By: Ryo Potter
Sekarang ini budaya malu telah menjadi hal yang
langka di negeri ini. Bagaimana tidak? Orang kini tak lagi malu menyandang
status “tersangka” dalam kasus korupsi. Mereka masih bisa tersenyum di depan
kamera. Bahkan ada yang dengan pede
mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah, tak peduli seberapa banyak bukti yang memberatkan
mereka. Padahal jelas-jelas mereka ini adalah pencuri, pencuri uang negara,
uang rakyat.
Kalau mereka memang pencuri, lantas apa beda mereka
dengan pencuri-pencuri kelas teri. Ya, tentu ada bedanya. Tahukan bahwa
pencuri-pencuri kelas teri lebih beradab ketimbang para koruptor? Tahukah bahwa
mereka masih memiliki rasa malu ketimbang tikus-tikus berdasi pengemplang uang
rakyat tersebut? Ya, mereka memang tak banyak yang mengenal, namun mereka masih
memiliki yang namanya “rasa malu”. Lihat saja ketika mereka diliput oleh
kamera. Mereka menyembunyikan wajah mereka dengan tangan. Mereka juga menolak
diwawancarai oleh wartawan.
Budaya malu juga kian hilang dari saudara-saudara
kita yang sedang duduk di kursi empuk Senayan. Masih ingat dengan aksi saling
jotos waktu sidang DPR? Ya, mereka tak lebih dari kawanan bocah yang sedang
berkelahi berebut mainan. Mereka juga tak kalah ubahnya dengan pelajar-pelajar
kita yang suka melakukan tawuran. Kalau menjadi wakil rakyat saja sudah seperti
itu bagaimana dengan rakyatnya? Wajar jika kemudian banyak terjadi tawuran
antar warga, antar remaja sekolah, antar mahasiswa. Seharusnya mereka malu
dengan ulah mereka. Seluruh publik di negeri ini menyaksikan tingkah mereka.
Di negeri yang dikenal dengan masyarakatnya ramah dan
sopan santun ternyata mulai pudar budaya malu. Tampaknya bangsa ini perlu mawas
diri untuk menghadirkan kembali budaya malu ini. Hal ini bisa dilakukan mulai
dari diri sendiri. Malu pada diri sendiri menjadi dasar untuk menumbuhkan
budaya malu kepada orang lain dan rasa malu pada tataran tertinggi adalah malu
kepada Allah, Sang Khalik. Karena segala perbuatan yang tampak maupun tidak
tampak di mata manusia akan tampak seluruhnya di hadapan Allah. Jika kita sudah
memiliki perasaan malu kepada Allah, maka kita pun akan selalu mempertimbangkan
setiap perilaku kita serta akan mempertimbangkan pula konsekuensi dari setiap
perbuatan kita.
Jogja, 2nd
April 2013

No comments:
Post a Comment