan setiap perilaku kita serta akan mempertimbangkan pula konsekuensi dari setiap perbuatan kita.
Jogja, 2nd April 2013

No comments:

Post a Comment