Sunday, January 5, 2014

Resensi Novel



Negeri Para Bedebah


Judul  : Negeri Para Bedebah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 440 halaman
Sumber gambar: http://www.gramedia.tumblr.com

Pernahkan anda menonton film James Bond? Agen rahasia Inggris ini, dalam film-filmya, memiliki peran untuk menjalankan misi-misi berbahaya dengan taruhan nyawa seperti kejar-kejaran dengan penjahat, lompat dari gedung atau bahkan pesawat, berkelahi dengan lawan-lawannya, berhadapan dengan kelompok bersenjata dan masih banyak adegan berbahaya lainnya. Namun, sebagai tokoh utama, James Bond selalu bisa melaksanakan misinya dengan sukses.
Seperti James Bond, Thomas, sang tokoh utama dalam novel Negeri Para Bedebah ini juga melakukan misi-misi serupa. Dilatarbelakangi oleh kasus Bank Semesta yang akan ditutup oleh pemerintah, Thomas berusaha mati-matian untuk menyelamatkan bank tersebut. Diantara yang ia lakukan adalah dia melarikan pimpinan Bank Semesta yang telah ditetapkan sebagai tersangka, dia kemudian harus kongkalikong dengan petugas bandara, kepolisian, pengusaha, media, partai politik dan orang-orang berpengaruh di negeri yang ia tinggali, Negeri Para Bedebah.
Di dalam negeri ini, uang dan kekuasaan adalah segalanya. Asalkan seseorang memiliki salah satu atau keduanya, maka dia akan melakukan apapun yang ia mau. Tak peduli apakah merugikan orang lain ataukah tidak. Bagi orang kaya, mereka tak peduli dengan orang miskin. Bagi penguasa, mereka tak peduli dengan kepentingan rakyat, yang ada hanyalah kepentingan pribadi dan golongan. Tapi satu hal yang menarik di dalam negeri para bedebah ini, bahwa petarung sejati tak kan pernah berkhianat.
Seperti novel-novel lainnya, Tere Liye kembali menghadirkan novel fiktif tentang kehidupan. Melalui novel ini, sang penulis menyampaikan bahwa masa lalu tak kan menjamin kesuksesan hidup seseorang di masa depan. Hanya dengan menjadi petarung sejati, dia akan mampu melewati setiap tahap kehidupan yang dilalui. Dengan menjadi petarung sejati, seseorang akan menjadi pribadi yang tangguh, melakukan perbuatan berdasarkan benar dan salah, menganggap lawan-lawannya sebagai kawan, dan petarung sejati akan selalu menepati janji.
Membaca novel ini mengingatkan kita akan kasus Bank Century. Di dunia nyata, Bank Century adalah bank yang hampir pailit dan akan segera ditutup oleh pemerintah karena dikhawatirkan akan berdampak sistemik pada perekonomian nasional. Pemerintah kemudian memberikan dana talangan atau Bailout kepada bank tersebut agar bisa mengembalikan uang nasabah. Namun kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik kasus Bank Century, yaitu sebuah skandal para bedebah negeri ini. Penulis dengan lihai mampu menghubungkan kasus tersebut dengan tokoh utama. Bank Semesta yang menjadi representasi Bank Century, harus diselamatkan. Melalui Thomas, penulis mengungkap rentetan skandal yang terjadi dalam kasus Bank Semesta.
Uniknya, penulis tidak menyebutkan secara jelas identitas setiap tokoh kunci dalam penyelamatan Bank Semesta. Namun dengan sendirinya, pembaca bisa menebak siapa tokoh tersebut, diantaranya Menteri Keuangan, Gubernur Bank Sentral, Sang “Putra Mahkota” penguasa negeri tersebut, partai berkuasa, serta masih banyak tokoh yang dilibatkan dalam cerita ini. Ironisnya, pembaca sendiri sulit menebak siapakan sebenarnya Thomas. Siapakah dia dalam dunia nyata.
Novel ini menyajikan kisah fiktif dengan latar belakang kisah nyata. Meski begitu, kisah tersebut menjadi lebih hidup dan lebih seru dibanding di dunia nyata. Novel ini memberi banyak nasehat serta pengetahuan kepada pembaca. Diantaranya pengetahuan tentang ilmu ekonomi dan politik. Bagaimana kedua bidang tersebut sangat berhubungan erat dengan uang dan kekuasaan.
Sayangnya, alur cerita dalam novel ini begitu cepat dengan konflik yang sederhana, serta ending yang menggantung. Meskipun begitu, pembaca tetap dibuat berdebar-debar dengan aksi tokoh utama. Pembaca dibuat seakan ikut berlari bersama tokoh utama dan ingin secepatnya menyeleseaikan cerita untuk mengetahui siapakan actor kunci dalam kasus tersebut.

No comments:

Post a Comment